Aduhai, alangkah baiknya jika aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan.” Demikian Maryam binti Imran mengerang kesakitan saat melahirkan baginda Nabiyullah Isa alaihisalam. Kisah ini Allah abadikan dalam Quran surat Maryam ayat 19 hingga ayat 22.

Berdasarkan data yang dilansir WHO paling tidak ada 830 perempuan yang meninggal karena komplikasi saat melahirkan. Angka itu pun sebetulnya sudah berkurang 44% sejak tahun 1990 dengan berbagai antisipasi medis beserta penanganan yang professional dan tekontrol.  

Di Indonesia sendiri berdasarkan data Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 menyebutkan bahwa Angka Kematian Ibu (AKI) mencapai 359 kasus per 100.000 kelahiran.

Adapun bagi ibu yang selamat, setidaknya akan mengalami beberapa resiko yang tidak bisa dianggap sepele sebut saja diantaranya anoksia myometrium (rasa nyeri akibat kontraksi otot), peregangan cervix (rasa nyeri akibat peregangan punggung), penekanan pada ganglia saraf, distensi otot-otot punggung dan perineum, penekanan pada urethra, kandung kemih, dan rectum, tarikan dan peregangan pada ligamentum penyangga, serta tarikan pada tuba, ovarium dan peritonem.

Dahsyatnya melahirkan seorang anak hingga seorang ibu harus mempertaruhkan nyawanya. “Tanpa matahari,” Demikian Maxim Gorky mengungkapkan perjuangan seorang ibu dalam syairnya. “bunga tidak akan bisa mekar dengan sempurna. Tanpa perempuan tidak akan ada cinta dan tanpa seorang ibu tidak akan pernah ada sosok pahlawan sejati”.

Kerelaan mereka berlemah-lemah untuk mengandung dan melahirkan digambarkan oleh Allah dalam firman-Nya“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah…” (QS : Luqman : 14)

Selesai melahirkan ibu juga harus bersusah-susah menyusui dan membesarkan hingga dewasa dengan pendidikan yang terbaik.

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai. berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”” (QS :  Al-Ahqaaf : 15)

Jika kita tahu demikian beratnya menjadi seorang, ibu masihkah kita berani mengatakan “ah” apalagi membentaknya? Naudzubillah

“Dan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Ya Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.’” (Q.S. Al-Isra : 23-24).

Terakhir mari kita renungkan bersama puisi yang tak ku tahu siapa penulisnya ini,

Ketika aku sudah tua, bukan lagi aku yang semula.
Mengertilah, bersabarlah sedikit terhadap aku.

Ketika pakaianku terciprat sup, ketika aku lupa bagaimana mengikat sepatu, ingatlah bagaimana dahulu aku mengajarmu.

Ketika aku berulang-ulang berkata-kata tentang sesuatu yang telah bosan kau dengar, bersabarlah mendengarkan, jangan memutus pembicaraanku.

Ketika kau kecil, aku selalu harus mengulang cerita yang telah beribu-ribu kali kuceritakan agar kau tidur.

Ketika aku memerlukanmu untuk memandikanku, jangan marah padaku.
Ingatkah sewaktu kecil aku harus memakai segala cara untuk membujukmu mandi?

Ketika aku tak paham sedikitpun tentang tekhnologi dan hal-hal baru, jangan mengejekku.
Pikirkan bagaimana dahulu aku begitu sabar menjawab setiap “mengapa” darimu.

Ketika aku tak dapat berjalan, ulurkan tanganmu yang masih kuat untuk memapahku.
Seperti aku memapahmu saat kau belajar berjalan waktu masih kecil.

Ketika aku seketika melupakan pembicaraan kita, berilah aku waktu untuk mengingat.
Sebenarnya bagiku, apa yang dibicarakan tidaklah penting, asalkan kau disamping mendengarkan, aku sudah sangat puas.

Ketika kau memandang aku yang mulai menua, janganlah berduka.
Mengertilah aku, dukung aku, seperti aku menghadapimu ketika kamu mulai belajar menjalani kehidupan.

Waktu itu aku memberi petunjuk bagaimana menjalani kehidupan ini, sekarang temani aku menjalankan sisa hidupku.

Beri aku cintamu dan kesabaran, aku akan memberikan senyum penuh rasa syukur.

Mang Agus Saefullah

Marbot Masjid Al-Furqon

Markaz Dakwah PD. Persis Sumedang, 28 September 2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *