Dalam “Adabul Mufrad” diriwayatkan bahwa Abu Burdah melihat Ibnu Umar dan seorang laki-laki Yaman yang sedang menggendong ibunya sambil bertawaf. Sayup-sayup dari kejauhan terdengar ia melantunkan syair, “Saya akan menggendongnya tiada henti, ketika penumpang beranjak, saya tidak akan pergi. Ibuku mengandung dan menyusuiku lebih dari itu, Allah Rabbku yang Mulia dan Mahabesar.” Lalu laki-laki itu menghampiri Ibnu Umar dan bertanya kepadanya, “apakah segala yang telah ia lakukan tersebut cukup membalas pengorbanan ibunya? Wahai Ibnu Umar“. Ia pun menjawab,“Sama sekali tidak.

Bagi Ibnu Umar, bagi laki-laki itu juga bagi kita semua, orang tua adalah mutiara kehidupan. Tanpa keduanya kehidupan adalah kehampaan, sama sekali tiada nilai. Sungguh mulianya seseorang yang mengabdi kepada orang tuanya sampai-sampai Uwais Al-Qarni tekenal di langit, bahkan bisa “menggantikan kewajiban berperang”.

Adalah Kilab bin Umaiyah seseorang yang sehari-harinya memerah susu untuk diminum oleh kedua orang tuanya, memberi makan dan memberikan pelayan terbaik, suatu saat harus pergi untuk ikut berperang bersama kaum muslimin lainnya dalam suatu peperangan di masa Khalifah Umar bin Khatab.

Sebelumnya dua orang utusan khalifah menjemput Kilab untuk ikut berperang. Kilab pun pergi dan menitipkan orang tuanya kepada pesuruh. Kilab beharap ia tetap bisa mengabdi kepada orang tuanya melalui seseorang yang ia bayar dengan tanpa meninggalkan kewajiban berjihad bersama kaum muslimin lainnya.

Namun, selang beberapa waktu terdengar berita bahwa ayah dan ibunya Kilab begitu kesulitan tanpa kehadiran anaknya. Pelayanan yang diberikan pesuruh tidak seperti yang dilakukan Kilab. Selian itu, juga betapa rindunya mereka kepada Kilab. Mendengar hal itu Khalifah umar menangis terharu lalu ia bertemu dengan ayahnya Kilab –Umayah bin Askar. Umar pun berkata kepada Kilab, “Wahai Kilab, temani kedua orang tuamu.” Kilab pun kembali untuk membersamai keduanya dan tidak pernah lagi meninggalkan mereka sampai wafat.

Kisah serupa juga terjadi pada seseorang di masa Rasulullah sebagaimana Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash mengisahkan, dia berkata (bahwa) ada seorang laki-laki mendatangi Nabi SAW kemudian meminta izin (kepada beliau SAW) untuk berjihad. Beliau SAW pun bertanya, “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” Laki-laki itu menjawab, “Ya.” Nabi SAW bersabda, “Maka, kepada keduanya itulah kamu berjihad.” Demikian Bukhari dan Muslim meriwayatkan.

Hadits di atas tentu saja dimaknai bagi mereka yang orang tuanya tidak bisa ditinggalkan karena uzur atau sama sekali tidak mengizinkan karena sangat membutuhkan pelayanan anaknya.

Dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW bersabda, “Celakalah ia, celakalah ia, celakalah ia!” Seseorang bertanya, “Siapa (yang celaka), wahai Rasulullah?” Beliau SAW bersabda, “Orang yang mendapati kedua orang tuanya ketika mereka telah berusia lanjut baik salah satu atau keduanya (namun orang itu tidak berbakti kepada orang tuanya), maka ia tidak akan masuk surga” Demikian Imam Muslim meriwayatkan.

Kebangkitan Islam di Eropa ditandai dengan semakin meningkatnya populasi Islam, teutama di Inggris dan Perancis. Bahkan menurut situs “The Sun”, beberapa wilayah di London hampir 50 persen penduduknya beragama Islam. Angka ini merupakan analisa Office for National Statistics (ONS). Melesatnya penduduk muslim di eropa juga diingiringi dengan meningkatknya trend sekolah Islam, bahkan juga dminiati oleh orang-orang non muslim. Dalam sebuah percakap seseorang pernah bertanya kepada orang tua yang tidak beragama islam namun menyekolahkan anaknya ke sekolah islam, ia menjawab “aku melihat anak-anak di anatara orang Islam tidak menitipkan orang tua mereka ke panti jompo, dan aku tidak mau mengakhiri hidup di sana”.

Dalam ajaran Islam, berbakti kepada orang tua bukan semata-semata kewajiban melainkan di sanalah pundi-pundi pahala yang harus kita gunakan selagi mereka masih bersama. Terlalu saying untuk dilewatkan, terlalu saying untuk disia-siakan.

Besarnya pahala yang didapatkan, luasnya hikmah yang dituai, juga mustajabnya doa-doa mereka sampai-sampai Iyas bin Muawiyah menangis ketika ibunya wafat. Lalu seseorang bertanya kepadanya, “Mengapa engkau menangis?” Beliau menjawab, “Aku memiliki dua buah pintu yang terbuka untuk menuju surga dan sekarang salah satu pintu tersebut sudah tertutup.” Demikian Ibnu Aljauzi mengisahkan dalam kitab Bir wasilah.

Janganlah kita lengah! jangan lah kita terlena dengan kesibukan-kesibukan. Sementara pandangan kita luput saat terpancar dari air wajah mereka pahala yang agung dan bergegaslah menghampirinya “saat pintu surga tebuka”.


Mang Agus Saefullah

Bersama Ibunda Maryam binti Sukarya,

Allahumma fighfirlii wa liwaa lidhayya warham humaa kamaa rabbayaa nii shokhiroon 

Ditemani Istriku dan cucu-cucunya.

Pagi hari di Ciater Sumedang, 27 September 2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *