“Ohh, ternyata jualan buku yaa…” Sebuah komentar dalam status akun media sosial saya yang berisi rencana sampul buku. Secara umum semua bebas berkomentar apa saja yang ada di dalam hatinya. Sang penerima pesan komentar pun sama, mempunyai persepsi yang bebas untuk menerima. Jadi komentar ya biarkan saja. Untuk berhasil tidak harus baperan. Nikmati komentar laksana tambahan bumbu kehidupan. Ini akan semakin memberi rasa atas apa yang kita produksi.

Sepintas memang pertanyaan biasa, namun mendalam. Makna mendalam bisa saja tidak sama bagi yang lain. Sebuah proses yang telah dilalui dalam memproduksi tulisan cukup dengan satu komentar. Apresiasi pada produk tulisan memang masih tipis di negeri +62 ini. Bahkan dalam sebuah meme berlatar foto Andrea Hirata kiriman seorang teman penulis berbunyi ‘ menjual buku di negara yang rakyatnya tidak suka membaca adalah tindakan heroikn’ Maka lewati komentar negatif dengan terus menulis.

Hasil dari aktivitas menulis adalah rangkaian kata di atas kertas. Meskipun untuk saat ini telah tersedia platform digital. Ia berisi gagasan sekaligus harapan dari sang penulis. Inilah yang menjadi tujuan dari menulis. Adakalanya ia juga cerita hasil imaji sang pujangga. Harapan, gagasan, dan cerita inilah yang dibawa. Sebagai sebuah hasil inilah yang ingin disajikan para penulis. Apresiasi diserahkan kepada para pembacanya.

Komentar negatif selalu ada dalam segala hal. Nabi saja dikomentari negatif, apalagi seorang penulis pemula. Tanpa kritik tidak akan mendewasakan diri. Melawan kritik terbaik adalah dengan aksi menulis itu sendiri. Keyakinan bahwa ada kemnfaatan pada tulisan yang diproduksi dapat menjadi tameng terhadap kritik. Anti kritik juga tidaklah positif. Kritik bukanlah sesuatu yang haram. Terpenting adalah menghadapi kritik dengan bijaksana dan tetap produktif.

Saatnya menghadapi cibiran dengan semangat. Tidak ada ketajaman tanpa tempaan asah. Semua melewati proses. Jangan berhenti menulis. Sejatinya menulis itu mengukir diri. Selalu ada tahapan yang mesti dilewati. Penilaian negatif dan positif selalu ada. Apresiasi khalayak dapat dijadikan bahan refleksi, namun kendali tetap ada pada sang penulis. Ia bertanggung jawab mutlak atas yang ditulisnya. Penulis yang menetapkan semangat untuk terus menulis ada harapan untuk berhasil. Jangan jadikan cibiran perintang perjalanan menulis Anda.

Penulis itu laksana koki atau bahkan seorang chef. Ia merangkai kata menjadi berasa. Hasil racikan ini dapat bernilai tinggi di jemari para ahli menulis. Sang chef mengerahkan kemampuan terbaiknya kepada penikmatnya. Saat berproses menulis diperlukan kecermatan. Ini karena berhubungan dengan rasa. Kualitas diri penulis dapat dibaca dari hasil karyanya. Pembaca sebagai penikmat bebas memberikan penilaian. Ada harga yang dibayar dari sebuah kesungguhan. Tidak berhenti sampai habis waktunya.

Kritik adalah warna-warni perjalanan hidup. Perbedaan pasti selalu ada, walaupun dalam produk buatan mesin sekalipun. Namun selalu ada harapan yang dibawa sang penulis. Inilah hal yang mampu membawa jemari tetap bergerak memproduksi kalimat demi kalimat. Harapan itu mampu menafikan kritik negatif. Saat harapan itu masih ada ia masih dapat terus ‘dijual’. Kritik adalah mata uang tukar dalam menulis.

Terus saja menulis, ambil yang baik tinggalkan yang buruk. Selama memberikan kemanfaatan jangan berhenti. Jika pun masih jauh manfaat itu untuk orang lain tidak mengapa. Sedikitnya menulis memberi manfaat diri untuk terasah. Ini akan kembali pada diri untuk semakin dewasa. Menulis menumbuhkan harapan, menyehatkan pikiran, dan menajamkan perasaan. So, juallah harapan dengan tulisan.

Singam Raya, Katingan, Kalteng. 25/9/2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *