Dr. Abdurrahman Ra’fat al-Basya dalam bukunyaShuwar Min Hayatit-Tabi’in”. Mengisahkan kisah indah cucu Sayidina Ali yaitu Ali bin Husein bin Ali yang juga dikenal sebagai Zainal Abidin.

Adalah Thawus bin Kaisan seorang tabiin saat itu ia melihat Ali bin Husen sedang berdoa dengan penuh harap dan ketakutan. Dilihatnya Ali bin Husein menangis tersedu-sedu seakan ia sedang dalam keadaaan tehimpit dan darurat.

Thawus pun mendekat ketika Ali bin Husein menghentikan tangisannya.

 “Wahai cucu Rasulullah!“ Sapa Thawus kepada Ali. ”Aku telah melihatmu dalam keadaanmu ini, padahal engkau memiliki tiga kedudukan yang mana aku berharap itu akan membebaskanmu dari apa yang engkau takuti itu”. “Apa itu wahai Thawus?” Kata Ali penasaran. “Pertama, engkau adalah cucu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Kedua, syafa’at kakekmu Shallallahu ‘alaihi wa Sallam itu untukmu. Dan ketiga, rahmat Allah”. Demikian jawaban Thawus dengan penuh penghormatan.

Ali pun menukas, “Sunguh nasabku kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tidaklah membuatku tenang setelah aku mendengar Firman Allah ta’ala, “Lalu apabila sangkakala telah ditiup, maka tidak ada lagi hubungan nasab di antara mereka pada hari itu (Kiamat),” (Q.S. Al-Mu’minun: 101).

Sedangkan syafa’at dari kakekku Shallallahu ‘alaihi wa Sallam untukku, maka Allah Yang Mahatinggi KalimatNya telah berfirman,“Dan mereka (para pemberi syafa’at) tidak akan bisa memberi syafa’at kecuali untuk orang yang diridhai Allah.” (Al-Anbiya`: 28).

Adapun terkait rahmat Allah, maka Dia telah berfirman,“Sesungguhnya rahmat Allah itu dekat kepada orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Al-A’raf: 56).”

Kisah di atas menyuguhkan betapa agungnya, keshalihan keduanya. Ali bin Husein yang secara Nasab terpaut hingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membuat ia jumawa lalu merasa aman seolah-olah dimaksum. Ia tetap berdoa kepada Allah agar diberi keselamatan baik di dunia maupun di akhirat.

Ali memberikan contoh kepada kita adab dalam berdoa yaitu. Sebagaimana diperintahkan dalam firman-Nya, “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan Tadharruan wa khufyatan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”. (Q.S. Al-A’raf: 55)

Tadharru kata Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz artinya penuh ketundukan, kerendahan diri, kepatuhan, dan harapan kepada-Nya.”

Adapun Imam Ath-Thabari memaknai tadharru sama dengan tadzallul yang juga berarti kerendahan dan kehinaan diri serta dan istiqamah dalam ketundukan diri di hadapan-Nya.

 “Bayangkan seseorang yang tenggelam di tengah lautan sedangkan yang ia hanya memiliki sebatang kayu yang digunakannya supaya terapung.” Demikian Imam Ahmad menganalogikan tadharru di hadapan Allah. “Gelombang lautan semakin mendorongnya pada kematian, maka betapa tulusnya ia berharap kepada Tuhan”. Lanjutnya.

Adapun khufyah kata Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz berarti menyembunyikan suaranya karena hal itu lebih dapat menjauhkan sifat riya’.

Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, sebagaimana riwayat Bukhari dan Muslim, ia berkata, “Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika kami menaiki lembah, kami bertahlil dan bertakbir, lalu suara kami keras. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, ‘Wahai sekalian manusia, bersikap lemah lembutlah dan pelankan suara kalian, sesungguhnya kalian bukanlah menyeru pada sesuatu yang tidak mendengar dan tidak ada. Allah itu bersama kalian. Allah itu Maha Mendengar dan Maha Dekat. Mahasuci nama-Nya dan Mahatinggi kemuliaan-Nya.’”

Dalam Q.S. Al-A;raf ayat 55 pada paruh akhir juga disebutkan bahwa Innallahua la yuhibbul mu’tadin yang berarti sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Melampaui batas dalam berdoa kata Imam As-Sadi dalam Tafsirnya berarti (1)  Meminta sesuatu yang tidak layak untuknya, (2)  Memfasih-fasihka atau mereka-reka ucapan saat berdoa (agar dipuji manusia), (3)  Mengeraskan suara berlebihan.


Mang Agus Saefullah

Marbot Masjid Al-Furqon

Pojok Masjid Asma Sumedang, 26 September 2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *