Menikmati sebuah proses dengan rasa syukur akan membawa kebahagiaan. Kesyukuran adalah bentuk ungkapan sekaligus tindakan untuk melakukan kebaikan. Perbuatan yang lahir karena syukur dikembalikan pada Sang Pemberi. Ketika syukur diaplikasikan dalam hidup, ada rasa tenang. Ia Yang Maha Kaya lagi Pemurah. Apa saja akan diberikan-Nya jika ada syukur dari sang hamba. Ia pun telah berjanji akan menambah nikmat pun sebaliknya mengancam bagi yang mengingkari nikmat yang telah diberikan.

Sebuah kisah dari Sayyid Zainal Abidin bin Hasan biasa menjalankan salat sunah 1000 rakaat. Kisah ini disarikan dari ceramah Gus Baha. Cicit nabi ini bukannya menyengaja untuk melaksanakan salat dengan rakaat sebanyak itu. Namun karena dua rakaat merasa nikmat, dilanjutkannya lagi. Sampai tak terhitung bilangan rakaatnya. Rasa syukur diberikan nikmat telah menghadirkan ketaatan yang terus-menerus. Sebuah kisah teladan yang dapat diambil hikmahnya untuk kehidupan.

Ketika merasa nikmat melakukan sesuatu, seseorang cenderung mengulang. Bahkan sulit untuk berhenti. Seperti kisah di atas, hampir setiap sendi kehidupan. Apabila merasa nikmat dan senang melakukan sesuatu akan mengulang. Ada yang merasa nikmat bekerja, berpetualang, nongkrong atau apa saja. Namun menjadi penting untuk menandai rasa syukur nikmat dengan tindakan yang bermanfaat. Manusia yang paling baik adalah ia yang bermanfaat bagi yang lain. Lakukan kebaikan yang bermanfaat bagi yang lain dan berulang. Menulis bisa menjadi salah satu tanda kesyukuran.

Jika kita merasa nikmat menulis, maka sulit untuk berhenti. Ini seperti yang dialami Zainal Abidin ketika merasa nikmat dengan salat sunat dua rakaat. Seorang penulis ketika merasa nikmat dengan satu kata akan menambahnya, lagi dan lagi. Dari rangkaian kata menjadi kalimat dan seterusnya. Bahkan dari buku ke buku yang lain. Semuanya terasa mengalir dan sulit untuk terbendung. Inilah makna kesyukuran yang bertambah. Pertolongan-Nya akan terus ada selama tidak ada pengingkaran akan nikmat yang telah diberikan-Nya. Syukuri kenikmatan menulis dengan terus melakukannya. Anda akan sulit berhenti.

Kebaikan yang melahirkan kebaikan layak untuk diulang. Bahkan boleh dikatakan wajib. Seperti perintah salat fardu yang lima kali. Sedikitnya ada pembelajaran bahwa itu harus diulang. Walaupun ada standar yang ingin dicapai perintah itu tidak pernah berhenti. Walaupun belum atau sudah mencapai standar seperti khusyuk misalnya. Ia harus tetap dilakukan. Seperti salat wajib, menulis dapat diterapkan pada hal yang sama. Kembali ini adalah tanda kesyukuran.

Menulis karena syukur diberi nikmat akan melahirkan produktivitas. Inti dari produktif adalah penambahan. Maka menambah menulis adalah hal elok yang dapat dilakukan. Nikmat Allah tidak akan pernah habis. Kita tidak akan mampu menghitungnya. Menulis pun tidak akan pernah habis. Bersyukur atas nikmat itu produktif jawabannya.

Syukur menulis ditambah, nikmat yang diberikan akan ditambah pula. Nikmat tidak selalu berupa hadiah atau materi. Anda sudah menulis itu adalah nikmat. Hadiah beri berupa materi adalah bonus. Kesuksesan adalah proses. Selama tidak berproses hadiah itu mustahil menurut akal akan hadir. Jadi terus menulis untuk menghargai nikmat hidup ini dari-Nya. Ia tidak akan pernah ingkar janji.

Bahagiakan diri dengan kesyukuran menulis. Anda akan menjadi penulis produktif. Ini berlaku untuk aktivitas kebaikan yang lain. Ketika menulis dihadirkan sebagai kenikmatan kita akan terus berusaha untuk menambahnya. Nikmat yang disyukuri akan melahirkan kebahagiaan. Jadi bahagia beberapa mudah ditemukan, kalau kita menyadarinya.

Sulit berhenti menulis karena syukur, lanjutkan saja.

Jaya Makmur, Katingan, Kalteng. 25/9/2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *