Sejenak kita lanjutkan, tulisan kemarin. Tentang wajibnya Berdoa. Kepada siapa Doa itu ditujukan? Jawabannya hanya satu, tiada yang lain – “Just to Allah”.

Ada satu ayat yang kita ulang-ulang setidaknya 17 kali dalam sehari. Ayat itu berbentuk kalimat majemuk berbunyi “iyyaka na’budu wa iyyaka nastainu”. Al-Fatihah ayat kelima. Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.

Keduanya seperti dua sisi mata uang. Satu saja tidak terpenuhi maka cacatlah keimanan. Allah adalah tujuan yang satu dari dua hal yang tak tepisahkan itu, ibadah (penghambaan) dan isti’anah permohonan untuk diberi pertolongan (doa).

“Kami tidak menyembah mereka.” Begitu kata para penyembah berhala Quraisy dalam Q.S Az-Zumar ayat tiga. melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. 

Artinya mereka meyakini bahwa Allah lah yang berkuasa dan berkehendak, karena itu mereka memohon pertolongan kepada Allah. Adapun alasan mereka mengibadahi berhala-berhala hanya sebagai media perantara. Kekeliruan ini berakibat fatal, karena menyalahi salah satu dari Al-Fatihah ayat lima. Mereka beristi’anah tetapi tidak ber-ibadah.

Salah satu sifat Allah adalah al-Ghayyur, artinya Maha Pencemburu. Cinta adalah kata kunci mengapa cemburu itu bisa ada. Begitu cintanya Allah kepada hambanya, karenanya jika ada sandingan dari selainnya-Nya, maka Ia akan cemburu.

Sesungguhnya Allah Pencemburu” Demikian Sabda Rasulullah dalam Bukhari dan Muslim dari jalan periwayatan Abu Hurairah. “dan kecemburuan Allah itu bangkit ketika seorang mu’min melanggar apa yang Allah larang

Sementara itu Sahabat Sa’ad bin ‘Ubadah radhiallahu anhu mengatakan, “Seandainya aku melihat seorang laki-laki sedang bersama istriku pasti aku pukul dia dengan sisi pedangku yang tajam!”

Mendengar ucapan Saad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Tidak herankah kalian  pada kecemburuan Sa’ad itu? Sungguh aku lebih cemburu daripada Sa’ad, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih cemburu lagi daripada aku.” Demikian Imam Bukhari meriwayatkan.

Karena itu tuluskan keutuhan cinta kita kepada-Nya. Tiada yang kita sembah selainnya, tiada juga yang kita mintai pertolongan selain Dia. Dia Yang Maha Rahman dan Maha Rahim adalah sebaik-baik tempat mencurahkan cinta. Cinta-Nya yang abadi harus kita balas dengan ikhlas. Jangan biarkan Dia Yang Maha Cinta cemburu kepada kita. La ilaaha illallah.

“Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar.” (Q.S. Al-Fath: 10)

Thee (alone) we worship; Thee (alone) we ask for help.

Mang Agus Saefullah

Marbot Masjid Al-Furqon

Pojok Masjid Al-Furqon, 25 September 2020

0Shares

By Admin

One thought on “Dia Yang Maha Pencemburu”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *