Sebagian orang merasa rugi berinvestasi pada pendidikan. Saat harus berkorban tanpa adanya balikan rasanya enggan. Jiwa rela berkorban untuk ilmu terasa semakin berkurang. Sebuah ungkapan anonim dari obrolan akar rumput ,’ sekarang ini banyak orang pintar. Mereka laksana sumur. Sumur-sumur ilmu mencari timba. Namun masih tetap tidak bertemu pada titik air ilmu yang dicari. Belajar hanya sebatas seremoni menghabiskan biaya. Pendidikan hilang ruhnya.

Ilmu yang telah dipelajari tidak aplikatif dengan kenyataan hidup. Ilmu bangku pendidikan formal bak menara gading. Lupa pada akar masyarakat tempat ia berada. Payahnya mencari ilmu tidak ada lagi dirasakan. Semua merasa layak menjadi pendidik. Mutiara ilmu sejati pendidik seperti tertimbun kembali secara perlahan. Ilmu bergeser dari mengajar nalar berubah menjadi ladang pekerjaan semata. Ruh ilmu menjadi hilang ketika hanya di dunia saja.

Orientasi materialisme pada pendidikan saat ini begitu tajam. Ketidaksabaran dalam menuntut ilmu melahirkan paradigma jual-beli. Keyakinan bahwa ketika memberi harus menerima seketika. Ini menyebabkan budaya instan begitu menjamur. Semua pembelajaran ilmu menawarkan kemudahan dan kecepatan. Namun semua bernilai materi. Proses menuntut ilmu diperpendek waktunya. Banyak yang serba terburu-buru.

Untuk apa belajar kalau tidak bisa bekerja dan menghasilkan uang. Ini telah merasuki generasi saat ini. Semua serba hitung-hitungan. Proses pemerolehan ilmu dengan landasan hikmah dan kesabaran menjadi sulit dicari. Semua berlomba untuk yang tercepat. Bahwa belajar tidaklah semata soal pengetahuan dan keterampilan. Ada pewarisan sikap keteladanan yang perlu waktu untuk mengkajinya.

 Saya teringat sebuah syair tentang pembelajaran dalam kitab klasik pesantren tingkat dasar alaalaa pada bait pertama dan kedua. Kitab yang dikarang oleh Burhanuddin al Islam al Zarnuji yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Jawa. Ilingo dak kasil ilmu anging nem perkoro . Rupane limpat,loba sabar ana sangune, lan piwulange guru, sarta dowo mangsane. ( ingatlah tidak akan berhasil ilmu kecuali 6 perkara. Yaitu cerdas, pemurah, sabar, punya bekal, pengajaran guru, dan waktu yang lama). Pesan dalam menuntut ilmu. Kondisi saat ini bisa jadi berbeda, namun tetap ada yang relevan. Belajar perlu proses.

Wilayah nalar dan jiwa sepi dari nilai pendidikan. Semakin kesini semakin sepi nurani dalam pendidikan. Inilah yang perlu ‘dibaca’. Sekalipun tidak menyenangkan. Menuntut ilmu mengisi jiwa. Ilmu tidak sekadar mengumpulkan materi, namun juga mengisi jiwa-jiwa yang kosong. Ilmu rohani sebagai pondasi kehidupan tergeser dengan pemanisnya saja, materi. Banyak yang menyangka kemegahan dunia adalah keberhasilan. Namun gagal secara spiritual.

Samudera ilmu-Nya tidak terbatas. Cari, pelajari, baca untuk dua kesejahteraan. Walaupun tidak nyaman belajar menyimpan harapan masa depan. Harapan inilah yang akan menuntun pembelajar menghadap-Nya dengan rida. Inilah tujuan tertinggi ilmu. Ini harus selalu dibacakan kepada anak-anak kita sampai kapan pun. Pertanyaan Ya’kub kepada putra-putranya “ Apa yang akan kau sembah setelah aku tiada?” pertanyaan pendek namun menyeluruh untuk semua kehidupan. Bacalah ilmu sekalipun tak menyenangkan nafsu.

Adaptasi dengan bekal sikap, pengetahuan dan keterampilan akan lebih siap pada perubahan. Hasil dari pendidikan adalah sikap mental yang mendorong pemelajar untuk bertindak. Semakin dalam ilmu semakin rendah hati seyogianya. Dari hasil pendidikan menggambar sikap dan perilaku dari pemelajar. Hari ini adalah hasil dari pendidikan masa lalu. Entah itu pendidikan formalnya atau yang non-formal. Kita tidak berdiri sendiri. Tetap teruslah belajar walaupun tidak nyaman. Bacalah ilmu sekalipun tidak menyenangkan hati.

Jaya Makmur, Katingan, Kalteng. 18/9/2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *