Masa lalu adalah inspirasi, tak perlu dimitoskan.” Demikian tulis Kang Ariful Mursyidi ketika menerangkan silisilah kakeknya dalam Buku ‘Ma’sum: Nafas Dakwah dan Mata Batin Yang Menggugah’. “Memitoskan tokoh masa lalu terbukti gagal dalam membangun peradaban, dan itu dibuktikan oleh kegagalan kaum Quraish yang telah memberhalakan tokoh-tokoh masa lalu”. Lanjutnya.

Ibunda Kang Arif, Ibu Badriah istri dari K.H. Ahmad Ma’sum Nawawi, ulama Kharismatik Pendiri Pesantren Persis Majalengka yang merupakan tokoh utama pada buku ini adalah puteri dari K.H. R. Ahmad Busyaeri yang peta silsilahnya tersambung hingga ke Demak, Kota Para Wali yang melegenda. Namun beliau enggan menelusuri peta itu, karena jika pun iya (ada sambungan silsilah ke Para Wali), tak patut untuk dilebih-lebihkan. “Karena setiap generasi punya tanggung jawab zamannya masing-masing.” Beliau menegaskan.

Demikianlah Islam mengajarkan bahwa setiap manusia hanya akan berurusan dengan amalnya bukan amal orang tuanya. Tak ada istilah transfer kabaikan, begitu pula dosa satu dengan yang lainnya tidak akan saling menanggung. Kecuali ada sebab akibat perbuatan yang saling memiliki keterkaitan, yaitu ilmu yang bermanfaat, sedekah jariyah, dan waladun shalihuh yad’ ulah.

 “Bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.”(Q.S. An-Najm: 38-39)

Tidak ada jaminan, kebaikan orang tua juga ada pada anak-anaknya. Kecuali diwariskan melalui pendidikan, itu pun hanya akan bersifat dorongan. Tanpa kesadaran diri sendiri mustahil kebaikan itu akan terwariskan.

Seorang Pembaharu Tarekat Alawiyah, Imam Abdullah Al-Hadad berpetuah dalam syairnya,

Kemudian, janganlah engkau tertipu membanggakan nasab

Jangan begitu, dan jangan pula merasa puas dengan mengatakan: ayahku begini dan begini

Dalam masalah petunjuk, ikutilah sebaik-baik nabi

Ahmad, yang memberikan petunjuk kepada sunah-sunnahnya

Karena itu, percaya dirilah dengan apa yang kita bisa. Sambil terus belajar agar kapasitas diri terus meningkat. Galilah sejarah tentang kedigdayaan orang tua di masa lalu sebagai inspirasi bukan untuk dijadikan sebagai selimut penutup kelemahan-kelemahan pelanjutnya. Apalagi dijadikan alat untuk sombong dan berbangga-bangga.

Petiklah hikmah di balik kisah-kisah pendahulu kita, sebagai pelecut semangat agar terus terawat tradisi mencipatakan karya dan kebaikan-kebaikan yang tertebar manfaatnya bagi sesama. Sebegitu pentingnya kita belajar dari orang-orang terdahulu hingga kata Imam Ats-Tsalabi,  ayat-ayat berisi kisah di dalam Al-Quran itu lebih banyak dua kali lipat daripada ayat-ayat yang berisi hukum halal dan haram.  

Jadikan kebaikan-kebaikan pendahulu sebagai pelecut semangat dan keburukan-keburukannya sebagai pelajaran.

Katakanlah: Adakanlah perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana (akibat) orang-orang yang terdahulu (Q.S. Ar-Rum; 42)

Sudah selesai tugas mereka menjawab persoalan masa lalu. maka hari ini tinggallah kita. Maka tanggung jawab itu ada di pundak kita.

Tidaklah seorang (hamba) memakan makanan yang lebih baik dari hasil usaha tangannya (sendiri),” Sabda Rasulullah dalam riwayat Bukhari, dan sungguh Nabi Dawud ‘alaihissalam makan dari hasil usaha tangannya (sendiri)

Saat si “aku” ditanya tentang siapa diriku? Maka jawabannya adalah “Aku ya Aku”. Be yourself and never surrender.

Mang Agus Saefullah
Marbot Masjid Al-Furqon Ciater

Perpustakaan rumah, 23 September 2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *