Latar Belakang Masalah

“Anak-anak, silakan datang ke perpustakaan pada jam istirahat ya?”

“ Bukunya itu-itu saja pak. Saya sudah membaca semuanya.” Jawab seorang peserta didik. Erik namanya. Entah memang dia apakah memang telah membaca semuanya atau hanya bercanda saja.

Kutipan dialog di atas menggambarkan bahwa perpustakaan sekolah harus senantiasa memperbaiki diri terus-menerus. Ini mutlak dilakukan apabila memang perpustakaan sekolah ingin memberikan kontribusi positif pada pendidikan. Beberapa perpustakaan sekolah sering terabaikan dalam pengembangan pembelajaran untuk keperluan pendidikan. Perpustakaan sekolah seharusnya nyaman, menyenangkan dan memiliki koleksi yang lengkap untuk dibaca. Perpustakaan sekolah harus segera berbenah.

Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) itu ruh sekolah. Sedangkan perpustakaan adalah jantungnya. Ruh dan jantung berhubungan sangat erat dalam kehidupan sekolah. Apabila ruh tidak hidup, jantung pun begitu pula. Keduanya harus hidup seiring sejalan untuk menghasilkan lukisan yang memiliki kompetensi. KBM harus hidup dan berjalan, kemudian ditopang dengan denyut perpustakaan sekolah yang menjadi sumber belajar tidak terbatas. Perpustakaan sekolah sebagai jantung sekolah harus bergerak memompa pengetahuan ke segala lini sekolah.

Sulitnya menyediakan tenaga ahli perpustakaan untuk sekolah. Khususnya di daerah pedesaan, apalagi daerah pedalaman. Ini pun berlaku untuk SMPN 4 Katingan Kuala. Gedung perpustakaan yang tersedia belum termanfaatkan secara maksimal. Namun keluhan tidak menyelesaikan masalah. Perpustakaan sebagai jantung pendidikan di sekolah belum dapat berfungsi optimal, maka dapat dibayangkan output yang dihasilkan. SMPN 4 Katingan Kuala menunjuk guru mata pelajaran Bahasa Indonesia sebagai Kepala Perpustakaan.

Perpustakaan SMPN 4 Katingan Kuala mendapatkan bantuan pinjam pakai dari Perpustakaan Daerah Propinsi Kalimantan Tengah. Pada tahun 2016 perpustakaan SMPN 4 Katingan Kuala mendapatkan hibah pinjam pakai buku bacaan non teks pelajaran. Ini sangat membantu sekolah dalam rangka menambah jumlah koleksi di perpustakaan. Selain itu ini dapat mendorong minat baca peserta didik untuk berkunjung ke perpustakaan sekolah.

Sebagai sebuah sekolah baru ketersediaan koleksi bacaan sangat terbatas. Sekolah yang berdiri pada tahun 2014 harus bergerak dari titik nol. Ini pun termasuk perpustakaannya. Gedung perpustakaan dengan luas 150 M2 masih hanya berupa gedung saja pada awalnya. Secara perlahan sekolah berupaya mengisi dan melengkapi perpustakaan sejak awal. Pada tahap pertama sekolah mendapatkan bantuan berupa kamus, buku non teks dan peraga pembelajaran. Bantuan itu berasal dari KPAI (Kerjasama Pendidikan Australia Indonesia). Ini merupakan paket lanjutan bantuan gedung sekolah tipe c.

Kebijakan belanja buku sebesar 20% dari dana BOS diterapkan. Ini merupakan upaya untuk menguatkan fungsi perpustakaan sekolah di SMPN 4 Katingan Kuala. Kebijakan ini mulai diterapkan pada tahun 2016. SMPN 4 Katingan Kuala memberlakukan kebijakan itu. Pada awal kebijakan tentu sekolah memenuhi buku teks wajib. Buku teks wajib untuk penerapan Kurikulum 2013 baru terpenuhi pada tahun 2018. Setelah itu SMPN 4 Katingan Kuala melalui kegiatan pengembangan perpustakaan belanja buku non teks untuk menambah koleksi. Ini dilakukan sejak tahun anggaran 2019. Pada tahun anggaran 2020 belanja buku non teks sebesar 90% dari total belanja buku. Sebuah upaya untuk menghidupkan denyut perpustakaan sebagai jantung sekolah.

Pembentukan duta baca untuk meningkatkan jumlah kunjungan ke perpustakaan sekolah. Ini adalah cara yang ditempuh oleh pengelola perpustakaan SMPN 4 Katingan Kuala. Duta baca diambil sebanyak dua orang peserta didik pada setiap rombongan belajar. Duta baca ini bertugas untuk mengajak para peserta didik mengunjungi perpustakaan sekolah. Selain itu mereka juga bertugas memperkenalkan buku baru yang ada di perpustakaan sekolah. Mereka (para duta baca) juga menjadi teladan bagi peserta didik yang lain untuk aktivitas membaca di perpustakaan sekolah.

Sekolah menemukan peserta didik baru belum mampu membaca. Walaupun sekadar taraf membunyikan. Ini adalah kejadian khusus. Pada proses pembelajaran beberapa pendidik menemukan peserta didik tidak bisa membaca. Ini adalah masalah pada tingkat literasi dasar. Tidak bijak bila sekolah menyalahkan sekolah sebelumnya. Maka sekolah harus mengambil tindakan. Para peserta didik yang belum bisa membaca diberikan perhatian khusus. Sekolah memutuskan Kepala Perpustakaan sebagai penanggung jawab pendampingan. Ini adalah pertolongan pertama pada peserta didik belum mampu membaca.

Pembahasan

Pembentukan tim pendamping Pertolongan Pertama Pada Peserta Didik Belum Mampu Membaca (P4DBM). Tim ini diketuai oleh Kepala Perpustakaan Sekolah. Tim ini bertugas menyelesaikan masalah literasi dasar. Literasi dasar dimaksud adalah kemampuan membaca peserta didik baru. Ketua tim bertugas mengkoordinir para pendidik untuk melakukan pendampingan. Pada setiap pekan memberikan laporan kemajuan kepada Kepala sekolah melalui forum rapat evaluasi mingguan.

Lomba mading sekolah untuk mencari gambaran ideal perpustakaan sekolah. Ini adalah cara mandiri sekolah untuk mencari formula perpustakaan ideal sebuah sekolah. Dari hasil kegiatan didapatkan konsep perpustakaan ideal versi para peserta didik didampingi wali kelasnya. Berikut beberapa kriteria perpustakaan sekolah ideal versi peserta didik kelas 9A SMPN 4 Katingan Kuala:

Up to date

Perpustakaan sekolahmu bisa dibilang keren kalau koleksinya lengkap, loopers. Koleksi apa? Macam-macam, seperti koleksi buku, koran, dan majalahnya. Jadi, pilihan buku yang kamu baca dan pinjam bisa beragam. Kalau enggak, kamu pasti bosan dong baca buku yang itu-itu aja.

Rapih dong

Yap, perpustakaan sekolah enggak Ok banget kalau bukunya tidak tersusun secara rapi dan sistematis. Maksudnya, disusun rapi dari urutan nama dan pengarangnya sesuai judul buku dan label perpustakaan yang ditempel. Dengan begitu kamu tidak perlu buku yang kamu mau, loopers.

Bersih

Selain up to date dan rapi, perpustakaan sekolah harus bersih. Jika ada debu yang menempel di buku atau rak-raknya harus segera dibersihkan. Bayangkan kalau buku dan rakyat penuh debu kamu pasti malas untuk mendatanginya. Ini akan lebih baik bila buku-buku koleksi diberi sampul oleh petugas perpustakaan sekolah.

Adem dan nyaman

Salah satu alasan mendatangi perpustakaan sekolah adalah mencari ketenangan. Itu adalah alasan tambahan selain tujuan utama yakni membaca. Apabila perpustakaan sekolah adem dan nyaman, maka minat kunjungan sangat mungkin akan meningkat. Suasana yang tenang membawa pengaruh terhadap kenyamanan membaca. Selain itu perpustakaan sekolah yang sejuk menarik minat peserta didik untuk berkunjung. Termasuk yang hanya ingin mencari suasana adem saja.

Fasilitasnya lengkap

Ada alasan kuat yang mendorong minat kunjungan ke perpustakaan sekolah. Lengkap dengan fasilitas pendukung itu menjadi pilihan utama. Apabila perpustakaan dilengkapi dengan komputer, laptop atau wifi akan sangat menarik bagi peserta didik. Kelengkapan ini akan sangat membantu warga sekolah untuk mengerjakan tugas. Bahkan dapat mendukung penelitian untuk para guru.

Sumber: Loop.co.id/article( sebagian digubah sesuai keperluan kondisi lapangan)

Ciri-ciri di atas adalah hasil pemcarian informasi peserta didik untuk mengisi ruang pada lomba mading sekolah. Beberapa peserta didik mengungkapkan kriteria perpustakaan sekolah yang keren. Itu adalah gambaran keinginan peserta didik akan keberadaan perpustakaan sekolah di SMPN 4 Katingan Kuala. Ini menjadi harapan sekaligus tanggung jawab pengelola perpustakaan dan Kepala sekolah untuk mewujudkannya. ‘

Selain hal-hal di atas tentang perpustakaan sekolah yang keren, peserta didik kelas 9A juga menuliskan kriteria perpustakaan sekolah yang sehat. Kriterianya antara lain :

  1. Cukup ruang sirkulasi udara dan pencahayaan;
  2. Memiliki peralatan kebersihan seperti: sapu, alat pel, kemoceng, keset, lap tangan, lap meja
  3. Memiliki tong sampah. Tempat sampah harus berada di dalam dan luar ruangan perpustakaan.
  4. Pendingin ruangan; kipas angin, AC

Alangkah lebih baik ruangan perpustakaan menebarkan aroma terapi untuk memberikan kenyamanan pengunjung Perpustakaan. Oleh karena itu pengharum ruangan dalam pelayanan perpustakaan sekolah.

SMPN 4  Katingan Kuala mendorong dan mendampingi peserta didik dalam lomba mendongeng. Ini sarana untuk menyiapkan peserta didik menghadapi kompetisi. Melalui ajang lomba ini peserta didik diharapkan tumbuh rasa percaya diri. Sekolah melalui perpustakaan mendorong dan mendampingi mereka dalam menyiapkan diri. Hasil menjadi juara bukanlah tujuan akhir. Belajar berproses adalah pembelajaran yang tak ternilai. Salah satu ciri khas pembelajaran bermakna adalah memberikan pengalaman positif pada diri peserta didik. Ini akan masuk pada ingatan jangka panjang (long term memory) mereka.

Perpustakaan sekolah sumber belajar yang tidak pernah habis. Perpustakaan yang hidup dan aktif memberdayakan para warga sekolah adalah perpustakaan ideal. Ini menjadi motivasi bagi pengelolanya untuk berkreasi dan berinovasi. Inovasi tidak sekadar teknologi semata, melainkan juga berupa gagasan dan bentuk aksi positif. Pemanfaatan perpustakaan sebagai sumber belajar yang integral dengan sekolah merupakan tanggung jawab manajemen bersama. Ayo ke perpustakaan sekolah dan menjadi manusia bermartabat dengan akhlak dan ilmu pengetahuan.

Jam wajib baca di perpustakaan sekolah diterapkan untuk meningkatkan minat baca. Ini sebenarnya adalah langkah represif sekolah. Sesuatu yang baik terkadang dipaksa untuk tumbuh pada mulanya. Ini adalah itikad baik memberdayakan perpustakaan sekolah sebagai jantungnya pendidikan. Ruh yang sehat, jantung yang normal berdetak merupakan tanda kehidupan pendidikan berjalan dengan baik. Saatnya perpustakaan sekolah berdaya mendukung keberhasilan dan kemajuan pendidikan.

Lomba menulis puisi dan pidato dari perpustakaan SMPN 4 Katingan Kuala. Ini adalah bagian lain dari upaya pemberdayaan perpustakaan sekolah. Lomba puisi dimaksudkan untuk menguji dan mempraktikkan hasil teori pemelajaran Bahasa Indonesia. Pada hakikatnya seluruh peserta didik memiliki bakat berbahasa. Ini karena bahasa adalah fitrah manusia. Lomba pusi dan pidato dimaksudkan untuk menggali potensi berbahasa peserta didik. Dari hasil lomba didapatkan bahwa tidak semua peserta didik yang diam di kelas tidak mampu menyampaikan gagasan dalam bentuk tulis.

Gambaran hasil lomba puisi dan pidato yang dilaksanakan perpustakaan SMPN 4 Katingan Kuala ini menarik. Ada peserta didik yang malu-malu saat di kelas, namun saat menyampaikan pidato begitu percaya diri. Begitu pula dengan lomba puisi banyak yang menjadi kejutan untuk para pendidik dan penonton. Peserta didik yang tidak diperhitungkan dapat meraih prestasi pada ajang lomba yang diselenggarakan perpustakaan sekolah ini.

Biodata Penulis

Moh. Anis Romzi,S.Pd.I, lahir di Kediri, 10 Maret 1980. Sekarang bertempat tinggal di desa Singam Raya, Kecamatan Katingan Kuala, Kabupaten Katingan Propinsi Kalimantan Tengah. Sehari bekerja sebagai ASN Guru dengan tugas tambahan sebagai Kepala SMPN 4 Katingan Kuala, Kab. Katingan, Kalimantan Tengah.

Penulis mulai berkarya di bidang penulisan sejak tahun 2018 dengan menulis buku-buku tentang pendidikan. Beberapa di antaranya adalah:

  1. Kepala Sekolah Belum Berpengalaman, MediaGuru, 2018
  2. aku Mengabdi pada-Mu (aMMu), Onepeach Media, 2018
  3. ANT-B (Anak-anak Tahan Banting, Kun Fayakun, 2018
  4. Jalan Bahagia (Buku Antologi), Wonderful Publishing, 2019
  5. Kalimat-kalimat Ramadhan (Buku Antologi), Rumah Literasi Publishing, 2020.
  6. Beberapa tulisan di Harian Kaltengpos Online.
0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *