Kenapa harus gratis jika mampu membeli? Sungguh goresan pena dari sahabat Kompasiana memunculkan ide tuk mengurai kata bermakna.

Sesungguhnya ungkapan yang dikenal manusia dari ucapan kenabian terdahulu: Jika engkau tidak malu, berbuatlah semaumu. Lakukanlah apa yang kamu kehendaki! Sungguh, Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Surat Fushilat, Ayat 40)

Ingatlah, Sang Pencipta Alam Semesta akan memberi balasan yang setimbal jika melanggar perintah-Nya. Balasan-Nya bisa langsung dihinakan dibumi ini berupa bencana agar diri kita mampu berintropeksi diri. Atau bahkan Tuhan Yang Maha Esa akan membiarkan begitu saja, agar azab itu didatangkan saat zaumil akhir nanti.

Ancaman jelas bagi suatu umat yang tidak menjunjung tinggi rasa malu. Istilah ‘malu’ secara hakiki adalah: suatu akhlak (dalam jiwa) yang membangkitkan sikap menjauhi hal-hal yang buruk dan mencegah dari perbuatan mengurangi hak pihak yang memiliki hak. (Syarhun Nawawi ala Shahih Muslim (2/6))

Selogan kalimat paragraf pertama hampir mirip atau senada dengan tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah. Diperkuat dari hadits tentang sikap tuk menjauhi hal-hal yang buruk dan mencegah dari perbuatan mengurangi hak pihak yang memiliki hak. Tentunya membangun sikap menjauhi hal-hal yang buruk termasuk  salah satunya budaya malu diawali oleh peran keluarga. Salah satu peran menumbuhkan sikap malu tentunya dari kedua orangtuanya yang ditanamkan sejak usia dini.

Coba perhatikan! Saat orangtua dahulu memberlakukan putra-putri tercintanya tuk peduli terhadap sikap malu.  Dimana saat menyajikan kue atau snack tuk tamu yang berkunjung ke rumah kita. Putra-putrinya dilarang keras mendahului mengambil kue saji yang diperuntukkan tuk tamu.

Dengan berkedip mata saja, orangtua telah memberi tanda bahwa anak-anaknya belum diizinkan tuk menyantap kue saji yang diperuntukkan tuk tamu. Para orangtua jaman dahulu  sadar cara menanamkan sikap mencegah dari perbuatan mengurangi hak pihak yang memiliki hak. Orangtua kita dahulu mengajarkan pada kita bahwa kue saji itu adalah hak tamu bukan hak anak-anaknya. Mereka mengajarkan tentang hak pada putra-putri tercinta tuk memuliakan tamu.

 Hal sederhana itu, diajarkan pada putra-putri tercinta tuk menjunjung tinggi nilai kesopanan dalam menumbuhkan sikap malu. Orangtua kita menyampaikan pesan jika dilafadzkan, “Anakku itu kue memang milik orangtuamu. Namun, telah ku hidangkan untuk tamu kita. Jadi, bukan hakmu tuk mengambil kue-kue ini di meja ini. Hak kuemu ada di meja belakang bukan di meja tamu. Di meja belakang hak kuemu ambil satu-satu, ingatlah hak kue itu juga ada hak saudara-saudaramu.

Cara-cara pendidikan seperti paparan di atas,  di zaman sekarang mungkin dianggap aneh kali. Saat ini, para orangtua mengatasnamakan anak kecil sehingga semua perlakuannya dianggap biasa saja. Tapi ingatlah bahwa menyadarkan sikap positif pada anak-anak terbaik hasilnya diawali sejak dini. Sehingga, saat dewasa nanti para putra-putri kecil kita telah menyadari mana haknya dan mana bukan haknya.

Entah nilai-nilai ketimuran kita hampir luntur atau bahkan telah sirna tergeser akibat perkembangan zaman. Sehingga rasa malu belum menyentuh sebagian jiwa. Sungguh negeri ini, menjunjung tinggi adat istiadat ketimuran yang peduli terhadap  rasa malu. Orangtua sebagai pelaku pendidik usia dini mempunyai peran mulia dengan memberi tauladan utama tuk menanamkan sikap malu sesuai ajaran-Nya. Tanpa, peran orangtua tidak mungkin budaya ketimuran itu mampu tumbuh kembali. Coba kita tengok negeri tetangga dalam menjunjung tinggi sikap malu.

Tidak ada salahnya, kita melihat budaya malu di negeri Kangguru. Kebaikan bisa diadopsi dari mana saja walaupun meniru budaya orang lain. Diceritakan! Ada barang gratisan disajikan tuk masyarakat Australia. Apa yang dilakukan oleh masyarakat tetangga kita?

Nih simak budaya luar! Hanya mengambil barang gratisan, jika mereka benar-benar tak mampu untuk membeli. Merekapun mengambil barang gratisan itu hanya satu-satu saja. Al hasil! Budaya malu di negeri tetangga telah mendarah daging dalam jiwanya sehingga teraplikasikan pada perilaku sehari-hari.

Negeri tetangga kita, punya budaya tidak menerapkan aji mumpung! Mumpung gratis mumpung tidak bayar, bolehlah ambil barang sebanyak-banyaknya. Mereka mengambil satu saja, karena mereka memahami ada saudara lain juga yang membutuhkannya. Sungguh! Budaya malu dengan formula aji mumpung tidak berlaku di negeri tetangga. Sekarang ini! Bisakah masyarakat kita mampu menjunjung tinggi budaya malu?

Saat ini budaya malu dapat ditumbuhkan di masing-masing keluarga. Ditengah keluargalah, impian itu bisa nyata dengan mengenalkan Sang Kholiq Sang Pencipta pada putra-putri tercinta. Tumbuhkan dalam jiwanya yang fitrah sejak dini. Kenalkan pada-Nya ,” Dialah Alloh yang agung yang wajib disembah, ditaati, dan Tuhan pencipta alam semesta”.

Dengan mengenalkan ciptaan-Nya berupa bumi, langit dan segala isinya dipersembahkan tuk semua manusia. Manusialah yang harus merawatkan dalam rangka membangun ketundukkan pada-Nya. Sesuai firman-Nya,” Tidak ku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah pada-Nya”.

Ajarkan pada putra-putri anda bagaimana beribadah yang benar sesuai syariat. Sampaikan bagaimana berwudlu yang tepat, sholat, berdoa, dan apa itu pahala dan dosa sesuai pemahaman dasar perkembangan usianya. Tumbuhkan dalam jiwanya yang fitrah sejak dini, agar mereka hanya takut hanya pada Tuhan Alloh saja.

Dengan mengenalkan Tuhannya, maka akan terciptalah generasi robani impian kita bersama. Generasi robani mampu mengenal Tuhannya yang akan membangkitkan sikap menjauhi hal-hal yang buruk. Sehingga, generasi robani dapat mencegah dari perbuatan mengurangi hak pihak yang memiliki hak yang mampu teraplikasi di setiap individu.

Tapi sesungguhnya sikap malu dengan sebenar-benarnya kepada Alloh semata adalah menjaga kepala dan apa yang ada padanya, menjaga perut dan yang dikandungnya, dan mengingat kematian dan akan datangnya kebinasaan, dan barangsiapa yang menginginkan kehidupan akhirat dan meninggalkan perhiasan dunia. Barangsiapa yang melakukan hal itu, maka ia telah bersikap malu dengan sebenar-benarnya kepada Allah (H.R atTirmidizi).

Sungguh dalam kepala terdapat seluruh panca indra. Dengan mengoptimalkan panca indra dalam kepala sehingga mampu menjaga kepala dan apa yang ada padanya sesuai syariat-Nya. Renungkanlah! Sejarah membuktikan, dengan syariat-Nya negeri yang jahiliyah saja mampu berubah menjadikan zaman yang terbaik. Zaman terbaik dan unik tercipta dibawah cahaya Al Qur’an yang mulia. Olehkarena itu, hiduplah mendekat bersama bimbingan Alloh SWT. Maka, akan terwujud negeri adil makmur dan aman sentosa impian bersama. Generasi yang dibangun dari keluarga yang mampu mengenalkan Tuhan-Nya sejak dini pada putra-putri tercinta.

Hiduplah sesukamu, karena sesungguhnya kamu akan mati. Cintailah siapa yang kamu suka, karena sesungguhnya engkau akan berpisah dengannya. Dan berbuatlah sesukamu, karena sesungguhnya engkau akan diberi balasan karenanya. Hadits ini, menjadi rujukan bagi generasi robani tuk bersunguh-sungguh menjaga malu dengan sebenar-benarnya hanya kepada Alloh semata.

Generasi robani akan menyadari resiko yang besar jika hidup sesuka hatinya. Mereka akan berhati-hati dalam bersikap tuk menjalankan sesuai syariat-Nya. Generasi robani menyakini, ” Kehidupan nanti semua manusia akan diberi balasan sesuai yang meraka perbuat”. Mereka akan menjunjung tinggi sikap malu, karena mereka menyakini bahwa : Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak Islam adalah malu.

Sungguh malu itu adalah karakter yang wajib ditumbuhkan pada zaman ini. Satu kata penuh makna harus tumbuh dalam jiwa. Karakter mulia yang menjadi pondasi bersikap dalam tatanan kehidupan yang tak boleh diabaikan selamanya.

Malu adalah satu kata yang mencakup perbuatan menjauhi segala apa yang dibenci. Formula khusus diramu dengan mendefinisikan kata malu yang tepat. Mengaplikasikan malu dalam bersikap sesuai syariat. Sampaikan ini pada generasi sejak belia bersama keluarga, sehingga rasa malu masuk dalam jiwa sampai dewasa kelak.

Referensi :

  • https://salafy.or.id/jika-engkau-tidak-malu-berbuatlah sekehendakmu/ | Salafy.or.id
0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *