Dua puluh tujuh tahun Nelson Rolihlahla Mandela harus mendekam di balik jeruji. Penjara Pulau Robben, Penjara Pollsmoor dan Penjara Victor Verster adalah saksi bisu atas pembungkaman terhadap kemanusiaan. Ia ditangkap karena melakukan perlawanan terhadap politik apartheid.

Apertheid sendiri adalah politik yang merampas hak-hak kemanusiaan di Afrika Selatan. Pemerintah membuat undang-undang yang sangat rasis, merugikan orang kulit hitam -penduduk asli Benua Afrika. Karena itu, Nelson Mandela melawan. Ia bersama rekan-rekannya di Kongres Nasional Afrika (ANC) melakukan berbagai usaha agar politik dzalim  ini hilang dari tanah airnya.

Perlawanan Mandela mendapat reaksi dari pemerintah. Mandela yang juga merupakan ahli hukum dari Fort Hare University dan University of Witwatersrand ini keluar masuk penjara hingga baru bisa benar-benar bebas pada 11 Februari 1990.

Perjuangaannya memang panjang, berbelit dan terjal. Namun, ujungnya membuahkan hasil. Dunia mendukung, pemerintah terdesak dan ia bebas melanjutkan perjuangan hingga berhasil menghapus politik itu. Dunia pun memberikan Nobel Perdamaian. Bahkan Mandela berhasil menjadi Presiden kulit hitam pertama di Afrika Selatan hasil pemilihan umum bebas pada tahun 1994. Kemenangan Nelson Mandela adalah angin segar bagi masa depan hak azazi manusia. Dunia berhutang budi kepadanya.

Kisah Perjuangan Nelson Mandela, mengingatkan kita pada Bilal bin Rabah, sahabat Nabi berkulit hitam yang kabar gembira untuknya sudah Nabi sampaikan sejak di dunia. “Wahai Bilal, ceritakanlah kepadaku tentang satu amalan yang engkau lakukan di dalam Islam yang paling engkau harapkan pahalanya, karena aku mendengar suara kedua sandalmu di surga.” Bilal menjawab, “Tidak ada amal yang aku lakukan yang paling aku harapkan pahalanya daripada aku bersuci pada waktu malam atau siang pasti aku melakukan shalat dengan wudhu tersebut sebagaimana yang telah ditetapkan untukku.” Demikian Bukhari dan Muslim meriwayatkan kisah ini.

Bilal Bin Rabah itu siapa? Dia hanya manusia kelas dua dari ras yang terpinggirkan, Begitulah Jahiliyah memperlakukan manusia. Tetapi Rasul, manusia terbaik amat mencintainya. Begitupun Bilal ia amat mencintai Rasul.

Ketika Rasul wafat, betapa sakitnya hati Bilal, saat ia berkumandang Adzan pada kalimat Asyhadu anna Muhammadarrasulullah, tak sanggup melanjutkannya. Seolah ia tak percaya bahwa kekasihnya itu telah pergi.

Sebelum itu Bilal kerap menerima siksaan dari sistem yang mungkin lebih kejam dari sekedar apartheid.

Ahadun Ahad Ahadun Ahad …..itu adalah kalimat yang terucap dari lisan, saat Umayah Bin Khalaf menyiksanya menindihnya dengan batu besar di padang pasir yang gersang dan panas. Seolah-olah hatinya tetap dingin karena bersemayam di dalamnya kalimat Tauhid. Mengesakan Allah yang menciptakan manusia sama-sama dari setetes air yang hina. Memulikan seluruh Bani Adam dalam kedudukan yang sama di hadapnnya. Hanya ketakwaan yang menjadi pembeda diantaranya.

Wahai Bilal, hentikan ucapanmu, kembali ke Tuhanku maka aku akan melepasmu.” Begitu kata Umayyah saat membentak budaknya yang diketahui telah mengikuti agama Muhammad, sementara Umayah tak menyukai itu.

Pembesar-pembesar Quriasy, waktu itu memperbudak orang-orang hitam dan menjadikan mereka sebagai komoditas seperti halnya barang-barang yang diperjualbelikan di pasar manusia.

Namun, sedikit demi sedikit, pelan tapi pasti praktik-praktik perbudakan mulai hilang seiring dengan kedatangan Islam. Hitam putih, kaya miskin, pejabat rakyat semuanya berhak merasakan keadilan Islam. Semuanya sama semunya mulia.

Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (Q.S. Al-Isra: 70)

Memangnya kamu siapa? Siapapun kamu Islam menempatkan kamu pada kedudukan yang sama. Selanjutnya ya terserah kamu!!!

Surga pun behak dimiliki oleh siapapun. Rasulullah bersabda, “Semua umatku akan masuk surga kecuali yang enggan”, para Sahabat bertanya, “Wahai Rasûlullâh! Siapakah yang enggan?” Beliau menukas, “Barangsiapa yang mentaatiku niscaya ia akan masuk surga, dan siapa yang bermaksiat kepadaku maka dia enggan.” Begitu Abu Hurairah meriwayatkan sebagaiamana tertulis dalam riwayat Bukhari, Ahmad dan Al-Hakim.

Siapa yang menanam pasti ia akan memanen. Siapa yang berbuat ia harus bertanggung jawab. Begitu egaliternya Islam menempatkan kita sebagai makhluk sama, lalu Allah menyuruh manusia berlomba dalam kebaikan.

Karena itu tidak ada kata “putus asa” dalam Islam dari mana dan di mana kita berasal. Karena kata Jahiliyah yang berarti keterbelakangan, miskin, bodoh, pinggiran dalam terminologi Islam tidak ditujukan pada keadaan sosial dan ekonimi. Melainkan pada mereka yang terbelakang dalam mengesakan Allah, anti kemanusiaan dan gemar menari-nari di atas kekuasaan yang menindas.

Amr Bin Hisyam dengan segala yang ia miliki, kecerdasan, harta,  pendidikan, dan kedudukannya yang disegani memang dikenal sebagai Abu Al-Hakam dalam pandangan masyarakat Quriasy. Tetapi Islam justru memandangnya sebagai simbol ketebelekangan manusia. Karena itu ia berjuluk aduwullah yang sering dipanggil Abu Jahal alias bapak kebodohan.

Siapa sangka, Abu Jahal mati karena ulah dua anak kecil Mu’adz bin Amru bin Jamuah dan Mu’adz bin Afra radhiallahu anhumaa pada perang badar.

Siapakah Abu Jahal? Dia adalah pembesar yang termasyhur di dunia, namun berujung hidup dalam kehinaan.

Lalu siapa Bilal? Dia hanya bekas budak hitam. Tapi Allah memuliakan karena imannya.

Kalau ada yang menyepelekanmu dengan pertanyaan “Memangnya kamu siapa?” jawablah dengan iman dan kebaikanmu. Karena hidup ini bukan tentang siapa yang paling baik, tapi tentang siapa yang mau berbuat baik. Siapapaun, di manapun, sekecil apapun, Allah Maha Membalas.

Mang Agus Saefullah
Marbot Masjid Al-Furqon Ciater
Ruang Kerja Zainy Printing, 22 September 2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *