Wahai Rasulullah, sedekah apakah yang paling besar pahalanya?” Tanya seorang sahabat dalam riwayat Bukhari dan Muslim. “Bersedekah selama kamu masih sehat, bakhil, takut miskin, dan masih berkeinginan untuk kaya. Dan janganlah kamu menunda-nunda, sehingga apabila nyawa sudah sampai di tenggorokan, maka kamu berkata, “Untuk fulan sekian dan untuk fulan sekian’, padahal harta itu sudah menjadi hak si fulan (ahli warisnya)” Demikian Rasul menjawab.

Buah hikmah dalam hadits di atas adalah “Janganlah kamu menunda-nunda” untuk berbuat kebaikan. Karena manusia teranugerahkan waktu amat terbatas.

Sumpah Allah dalam Al-Quran yang disandarkan pada waktu-waktu seperti – Wal ashr, Wallaili, Wannahari, Wasyamsi, Wadluha, walfajr dan lain-lain adalah bukti betapa waktu adalah sesuatu yang amat diperhitungkan.

Waktu sendiri berasal dari bahasa arab “alwaqt” yang berasal dari akar kata “Waqata”. Terdiri dari tiga huruf, yaitu: wau, qaf, dan ta, yang artinya“menetapkan atau menentukan. Dalam “Mu’jam al-Mufahras li al-Fadz al-Qur’an” bahwa alwaqt disebut 13 kali dalam Al-Qur’an dengan berbagai derivasinya. Salah satunya pada Q.S. An-Nisa ayat 103 “Maka apabila kamu telah menyelesaaikan shalat (Mu), ingatlah Allah diwaktu berdiri, diwaktu duduk dan diwaktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, Maka dirikanlah shalatitu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”

Betapa signifikannya pengaruh menajemen waktu bagi kehidupan seorang muslim. Sampai-sampai Imam Syafi’i berucap “Aku pernah bersama dengan orang-orang sufi. Aku tidaklah mendapatkan pelajaran darinya selain dua Perkara. Pertama, dia berkata bahwa waktu bagaikan pedang. Jika kamu tidak memotongnya (maksudnya, memanfaatkannya), maka dia akan berbalik memotongmu.”

Sementara itu, terungkap nasihat Imam Hasan Al-Bashri dalam Hilyat Aulia, ““Wahai manusia, sesungguhnya kalian hanyalah kumpulan hari. Tatkala satu hari itu hilang, maka akan hilang pula sebagian dirimu.

Hendaklah setiap detik adalah pahala, hingga berapapun usia yang diberikan. Kita termasuk paling baik dalam merawat waktu. Siapakah dia? Dalam riwayat Ahmad Rasul mengungkapkan sabdanya, “Yaitu orang yang panjang umurnya dan baik amalnya. Sedangkan orang yang paling buruk adalah orang yang panjang umurnya tetapi buruk amalnya.”

Jika umur Nabi Adam hingga mencapai 930 tahun, Nabi Nuh berumur 950 tahun atau lebih, Nabi Idris AS 865 tahun, Nabi Hud 464 tahun, Nabi Ibrahim 175 tahun, Nabi Ishaq 180 tahun (wallahu a’lam), maka umat Nabi Muhammad jauh lebih pendek dari pada umur Nabi-Nabi terdahulu.

Usia umatku antara 60 sampai 70 tahun.” Sabda Nabi dalam riwayat At-Tirmdzi, “Jarang sekali di antara mereka melewati itu.”

Maka sudah seyogyanya, kita merenungkan hadits nabi dalam riwayat Al-Hakim, “Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara, (1) Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, (2) Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, (3) Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, (4) Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, (5) Hidupmu sebelum datang matimu.

Serta tak lupa untuk berdoa“Allahumma ak-tsir maalii wa waladii, wa baarik lii fiimaa a’thoitanii wa athil hayaatii ‘ala tho’atik wa ahsin ‘amalii wagh-fir lii (Ya Allah perbanyaklah harta dan anakku serta berkahilah karunia yang Engkau beri. Panjangkanlah umurku dalam ketaatan pada-Mu dan baguskanlah amalku serta ampunilah dosa-dosaku).”

Kebahagiaan yang paling utama”, Tulis Imam Al-Ghazali dalam “Ihya Ulumudin” saat mengutip hadits Nabi, “adalah panjang umur di dalam taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Jika bahagia ingin segera kau hampiri.Maka  Mengapa harus menunggu besok?

Baiti Jannati, 21 September 2020

Mang Agus Saefullah

Marbot Masjid Al-Furqon Ciater

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *