Begitu rindunya seorang tabiin dari Syam kepada baginda Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Sesampai ia mohon kepada ibundanya yang sedang uzur agar diberinya izin untuk peri ke Madinah menemui Rasulullah. Sang Ibu pun merasa iba kepada anaknya yang begitu bergelora kerinduannya kepada Rasul terkasih. Ia pun mengizinkan, dengan pesan “lekaslah kembali!”

Pemuda itu bernama Uwasi Al-Qarni, pemuda yang hidup sezaman dengan nabi namun tak tertakdirkan bersua bersamanya. Karena itu ia hanya berstatus tabiin.

Dalam riwayat Ahmad, dikisahkan umar berkata “Sesungguhnya tabi’in yang terbaik adalah seorang pria yang bernama. Uwais. Ia memiliki seorang ibu dan dulunya berpenyakit kulit (tubuhnya ada putih-putih). Perintahkanlah padanya untuk meminta ampun untuk kalian.” (HR. Muslim)

Mengapa sampai Uwais mendapat keistimewaan itu? Cita-citanya besar ia ingin bertemu dengan Nabi. Nabi sedang di luar Madinah dan tak ada kepastian kapan Nabi kembali. Sedangkan Uwais harus menepati janji kepada Ibundanya, untuk segera pulang.

Sebagaimana seorang manusia, tentu saja Uwais kecewa. Namun, kegagalannya bertemu Nabi di dunia bukan berarti kegagalan bertemu Nabi di akhirat. Ia pasti bertemu, karena Nabi sendiri yang mengatakan banyak keistimewaanya hingga ia disebut sebagai pemuda dari langit.

Sesampainya di Madinah. Nabi bertanya kepada Aisyah radhiallahu anha tentang orang yang mencarinya. Nabi bersabda “Uwais adalah anak yang taat kepada ibunya, ia adalah penghuni langit”. Mendengar hal itu Aisyah tetegun keheranan..

 “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia, tengoklah ia mempunyai tanda putih di bagian tengah telapak tangannya.”

Ditatapnya Ali dan Umar bin Khathab radhiallahu anhumaa seraya berkata, “Suatu saat jika kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penduduk langit, bukan penduduk bumi.”

Rupanya keseharian Uwais mengabdi kepada sang ibu yang membuat Rasul berkata tentang sedemekian istimewanya pemuda ini.

Mengurus orang tua, bisa saja telalu dianggap hal kecil bagi kita. Akan tetapi tidak, bagi Rasul. Ia adalah kemuliaan teramat dahsyat. Uwais Al-Qarni memang kembali pulang dan tidak bertemu Nabi, akan tetapi itu malah menjadikan Nabi yang berbalik merinduknnya, sampai-sampai Nabi berwasiat kepada para sahabat. Meski hingga akhirnya Uwais tetap tak tertakdirkan bertemu Nabi, di dunia.

Dari kisah itu kita banyak belajar tentang betapa pentingnya kita merawat hak-hal kecil namun bermakna dan bepengaruh besar dalam kehidupan.

Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala,begitu Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda sebagaimana tetulis dalam riwayat Muslim, “adalah amalan yang kontinu walaupun itu kecil-kecil (sedikit).”

Perubahan besar itu tidak pernah lepas dari mereka yang memulainya pada hal-hal yang kecil dan sederhana.  Maka marilah kita kejar cita-cita tertinggi kita, dengan memulainya pada hal-hal yang kecil. Jangan sampai ya, ada pemuda islam aktivis ngomongnya tinggi tentang peradaban Islam, syariat Islam, kemenangan dan kejayaan Islam tapi ketika adzan berkumandang “eh dia shalat di rumah”.

Baiti Jannati, 20 September 2020

Mang Agus Saefullah

Marbot Masjid Al-Furqon Ciater

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *