Syekh Abdul Bari Bin Awadh Al-Tsubaiti dalam Khutbah-nya di Masjid Madinah 15 Rajab 1437 Hijriyah menyampaikan bahwa mencintai Allah berarti mengutamakan segala apa yang disenangi Allah melebihi diri, jiwa dan harta benda. Taat kita pada-Nya dalam kesendirian dan keramaian serta selalu hadirkan pengakuan atas begitu banyaknya kelalaian diri dalam mencintai-Nya.

Di Langkah pertama ini. Utuhkan cara kita mencintai Allah, dengan tercurahnya segala asa di dalam jiwa, dan bergeraknya raga membawa hati yg berkelana mencari sang Kekasih serta tersambung lisan yang selalu basah karena menyebut nama-Nya.

Berdo’alah seperti do’anya baginda Rasulullah semoga kehormatan dan keselamatan tercurah padanya.
Aku memohon kepada-Mu agar dapat mencintai-Mu, mencintai orang-orang yang mencintai-Mu dan mencintai amal yang mendekatkan diriku untuk mencinta-Mu. Begitu At-tirmdzi meriwayatkan.

Sementara Imam Bukhari menghantar cerita cinta dalam riwayatnya, “Kami pernah menyertai Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,” Kata Abdullah bin Hisyam. “Dilihatnya Rasulullah memegang Umar bin Khattab. Lalu Umar berucap “Wahai Utusan Allah, sungguh engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu setelah diriku sendiri.” Lantas Sang Nabi menegas,”Tidak, demi yang jiwaku berada di tangan-Nya (imanmu belum sempurna). Hingga aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.” ‘Umar pun menjawab, “Sekarang, demi Allah. Engkau (Rasulullah) lebih aku cintai daripada diriku sendiri.”  Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Saat ini pula wahai Umar, (imanmu telah sempurna).”

Maka bercucurlah manisnya yang dikecap para pecinta, “Tiga perkara yang membuat seseorang akan mendapatkan manisnya iman” Kata Nabi  “yaitu: Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari selain keduanya; mencintai saudaranya hanya karena Allah; dan benci kembali pada kekufuran sebagaimana benci dilemparkan dalam api.“Adalah Imam Ahmad menuturkan janji bagi pecinta”(Kalau begitu) engkau akan bersama dengan orang yang engkau cinta” Maka semoga kita bersama Nabi.

Ada yang terlihat dibenci padahal ia adalah putik-putik cinta yang hendak bermekaran, Allah Firmankan dalam Al-baqarah 216″Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui“.

Tidak ada yang mampu memikul kewajiban yang diturunkan Allah dari ketujuh langit yang berlapis-lapis itu” Kata Dr. Abdullah Azzam, dalam karyanya “Tarbiyah JIhadiyah”, “Kecuali jiwa-jiwa yang telah dipersiapkan, dipelihara, dijaga dan dilindungi Allah ta’ala. Siapun dia tanpa pertolongan-Nya tidak akan mampu luput dari keterpurukan meskipun memiliki raga yang teramat kuat.  Ia adalah amalan ibadah yang paling dibenci manusia, tetapi mulia dan utama dalam deretan kewajiban dari-Nya. Ia adalah Jihad. Hanya Manusia pilihan “Lanjut Abdullah Azzam,”yang mampu menunaikan kewajiban ini.”

Tidak ada yang menyukai berpeluh-peluh, tidak ada yang menyukai terperasnya keringat, dan tidak ada yang menyukai amis darah membasahi kujuran badan. Fitrahnya manusia adalah lemah “ia berkeluh kesah lagi putus asa” tetapi manusia pilihan melawan semua kebencian itu hingga tercium manisnya sisa-sisa dari akhir perjuangan yang panas namun berangsur-angsur menyejukan.

Dan puncak Islam paling tinggi,” sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagaimana telah meriwayatkan Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam at-Tirmidzi rahimahumallahu ta’ala hadits ini dengan derajat hasan, “ialah jihad.”

Semua yang kita lakukan karena kecintaan kita kepada Allah ialah seluas-luasnya makna jihad. Karena Allah, ada cinta yang tertuai antara dokter dan pasien. Karena Allah, ada cinta yang tertebar antara guru dan siswa. Karena Allah, ada cinta yang tersemai antara raja dan jelata. Juga karena Allah, ada cinta yang terbayar antara pedagang dan pembeli.

Allah dulu, Allah lagi dan Allah terus. Rasul kekasih, Rasul panutan dan Rasul sanjungan adalah lebih dari segalanya. Begitu para pecinta berkata. Kitakah diantara mereka? Semoga….

Mang Agus Saefullah
Marbot Masjid – Kalimat Sumedang

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *