Bismillahir rahmanir rahiim… “, Demikian Rasulullah memulai isi suratnya kepada Heraklius Pembesar Romawi. “Dari Muhammad, hamba Allah dan utusan-Nya Kepada Heraclius, raja Romawi. Salaamun ‘ala manit-taba’al huda, amma ba’du. Lalu Rasulullah bertutur dalam surat yang didisposisikan melalui salah satu pemimpin Bushra oleh sahabat Dihyah Al-Kalbi radhiallahu anhu sebagaimana teriwayatkan dalam “Shahihain”,

Masuk Islamlah, niscaya kamu selamat. Masuk Islamlah, niscaya Allah memberimu pahala dua kali lipat. Jika kamu berpaling, kamu akan menanggung dosa orang-orang Romawi.
Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang sama di antara kita, bahwa kita tidak menyembah kecuali hanya kepada Allah, dan tidak mempersekutukanNya dengan sesuatu pun; dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai sembahan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka. “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).”

Rasulullah memulainya dengan Menyebut Nama Allah, dalam surat yang teramat penting kepada pemimpin Eropa yang merajai. Darinya Rasulullah mengajarkan kepada kita betapa pentingnya memulai sesuatu dengan menyebut nama-Nya. Nama Dia Yang Maha Rahman dan Rahim. Kalimat ini adalah peneguh tujuan dalam jiwa.

Dalam konteks tertentu, tujuan adalah target utama yang dibulatkan dalam niat. Niatku apa? Itulah dasar yang dipertamakan dalam setiap langkah. Maka sebaik-baik muslim adalah berniat karena Allah. Bertujuan untuk mengharapkan ridha Allah dan agar Ia mencatat setiap langkah sebagai pembabak jalan mudah menuju surga.

Surat Rasulullah, melajukan niat mulia agar pesan Allah melalui Jibril, Iqra – Bismirabbikalladzi halaq … juga diluaskan hingga menuju jantung-jantung Byzantium Romawi – yang kala itu menjadi negera adidaya disamping Kekaisaran Persia. Tidak pernah bertujuan merutuhkan Byzantium, hanya ingin menyeru agar Sang Kaisar menyembah Allah – meski pada akhirnya Allah mentakdirkan Romawi menjadi wilayah kekuasan Islam – lebih tepatnya terlindung dalam kedamaian bersama kepemimpinan Islam.

Rasulullah yang teramat kasih kepada umatnya. Hingga ajalnya tiba, selalu bergetar dalam hatinya dengan penuh rasa iba, Ummatii – ummatii – ummatii.

Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS At Taubah ayat: 128)

Dengan Bismillah, kita meniatkan segala urusan untuk Allah, bertawakal kepada Iradah-Nya dan agar Ia tak menyia-nyiakan laku yang terikhtiarkan dengan takdir yang terbaik dalam pandangan-Nya. Rabbana ma khalaqta hadza bathila, subanaka fa qina ‘adzabannar – “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

Bismillah, juga hadir sebagai pengikat komitmen atas apa yang dicita-citakan. Masih ingatkah dengan kisah pembelotan pasukan Thalut ketika menjemput perang melawan Jalut- Sang Pemimpin Amaliqah? Dari 80.000 pasukan yang diberangkatkan Thalut Sang Raja Israel, hanya sekitar 4000 pasukan saja yang berhasil menjaga komitmen. Mereka membelot dengan melanggar perjanjian untuk tidak minum di sungai Jordan kecuali seciduk saja. Sebanyak 76.000 diantaranya terlena dengan ujian yang menghampiri dalam beratnya perjalanan. Begitu As-Sudi merwiyatkan sebagaiman dikutip Ibnu Katsir dalam “Qashasul Anbiya”. Namun pengutipnya sendiri meragukan jumlah ini. Lalu Ibnu Katsir meriwayatkan pula riwayat yang lebih kuat yaitu yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Al-Barra bin Azib bahwa Pasukan hanya tiga ratus sekian belas orang saja – kurang lebih sama seperti jumlah saat perang Badar.

Lalu bagaimana keadaan pasukan tersisa? Jadilah mereka pasukan khusus, pasukan tepilih, terpilih oleh seleksi AllahYang Maha Perkasa. Adalah Dawud Pemuda tampan nan gagah, salah satu pasukan terplih itu. Ia yang kelak menjadi Nabi dan pelanjut raja bagi Bani Israel.

Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: “Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya; bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka dia adalah pengikutku”. Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: “Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya”. Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata: “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar”. (Q.S. Al-Baqarah: 249)“Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam”. (Q.S. Al-Baqarah: 251)

Kembali kepada Bismillah, Ia adalah kalimat yang teranugerahkan. Agar amal mulia menjadi abadi. Jika Pak Tani  menanam padi di sawah maka kurang lebih tiga bulan lagi ia akan memanen bulir-bulir padi yang padat dan berisi. Maka dengan diawali lafadz Bismillah, ia mempersembahkan semua ikhtiarnya kepada Allah. Tidak hanya di dunia, kelak ia juga akan memanen di sawah akhirat. Jika Allah mengujinya dengan hama atau bencana alam, maka panen di akhirat tidak pernah sirna, bahkan pasti berlipat. Abu Hurairah sebagiamana diriwayatkan Al-Khatib dalam Al-Jami’ meriwayatkan Sabda Nabi“Setiap perkara penting yang tidak dimulai dengan ‘bismillahirrahmanir rahiim’, amalan tersebut terputus berkahnya.

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *