Masih Daring
Oleh: Moh. Anis Romzi

“Berarti yang dipanggil ini yang anaknya nakal ya pak?” Celetuk salah satu orang tua peserta didik. Itu bukan suara pertama yang keluar dari orangtua. Beberapa dari mereka sengaja dihadirkan untuk mengevaluasi pelaksanaan pembelajaran daring selama pandemi.

“Pak, sebenarnya kapan sih anak-anak kami bisa kembali masuk sekolah? Saya sudah tidak betah. Sulit sekali mengingatkan anak saya untuk belajar. Setahu saya dia ya sudah memegang gawai. Saya kira sudah belajar. Eeh ternyata saya dipanggil.”

Seorang ibu sambil menggendong bayinya.
Komentar para orangtua peserta didik sangat beragam. Sebuah kebijakan yang diterapkan patut dievaluasi. Termasuk pemelajaran daring bagi satuan pendidikan. Mayoritas menanyakan kapan kembali sekolah kembali masuk. Pada umumnya mereka kesulitan mengontrol pemelajaran daring ini.

Setelah dilakukan evaluasi internal antara pendidik dan Kepala Sekolah SMPN 4 Katingan Kuala terkait belajar daring. Proses belajar yang sudah berjalan selama kurang lebih satu bulan pada tahun pelajaran 2020-2021. Ada beberapa peserta didik yang ditemukan tidak aktif mengikuti pemelajaran daring. Harus ada upaya untuk menarik mereka kembali pada ‘jalan yang benar’ dalam proses pendidikan.

Sebuah upaya untuk menjaga niat awal untuk pendidikan. Dari hasil diskusi para pendidik bahwa ditemukan data 29,2% peserta didik teroantau tidak atau kurang aktif dalam pemelajaran daring. Hal ini dapat dilihat dari pantauan grup kelas wa pada setiap tingkatan kelas.

Kondisi pandemi covid-19 tidak boleh menghalangi berlangsungnya pendidikan. Penerapan protokol kesehatan menjadi pilihan utama. Pemelajaran dari rumah adalah implikasinya. Pemelajaran secara online ini wajib diterapkan untuk menulis rantai penularan covid-19.

Evaluasi dimaksudkan untuk mengurai permasalahan saat belajar daring dari rumah. Satuan pendidikan berasumsi bahwa para orangtua mengetahui lebih banyak aktivitas putra-putri mereka di rumah.

Dari hasil evaluasi ditemukan bahwa orangtua kesulitan memantau aktivitas anak mereka selama di rumah. Mereka percaya bahwa anak-anaknya telah mengikuti pemelajaran daring. Gawai dan paket data sudah disediakan. Bahkan biaya paket data dapat mencapai 150- 250 ribu satu bulannya.

Banyak orangtua tidak memahami operasi gawai android. Ini menyebabkan masalah saat pengendalian anak-anak saat belajar daring. Para orangtua menyangka bahwa mereka telah benar aktif belajar.
Harapan bahwa pemelajaran daring dapat tetap berjalan maksimal.

Hal positif dari pemelajaran daring tetap ada. Para pendidik mempercayai bahwa beberapa peserta didik memilih aktif pada mata pelajaran yang disukai saja. Ini menunjukkan bahwa minat para peserta didik menunjukkan minat yang sebenarnya. Sekaligus ini dapat menjadi evaluasi pemelajaran bagi pengampu mata pelajaran.

Pemelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau daring masih tetap akan dilaksanakan. Evaluasi tetap perlu dilaksanakan agar masalah yang ada dapat segera diidentifikasi. Deteksi masalah adalah upaya pencegahan. Sebuah ungkapan mencegah lebih baik daripada mengobati. Dan inilah aplikasi dari Total Quality Management in Education yakni menghindar cacat produk sejak awal. Produk yang dimaksud adalah jasa layanan pendidikan.

SMPN 4 Katingan Kuala berkomitmen mengutamakan para peserta duduknya. Komitmen itu diwujudkan dalam penerapan perilaku dengan mengedepankan standar integritas guru, staff dan karyawan. Bahwa keberhasilan pendidikan bukanlah hasil personal tetapi merupakan kerja tim. Selain pengelola sekolah, peran orangtua dan wali sangat signifikan terhadap keberhasilan pendidikan. Mereka adalah pelanggan eksternal utama satuan pendidikan. Suara orang tua dan wali wajib didengarkan sebagai sarana evaluasi.
Jaya Makmur, Katingan, Kalteng. 24/8/2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *