Happy New Normal
MaryatiArifudin, 9 Juni 2020

PSBB telah dilonggarkan dan pemerintah telah menetapkan kebijakan New Normal (NN). Bagaimana menyikapi kebijakan baru? Agar pandemi covid 19 cepat berlalu.

Pandemi Covid-19 belum berlalu, membuat kita harus beradaptasi dengan kehidupan normal yang baru (NN). Kebijakan NN diaplikasikan secara bertahap diberbagai tempat di seluruh penjuru dengan memperhatikan SOP kesehatan. Berupa menjaga jarak (physical distancing), mengenakan masker kain tiga lapis, dan tidak bersalaman atau kontak fisik dengan orang lain.

“New normal bukanlah suatu hal yang mudah diterima begitu saja oleh seseorang”, ungkap psikolog Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi. Pendapat psikolog tepat sekali, saat NN diberlakukan ada kekhawatiran dari beberapa teman-temanku. Namun, sebagai ASN tidak bisa mengelak lagi. Kita semua harus menerima kebijakan itu dan belajar beradaptasi dengan menerapkan protokoler kesehatan. Ada yang istimewa di hari kerja pertamaku.

Agenda senin 8 Juni 2020 new normal di kantor dinasku. Pagi-pagi aku berburu waktu agar tidak terlambat di hari pertama kerja setelah WFH usai. Pendemi covid 19 membawa perubahan baru. Apa warna perubahan itu? Bagaimana menyesuaikan kerja di kantorku?

Kebijakan PSBB masih mewarnai kantor di tempat kerjaku. Jaga jarak setiap waktu, biasanya pagi udah cipika-cipiku dengan team kerjaku. Kuperhatikan satu-satu teman kerjaku, masih belum siap dengan perubahan baru. Pakai masker tiap keluar rumah apalagi mamasuki kerja di hari pertama hanya pegawai tertentu. Hitungan jariku, yang mematuhi pencegahan corona dengan mengenakan masker 60%. Sesungguhnya, di tempat kerjaku telah menyediakan masker untuk semua karyawan-karyawati. Meskipun, masker buatan tangan sendiri namun masih aman tuk pelindung diri.

Masker warna-warni mewarnai apel pagi pertama kali. Apel pagi dimulai tepat pukul 07.30 WIB, terasa sepi tanpa siswa-siswiku. Ada satu, dua, tiga karyawan-karyawati yang tidak ikut apel pagi. Mungkin ada alasan tertentu sehingga tidak hadir apel pagi. Mereka semua tahu, ndak apel pagi tidak menguangi tunjangan kenirja. Mungkin karena itu, kesepakatan tidak berefek pada kewajiban apel pagi.

Sebenarnya apel pagi suatu komitmen bersama dengan seluruh anggota di instansi sekolahku. Datang pagi pagi memburu absen pagi agar bersinergi dilakukan apel pagi. Ku perhatiankan, absen pegawai tidak ada yang alpha sama sekali. Begitu absen pagi usai, satu diua tiga pegawai tidak ikut apel pagi. Setelah dipanggil alasan sana sini, itu pertanda tidak disiplin diri. Bagaimana kusadarkan memahamkan penting apel pagi?

Kugambarkan nikmatnya apel pagi bersama saudara-saudaraku. Apel pagi pertama kali, cukup mengobati rasa rindu dengan semua tim kerjaku. Hampir dua bulan saat WFH dikomandangkan ksmi jarang bertemu. Hanya, bertemu satu per satu dengan jaga jarak tertentu itulah aturan pencegahan covid 19 di sekolahku. Semua kondisi seperti itu, berlaku juga untuk sekolah berasrama di instansiku. Mudah-mudahan segera berlalu agar bisa beraktivitas seperti dulu. Ku berdoa untuk harapanku.

Ada rasa haru saat kerja pertamaku. Muncul rasa rindu saat halal bi halal di lapangan basket sekolah. Ku awali keliling mendekati teman-teman dengan salaman tidak menyentuh diujung jemariku. Kusepakati bersalaman dengan model baru. Hatapanku, saling bermaaf-maafan mampu menumbuhkan silaturahmi bersama saudara saudaraku.

Evaluasi diri, membangun komitmen apel pagi udah kulewati. Dengan memperhatikan protokol kesehatan, agar ku mampu beradaptasi dengan kehidupan new normal di instansiku. Ku lewati dengan pasrah dan tawakal diri, mempraktekkan ilmu hasil tulisanku “Menggantungkan Kehidupan”. Hidup kita serahkan diri pada-Nya sesuai surat Al Imron ayat 83 yang berarti, “Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan”.

Kepasrahan diri kepada sang Maha Hidup, sangat diperlukan pada masa adaptasi kehidupan baru. Maka, dekatkan pada-Nya agar mendapat perlindungan dan bimbingannya. Hidup tanpa petunjuk Alloh kita akan tersesat.

Ingatlah kisah nabi ibrahim AS menjadi pembelajaran pada kita. Yang pada awal menggunakan logika berpikirnya untuk mencari tuhan. Ketika melihat bintang dan Bulan ia mengira itu adalah tuhan. Namun ketika semuanya terbenam dan berganti matahari, kemudian terbenam lagi, apa yang dilakukan Ibrahim. Ibrahim mohon petunjuk-Nya dalam mencari Tuhannya. Akhirnya beliau berkata andai Alloh tidak memberi petunjuk kepada ku niscaya aku termasuk orang-orang yg sesat.

Tanpa petunjuk dan bimbingan-Nya kita tidak mungkin menjadi orang yang beriman. Kita beriman juga karena Alloh. Lafadzkan! Lahaula waquwwata illa billah, tiada yang bisa lepas dari bergantung kepada Nya apalagi dalam menggadapi masalah-masalah besar saat ini. Lafadzkan kalimat toyibah berulah kali dengan sepenuh hati, agar aktivitas kehidupan pulih kembali.


Referensi:
https://www.kompas.com/sains/read/2020/06/09/070300923/3-fase-psikologis-manusia-hadapi-new-normal?page=all#page3
https://maryatiarifudin.wordpress.com/2020/06/08/rev-menggantungkan-kehidupan/
https://republika.co.id/berita/pzpuob349/ketaatan-totalitas-bukti-keimanan-kepada-allah-swt

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *