Perniagaan Yang Berkah
MaryatiArifudin, 16 Agustus 2020

Dimasa pandemi ini semua usaha dan dagangan kita tidak sesuai yang kita harapkan. Bahkan banyak yang terpaksa gulung tikar alias bangkrut. Eh …eh… eh… tapi tidak semuanya lho ada juga bisnis atau dagangan yang tidak pernah mengenal kata rugi. Bisnis apa dan bisnis sama siapa itu ya…? Ayo sama-sama kita cari tahu.

Diriwayatkan tentang kedermawanan Usman bin Affan terhadap kaum Muslimin khususnya kepada agama Allah adalah seperti berikut ini. Ketika kaum Muslimin hijrah dari Mekah ke Madinah, mereka dihadapkan pada masalah kesulitan air. Dimana di Madinah ada sebuah sumur, tapi sumur itu milik seorang Yahudi dan sengaja airnya diperdagangkan. Hijrahnya kaun Muslimin ke Madinah amat menggembirakan bagi orang Yahudi tersebut karena memberinya kesempatan untuk memperoleh uang yang banyak dari hasil penjualan airnya.

Demi Alloh dan Rasulnya, Kaum Muhajirin rela mengikuti Hijrah ke kota Madinah rela meninggalkan kesenangan dunia yang sementara. Mereka sadar orientasi hidupnya kampung akherat. Oleh karena itu, Rasulullah SAW sangat mengharapkan ada salah seorang sahabat yang mampu membeli sumur milik Raumah. Minimal untuk meringankan beban kaum Muhajirin yang telah menderita karena harta benda mereka ditinggalkan di kota Mekah.

Rasululloh seorang pemimpin yang mengayomi masyarakatnya. Sosok pemimpin dan sosok penasehat yang tanggap terhadap penderitaan terhadap sesama. Beliau berusaha meringankan beban derita rakyatnya, dengan mengajak para sahabat dan pengikutnya untuk menyelesaikan permasalahan yang ada. Sahabat yang dermawan tergerak hatinya, untuk mewujudkan cita-cita mulianya. Sang Ustman bin Affan berusaha menggunakan potensi harta dan daya nalarnya untuk mengambil keputusan terbaik dan melakukan negosiasi yang cermat.

Mengetahui kejadian seperti itu, Usman bin Affan bergegas pergi ke rumah orang Yahudi tersebut untuk membeli separuh sumur tersebut. Setelah terjadi tawar menawar maka disepakatilah harga separuh sumur itu 12.000,- Dirham. Dengan perjanjian satu hari menjadi hak orang Yahudi itu, dan keesokan harinya adalah hak Usman bin Affan atas sumur tersebut.

Pada giliran hak pakai Usman bin Affan, kaum Muslimin bergegas mengambil air yang cukup untuk kebutuhan dua hari secara gratis. Ia lakukan karena yakin bahwa Alloh yang akan membayarnya dengan harga berlipat ganda. Begitulah keimanan yang kokoh hasil tersibghoh oleh Kalamulloh. Sesuai janji Alloh SWT berfirman, “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui”.

Akhirnya, si Yahudi merasa rugi karena pada giliran hak pakai dirinya terhadap sumur itu tidak ada lagi kaum Muslimin yang membeli air padanya. Orang Yahudi tersebut mengeluh kepada Usman, dan akhirnya menjual seluruhnya kepada Usman dengan harga 8.000,- Dirham. Sumur itu selalu mengalirkan air yang melimpah untuk keperluan kaum Muslimin. Sampai saat ini, sumur ini terkenal dengan nama sumur The Well of Usman.

Itulah sebagian dari kedermawanan Usman bin Affan r.a. Usman bin Affan adalah seorang yang bertakwa, selalu bersikap wara’, ditengah keheningan malam dia selalu mengkaji Al-Qur’an. Setiap tahunnya dia menunaikan ibadah haji. Apabila ia berzikir, maka dari matanya mengalir air mata haru. Ia selalu bersegera dalam segala amal kebajikan dan kepentingan umat.

Semoga kisah keteladan sang sahabat nabi Utsman bin Affan dapat mengingatkan kita akan arti pentingnya berdagang /berbisnis dengan Alloh dengan mengasihi sesama. Berbisnis secara Ikhlas hanya untuk mengharap Ridho Allah SWT agar kelak Alloh selamatkan kita dari azab yang pedih. Sesuai firmannya sebagai berikut, “Wahai orang-orang yang beriman! Maukah kamu Aku tunjukkan suatu perdagangan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih?”. Musim pademi banyak saudara kita yang telah tiada berguguran karena wabah corona. Peristiwa ini menjadi momen tuk merenung diri untuk selalu mengingat mati.

Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (menyesali), “Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang shalih”. (Surat Al-Munafiqun, Ayat 10)

Jika, ajal telah tiada sudahkah kita semua menyiapkan amal terbaiknya? Pertanyaan ini selalu muncul saat saudara kita tertimpa musibah besar berupa kematian. Kesempatan emas tuk beramal terbaik masih terbuka untuk kita semua wahai sahabat. Renungkan! Banyak saudara kita mengalami kesulitan hidup di masa pandemi ini.

Surat Al Baqarah (2) : 254. Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa’at.

Ketauladanan kekasih Alloh telah dibukti oleh sang dermawan Usman bin Affan. Amal terbaiknya telah menjadikan saksi sebagai kekasih Alloh yang dijamin surganya. Pada musim pandemi ini, banyak pintu perdagangan yang terbuka lebar sebagai ladang amaliah. Kita semua masih dapat berbuat sesuai kemampuannya, sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli.

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *