Ketukan Bagi Orang Terbaik Negeri
MaryatiArifudin, 13 Agustus 2020

Rasa was-was itu pasti ada, entah datangnya dari mana. Cerita korban covid-19, sungguh mewarnai di seluruh media masa seantero dunia. Membuat semua insan waspada berusaha mencegahnya, semoga Tuhan Yang Maha Esa segera membersihkannya.

Ikhtiar untuk mendeteksi dini adanya virus covid-19 pada tubuh manusia dengan rapit tes atau swab. COVID-19 merupakan singkatan kata dari corona virus dan disease. Angka 19 yang ada di belakangnya mewakili tahun saat virus itu ditemukan yaitu 2019.

Perjalanan dinas pertama pasca pandemi ini, mewajibkan setiap orang menjalani rapit tes. Tesnya tidak seberapa, yang membuat dak dik duk itu hasil yang kita terima. Pertama kali tes rasa was was muncul tak terduga rasanya.

Sakitnya rapit tes tak terasa seperti digigit semut, namun pikiranku terasa melayang jauh. Kita tidak meminta sesuatu mengenai diri dan saudara-saudara kita. Yang tergambar dimedia bermunculan diwajah para peserta rapit. Mereka sabar menunggu hasil tes, jika ada strep satu berarti aman untuk melakukan perjalanan dinas. Hasil bebas corona sementara, bukan selama-lamanya. Kita tetap harus selalu waspada agar bisa terhindar darinya.

Sungguh corona merubah pola kehidupan nyata. Hampir setiap pekerja jasa menjerit karena olah virus corona. Namun, banyak orang tetap berusaha sekuat tenaga walau terjepit himpitan beban hidup.

Kemarinku berjumpa dengan sopir taksi yang telah berkerja ditaksi ternama mulai tahun 2013. Hampir tujuh tahun ia menjadi tulang punggung keluarganya dari hasil jasa taksi. Jeritan corona ia sampaikan, sampai berani mengambil keputusan agar bisa keluar dari himpitan corona ini.

Perusahaan taksi tidak mau rugi, memberlakukan dengan ketetapan tertentu. Sebelum corono berlaku ditetapkan kebijakan 2:1, ia tak mampu berbuat sesuatu. Semua bagi hasilnya hanya cukup untuk menghidupi anak istri. Tak terbayang dalam benaknya untuk membuat gubuk buat anak dan istri. Hal ini, tersampaikan lewat getaran dua lisannya dengan lirih.

Apalagi masa corono hampir 6 bulan, ia hanya mampu bertahan untuk makan saja. Bahkan, kadang tekor pendapatan hanya tuk beaya operasional berupa bensi dan makan. Terbayang udah dalam anganku, bagimana aku bisa berbagi tuk meringankan sang pekerja taksi.

Masa pandemi covid-19 diberlakukan aturan 3:1 bagi sopir taksi. Kebijakan 3:1 artinya 3 kali kerja dan 1 kali libur, aturan jam kerja baru masih menjadi momok sang sopir. Bagaimana ia bisa bertahan hidup? Kadang mereka bekerja dari jam 03.00 kembali jam 23.00 hanya mampu menyetor Rp. 197.000,- Mereka hanya mampu membawa pulang penghasilan @ Rp. 6.700,-

Ujian hidup bagi sang sopir taksi bertubi- tubi. Lagi-lagi masa pilu, penghasilan pernah sehari Rp. 6.700,- karena tak sampai target kena sanksi lagi. Ia harus libur 3 hari tidak boleh narik penumpang. Ibarat udah jatuh ketimpa tangga lagi. Hal inilah, jeritan sang sopir taksi masa pandemi ini.

Ku bertanya pada juragan sopir taksi, tidakkah bisa berbagi? Pada masa jaya taksi, tidakkah hari ini si pekerja taksi dapat dispensasi. Minimal sang juragan taksi dapat berbagi mengurangi derita sang sopir. Sang sopir tak mungkinlah bermales-males ria, karena mereka masih menghidupi anak istri. Cobalah duduk sama rendah, tuk mengetahui keluhan jeritan sang sopir hari ini.

Ku sampaikan angan panjangku. Harapan sopir taksi seakan aku pemilik taksi. Saya harus membantu tuk sang sopir taksi agar dapat hidup layak dan usahaku tidak rugi. Bagaimana langkahku, wahai sang sopir taksi?

Harapan meningkatkan prestise sang sopir tidak terlalu tinggi. Sebenarnya cukup kami diberi aturan 4: 1, kami dapat mimpi hidup layak yang berarti. Seperti layaknya pegawai yang lain. Harapan itu pasti bisa terwujud asal bentuk kerjasama bukan atasnama bisnis semata. Namun, bekerjasama atas dasar ikatan kasih sayang.

Bentuk saling tolong menolong dalam kebaikan tidak hanya terwujud pada saat bulan suci itu hadir. Namun, amalan istimewa bisa dilakukan pada saat seseorang memerlukan uluran tangan tuk segera dibantu. Amalan istimewa memberi kebijakan istimewa khusus sang sopir yang terkena dampak covid-19 banyak ditunggu. Cukup kebijakan 4:1 pasti akan mententramkan hati bagi si pemilik hati.

Ingatlah! Sang Kekasih Alloh SWT akan mengganti dengan amalan terbaiknya, jika seseorang mampu membantu kesusahan orang lain. Imam Syafi’i menyampaikan, “Barang siapa yang membantu menghilangkan satu kesedihan (kesusahan) dari sebagian banyak kesusahan orang mukmin ketika di dunia, maka Allah akan menghilangkan satu kesusahan (kesedihan) dari sekian banyak kesusahan dirinya pada hari kiamat kelak. Saat ini, kebijakan baru itu masih ditunggu-tunggu oleh sang sopir taksi yang selalu bekerja untuk melayani dengan hati.

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *