KNOWING ALLAH
Oleh: Abdul Mutolib Aljabaly

Apakah kita mengenal Allah?
Pertanyaan ini mungkin jarang kita dengar. Bagi sebagian orang mungkin terasa aneh dan terkesan tidak penting atau terkesan merendahkan keimanan kita. Padahal mengenal Allah dengan benar (ma’rifatullah) adalah sumber kebahagiaan dan ketentraman hidup serta sumber keselamatan.

Manusia diciptakan dan dihadirkan oleh Allah ke dalam kehidupan dunia ini untuk menyembah dan mengabdi kepadaNya (QS. ad-Dzariyat:56). Hal ini mengharuskan manusia mengenal siapa Zat yang harus disembah tersebut dan bagaimana ia harus disembah dengan semestinya.

Akibat tidak mengenal Allah dengan baik dan benar manusia tidak akan menyembahNya dengan benar dan dengan kesungguhan. Ada yang merasa menyembah Allah tetapi sebenarnya ia tidak menyembahNya dengan benar. Hal itu seperti mereka yang masih berbuat syirik dalam menyembah Allah.

Orang-orang musyrik zaman Jahiliyah juga merasa menyembah Allah. Mereka menganggap bahwa berhala hanyalah sesembahan antara yang mengantarkan mereka pada Allah. Allah Swt. berfirman dalam QS. az-Zumar :3,
وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُون
Orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (mereka berkata) : “ Kami tidak menyembah mereka melaikan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya” Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih tentangnya.

Pada zaman sekarang, perbuatan menyekutukan Allah secara fisik seperti menyembah selain Allah secara fisik sudah jarang ditemukan di tengah-tengah masyarakat muslim.

Akan tetapi kita perlu menyadari bahwa hakikat ibadah adalah semua bentuk perbuatan hamba yang dilakukannya dalam rangka ketundukan dan mendekatkan diri kepada Allah Swt. Ibadah mencakup ibadah fisik, ibadah harta, dan ibadah hati. Yang termasuk ibadah hati adalah mencintai, berharap, takut dan bertawakal kepada Allah. Semua bentuk kecintaan, rasa takut, harapan, dan penyerahan diri yang paling tinggi tidak boleh diarahkan kepada selain Allah Swt.

Dari sisi ini, ternyata masih banyak orang yang takut kepada makhluk seperti mereka takut kepada Allah atau bahkan lebih dari itu. Masih banyak orang yang mengharap kepada makhluk seperti mereka mengharap kepada Allah atau bahkan lebih dari itu, sehingga mereka berdoa kepada selain Allah atau menyerahkan sesaji kepada selain Allah baik itu roh atau tempat yang dianggap keramat. Hal itu semua terjadi karena mereka tidak mengenal Allah atau tidak betul-betul mengenalNya.

Seandainya mereka benar-benar mengerti bahwa Allah adalah ilah satu-satunya yang haq untuk disembah dan tidak boleh disekutukan dengan sesuatu apa pun, maka mereka tidak akan melakukan itu. Karena bagi orang yang bertauhid kesyirikan sekecil apa pun tidak bisa ditolerir.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Nuaim dan Ibnu Abi Syaibah dari Thariq bin Syihab. Rasulullah saw bersabda : “Ada seorang laki-laki yang masuk surga gara-gara seekor lalat, dan ada pula seorang laki-laki yang masuk neraka gara-gara seekor lalat.” Para sahabat bertanya: “Bagaimana hal itu bisa terjadi wahai Rasulullah ?” Beliau menjawab: ”Ada dua orang laki-laki melewati suatu kaum yang memiliki berhala. Tidak ada seorang pun yang diperbolehkan melewati daerah itu kecuali berkorban (memberi sesaji) untuk berhala tersebut. Mereka pun mengatakan kepada salah satu dari keduanya, ”Berkorbanlah!” Ia pun menjawab: “Aku tidak punya apa-apa untuk dikorbankan.” Mereka mengatakan, “Berkorbanlah, walaupun hanya dengan seekor lalat!” Ia pun berkorban dengan seekor lalat, sehingga diperbolehkan lewat dan meneruskan perjalanan. Karena itulah ia masuk neraka. Mereka juga memerintahkan kepada yang satunya; “Berkorbanlah.” Ia menjawab: “Tidak pantas bagiku berkorban untuk sesuatu selain Allah azza wa jalla.” Akhirnya mereka pun memenggal lehernya. Karena itu ia masuk surga.

Yang harus kita waspadai saat ini adalah munculnya rasa takut, harap dan cinta ubudiyah yang ditujukan kepada selain Allah. Allah Swt. mengingatkan hal itu dalam firmanNya;
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ (البقرة:165)
Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.

Untuk mendeteksinya adalah jika rasa takut, harap, dan cinta kita kepada makhluk sama dengan rasa takut, harap, dan cinta kita kepada Allah atau bahkan melebihi, maka itulah kesyirikan.
Hal lain yang harus kita sadari, jika kita tidak mengenal Allah dengan benar, maka kita tidak akan beribadah kepada Allah dengan sungguh-sungguh. Hal itu karena kita tidak bisa merasakan kehadiran Allah al ma’bud dalam setiap ibadah kita. Atau bahkan mungkin kita tidak mengetahui siapa yang kita sembah dan apa makna gerakan-gerakan dalam ibadah kita. Dalam kondisi seperti ini ibadah hanya sekedar menggugurkan kewajiban dan tidak ada nilai pahala di sisi Allah.

Dalam beribadah semestinya kita berusaha memenuhi standar kualitas. Kualitas tertinggi ibadah disebut ihsan. Menurut penjelasan Nabi saw. ihsan adalah beribadah kepada Allah seakan-akan kita melihatNya (musyahadah), bukan melihat Zat Allah tapi melihat keagunganNya, atau kita merasakan bahwa Allah melihat dan mengawasi kita (muraqabah) sehingga senantiasa berusaha membaguskan ibadah tersebut.

Mengenal Allah adalah sumber kebahagiaan dan ketentraman hidup. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Ilmu tentang Allah merupakan sumber kebahagiaan seorang hamba, dan ketidakmengertian tentangnya merupakan sumber kebinasaan.” (Miftah Darus Sa’adah)

Mengenal Allah menumbuhkan keimanan dan ketakwaan serta mengantarkan hamba untuk merasakan manisnya iman. Orang yang mengenal Allah akan memiliki keyakinan kuat akan pertolongan Allah (as-tsiqqah billah) sehingga ia merasa aman karena bergantung pada sumber segala kekuatan. Orang yang mengenal Allah akan senantiasa mengingat dan mengagungkan Allah Swt sehingga ia dekat dengan sumber segala ketentraman. Ini semua merupakan sumber kebahagiaan tertinggi dalam kehidupan manusia.

Sebaliknya orang yang tidak mengenal Allah ia tidak akan menemukan ketentraman dan kedamaian yang hakiki, meskipun ia memiliki segalanya dari kehidupan dunia; harta yang melimpah, jabatan yang prestisius, pasangan hidup yang menawan, dan kebintangan yang mendatangkan banyak kekaguman.

Mengenal Allah bukan dengan mengenal ZatNya, tetapi dengan mengenal keagungan sifat-sifatNya dan tanda-tanda kebesaranNya yang tersebar di seluruh alam semesta. Untuk mengenal Allah kita harus mepelajari dan mentadabburi ayat-ayat qaulyah (Alquran dan sunah) dan mentadabburi ayat-ayat kauniyah, yaitu segala ciptaan Allah di alam semesta ini. Semakin kuat kita berusaha mengenal Allah maka semakin kuat keyakinan dan keimanan kita kepadaNya tidak hanya pada tingkatan ilmul yakin, tetapi hingga tingkatan haqqul yakin.

Dengan demikian tafaqquh fiddin dalan bentuk mengkaji ayat-ayat Alquran dan hadis-hadis Nabi saw baik secara mandiri atau menghadiri majlis-majlis ta’lim dan pengajian adalah kebutuhan asasi dan dharuri bagi setiap orang yang ingin mengenal Allah agar dapat meraih ketentraman dan kebahagiaan hidup serta keselamatan di dunia dan akhirat.
Wallahu a’lamu bi as-shawãb.

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *