Pertanyaan Tak Perlu Jawaban
MaryatiArifudin, 25 Juli 2020

Pernahkah kita bertanya, apa yang menjadi momok pembelajaran? Bayangkan! Kesulitan yang dihadapi pendidikan di negeri ini dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi duduk di bangku belajar. Ku bertanya kapan waktunya menerapkan ilmu dasar sampai ilmu perguruannya?

Dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi dijejali rumus ujian. Sistem pembelajaan selama ini selalu mengajarkan ujian, ujian, dan ujian. Akibatnya, kaum pembelajar hanya belajar ketika ujian saja.

Jadi mengingatkan teori uji T, biasanya uji ini digunakan untuk penelitian sederhana dengan membandingkan dua perlakuan yang berbeda. Ayolah, berkaca dengan kualitas didikan para shalafusholeh yang hasilnya terbukti unggul. Tengok riwayat tokoh-tokoh generasi tabiin yaitu Muhammad Al Fathih dan Salahudin Al Ayubbi. Bagaimana sistem mendidiknya?

Muhammad Al Fathih penakluk Konstantinopel sebagai panglima tertinggi pada usia 21 tahun. Ia dididik dua guru besar dengan kedisiplinan yang tinggi. Saat belajar, Al Fathih kecil awalnya sering tidak konsentrasi. Al Fatih suka berlari-lari dan pandangan sering ke luar ruangan, akibatnya pernah mendapat sanksi cambuk rotan. Sejak, saat itu Al Fatih sungguh-sungguh dalam belajar. Kesungguhannya membuahkan hasil usia 8 tahun Ia hafal Al Qur’an dan usia 16 tahun mahir dalam 6 bahasa.

Pentingnya kehadiran seorang guru dalam mentranfer karakter dan pengetahuan. Pembimbing utama Al Fatih belia sang guru Syeikh Ahmad Al-Kurani dan Syeikh Aaq Syamsuddin. Materi dari Syeikh Ahmad mengajarkan Al Qur’an, sedangkan guru Syamsuddin mengenalkan rasululloh, sejarah para sahabat, ilmu lainnya. Sejak usia dini, tertanam jiwa sosok idola yang ia tiru untuk berbuat terbaik hadir dari kedua sang murobinya.

Bekal ilmu yang disampaikan oleh gurunya, Al Fatih mempunyai kesempatan untuk berbuat dalam kehidupannya. Setelah menginjak usia baliq ia telah melakukan amalan terbaik. Hal terbaik yang ia kerjakan : sholat tahajud, sholat rowatib, sholat berjamaah di masjid, tidak pernah masbu’ saat sholat. Wajar sekali lahir kasatria muda terbaik saat itu, sesuai prediksi bahwa Kota Konstantinopel akan ditundukkan dibawah pemimpin terbaik.

Pemimpin terbaik yang terbaik tidak haus dengan kedudukan dan harta benda. Tergambar sikap mulia Al Fatih yang berarti sang penakluk. Sikap muliaannya, tidak turun dari langit. Sikap mulia berkat bimbingan orangtuanya dalam menyiapkan calon pemimpin sejak dini. Orang tuanya Al Fatih adalah Sultan Murad II keturunan keenam pemerintahan kholifah Utsmaniah. Sang pemimpin yang tunduk dengan aturan Tuhannya, Al Fatih telah digadang-gadang oleh orangtuanya.

Renungkan! Tengok kisah Nabiyulloh SAW, dipersiapkan oleh Alloh SWT sebagai pemimpin, tauladan, dan sebagai guru alam semesta. Dipersiapkan dari alam ruh, lahir dalam keadaan yatim. Kejadian itu bukan kebetulan, namun persiapan Alloh SWT dalam mempersiapkan membangun peradaban yang spektakuler. Terlahirlah generasi yang terbaik yaitu khairu umah, dibawah binaan murobi terbaik.

Ajarkan! Fitrah anak-anak yang suci sesuai petunjuk kalam Illahi Robbi. Jiwa fitrah bertemu dengan Al Qur’anulkarim yang suci mampu melejitkan potensi diri. Bukti-bukti nyata tersampaikan lewat kalam Illahi, bersama kitab suci mampu melahirkan generasi robani tercatat dalam sejarah suatu negeri.

Bersama Al Qur’an tumbuhkan jiwa yang fitri. Ajarkan kisah-kisah perjuangan para nabi dan rosul. Sampaikan sejarah perjuangan risalah dakwah para nabi, riwayat Ashabul kahfi, dan Ashabul khudud agar tertanam ruh iman pada jiwa yang fitri. Seperti kisah Ashabul khudud, jiwa kepahlawanan dalam memperjuangkan aqidahnya diabadikan dalam Surat Al Buruj. Kisah nyata diperdengarkan ke semua generasi agar mampu menumbuhkan ghiroh keimanan dan ketaqwaan.

Perhatikanlah! Al Qur’an surat Al Buruj berisikan peristiwa memilukan yang dialami oleh orang-orang mukmin sebelum kelahiran Nabiyulloh SAW. Suatu kaum yang beriman mempertahankan keyakinannya dibakar hidup-hidup oleh penguasa yang dzalim. Kaum itu, karena mengikuti keyakinan sang pemuda mukmin yang dibesarkan oleh pembesar Najran yang mendewakan diri. Peristiwa ini, diabadikan dalam surat Al Buruj ayat 4 berarti: Binasalah orang-orang yang membuat parit (yaitu para pembesar Najran di Yaman).

Sampaikan pada generasi muda tentang kisah kepahlawanan, pengabdian Maryam, dan kisah orang-orang mulia yang dijamin surga-Nya. Hidupkan ghiroh mengamalkan Al Qur’an pada jiwa yang fitrah. Tumbuhkan jiwanya agar menjadi pribadi sederhana, pribadi yang zuhud, dan cinta kebaikan. Kisah-kisah itu, tersampaikan pada semua generasi agar tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dalam segala situasi.

Dengarkan kisah pengabdian Mayam terhadap Robbnya yang selalu menjaga kehormatannya. Perhatikanlah! Surat Al Thamrim ayat 12 artinya: Dan (ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-Kitab-Nya, dan dia adalah termasuk orang-orang yang taat. Bagaimanakah Muhammad Al Fatih dibesarkan?

Membentuk kader yang terbaik orangtua tidak berpangku tangan, ia datangkan Sang Murobi terbaik. Kepercayaan penuh antara orangtua dan sang murobi dalam mendidik calon pemimpin mereka pertaruhkan. Hasil pendidikannya, sangat spektakuler menjadi pemimpin terbaik dan amanah mereka buktikan.

Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” [H.R. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad 4/335].

Saat menentukan komando penundukan kota Konstantinopel, Al Fatih berdialog dengan pasukannya. Al Fatih menyeleksi pasukannya, agar mendapat pemimpin terbaik. Kreteria terbaik itu ia sampaikan pada pasukannya. Al Fatih memahami pasti terdapat pemimpin terbaik dari satu anggota pasukannya. Sehingga Al Fatih, membuka peluang untuk menawarkan kesempatan siapa yang pantas menjadi panglima tertinggi.

Kriteria terbaik telah ditetapkan dan ditujukan untuk seluruh anggota pasukan agar mendapat peluang menduduki panglima tertinggi. Kriteria meliputi pernyataan: saat akil baliq siapa yang tidak pernah meninggalkan sholat tahajud, sholat rowatib, sholat lima waktu di masjid dan tidak masbu’. Siapa yang menyandang kriteria kebaikan itu, tentunya berhak menjadi pemimpin pasukan khusus. Hasil sebuah pendidikan tergambar jelas, tertoreh dalam sejarah sebagai bukti bahwa Muhammad Al Fatih terbaik dalam pasukannnya. Inilah, hasil didikan para sang murobi hebat tercatat dalam sejarah dunia. Bagaimana dengan proses pendidikan di negeri tercinta?

Tengoklah kurikulum di Eropa. Berita ini, saya ambil kabar dari whatsApp sahabat. Bandingkan evaluasi jenjang pendidikan masing-masing tingkatan dalam sistem pendidikan. Jenjang Pra Sekolah ( TK) di luar sana, kurikulum menitik beratkan menajemen diri. Namanya, tingkat taman kanak-kanak diajarkan dan dilatih kesiapan dalam belajar. Pesan kebaikan disampaikan melalui belajar sambil bermain. Belajar mengenali diri bersama teman-teman.

Kurikulum jenjang Sekolah Dasar bertujuan mengeksplor lingkungan. Tentunya, diawali atau dikenalkan tanggung jawab diri baik sebagai anggota keluarga, anggota sekolah, dan lingkungan sekitar. Tumbuhkan tanggung jawab kedudukan manusia dalam jiwanya. Sehingga terbangun kecakapan softskill jiwa peduli, tanggung jawab, kasih sayang, halal dan haram, dosa dan pahala, tentu sesuaikan pertumbuhannya.

Dalam mengeksplor lingkungan, sang murid perlu dibangkitkan motivasi menyampaikan perasaan, bercerita, berbuat sesuatu. Peran guru harus mampu mengoptimalkan potensi masing-masing peserta didik itu. Tumbuhkan motivasi untuk mengenalkan huruf-huruf melalui cerita sederhana. Ajari mereka untuk mengoptimalkan potensi yang ada. Dahulu kita bisa membaca ala biasa bersama buku-buku cerita sederhana. Tumbuhkan gemar membaca di usia belia, pasti ada perubahan nyata.

Tingkatan SMP kurikulum ala Eropa, menemukan bakat dan tingkat SMA merangcang karir atau masa depan. Terakhir tingkat perguruan tinggi berupa membangun dan mematangkan core skill diri. Mematang keterampilan sesuai potensi yang telah dipelajari. Hasil output akhir studi telah terstuktur dengan rapi. Bagaimana dengan kurikulum hari ini, bolehkah bersama-sama berbenah diri.

Terbayangkah sistem pendidikan dari zaman Belanda hanya berupa perubahan tambal sulam. Dari tingkat pra sekolah dasar, SD, SMP, SMA, sampai Perguruan Tinggi sistem ujian, ujian, dan ujian. Ujian sekolah tidak pernah berhenti, bak seperti ujian kehidupan. Akhirnya, banyak berguguran peserta didik dalam menghadapi ujian sekolah. Padahal, kita telah dimaklumatkan dalam UUD 1945 pasal 31 ayat 1 bahwa setiap warga negara berhak mendapat pendidikan.

Bukankah, hasil belajar sasaran utama adalah perubahan sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Tidakkah, semua sasaran belajar diawali dari proses pembelajaran. Pertanyaannya siapa yang paling tepat mengukur hasil belajar itu?

Kompetensi yang tepat untuk mengukur proses belajar tentunya sang murobi atau guru. Sang gurulah yang memahami perubahan peserta didik beri kepercayaan dalam melaporkan proses belajar yang terbaik. Ketulusan pembinaan, pendampingan, dan pembimbingan disampaikan dalam bentuk narasi terbaik. Hal ini, pentingnya pembatasan jumlah peserta didik dalam satu ruang agar sang guru mampu mengenal pribadi peserta didik setiap waktu. Kurangilah beban wajib mengajar guru, agar sang guru mampu berbenah diri dan mempersiapkan bekal mengajar terbaik.

Kualitas pendidikan harus diperbaharui, optimalkan fungsi pengawasan untuk memajukan negeri. Pengawaslah yang terjun langsung bertanggung jawab memajukan pendidikan. Pengawas pendidikan sebagai penggerak kemajuan yang setiap waktu aktif mengevaluasi. Pengawas yang energik dan selalu melakukan inovasi demi kemajuan pendidikan di ibu pertiwi. Pengawas yang selalu memberikan penilaian dan saran-saran terbaiknya. Pengawas yang berdikasi dan berkontribusi perlu dihargai, sehingga fungsi pengawasan berjalan baik.

Pertanyaanku tak perlu jawaban, namun tindakan nyata. Tindakan para pihak yang berperan membesarkan pendidikan untuk negeri tercinta. Mimpi akan menjadi nyata. Harapan besar, ada perubahan melalui tulisan walau berupa sentilan sederhana.

Referensi :
 https://www.muhaemin-af.com/2018/03/anak-itu-bernama-muhammad-al-fatih.html?m=1
 https://m.detik.com/news/berita/d-4824776/5-fakta-muhammad-al-fatih-sang-penakluk-konstantinopel
 https://republika.co.id/berita/phgz7g320/kisah-ashabul-ukhdud-rasulullah-baca-taawuz-mengapa

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *