Berguru Pada Ibrahim As Membuat Hidup Mulia
MaryatiArifudin

Kadang kita tidak dapat memilih suatu kondisi tertentu, namun hanya mampu menjalaninya. Bersyukurlah kondisi yang tak mampu kita pilih tidak menjadi kriteria menggapai kemuliaan.

Begitu ketetapan ditujukan buat kita, kita hanya meramunya mau mulia atau hina di mata-Nya. Sesuai pandangan Tuhannya mulia manusia hanya satu syarat yaitu taat pada aturan-Nya. Satu syarat itu menjadikan seseorang hamba dikatakan bertaqwa.

Menjadi mulia bukan karena strata, bukan keturunan, dan bukan warna kulit. Sungguh pelajaran yang lurus ini mengajarkannya. Derajat mulia seseorang hanya satu syaratnya yaitu ketaqwaan. Satu kunci menjadi mulia, gunakan pakaian taqwa dimanapun, kapanpun dan kondisiapun kalian berada. Bergurulah dengan Ibrahim AS.

Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat! (Qs 2: 197).

Abu ‘Amrah Sufyân bin ‘Abdillâh ats-Tsaqafi Radhiyallahu anhu, yang berkata : “Aku berkata, ‘Ya Rasulullah! Katakanlah kepadaku dalam Islam sebuah perkataan yang tidak aku tanyakan kepada orang selain engkau.’ Beliau menjawab, ‘Katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah Azza wa Jalla,’ kemudian istiqamahlah.’”

Berguru pada Ibrahim AS, dalam pengembaraan mencari Tuhannya. Beliau saat berada di lingkungan keluarga, ia tidak mengikuti ajaran nenek moyang. Nabi Ibrahim banyak menggunakan pertimbangan akal pikirnya. Benarkah ajaran nenek moyangnya?

Ibrahim AS mengunakan akal dan logika yang tepat dalam mencari kebenaran dan tetap bersadar pada-Nya. Ibrahim AS selalu memohon petunjuk untuk mengungkap kebenaran. Dengan kebenaran-Nya, Beliau mampu mengenal Rabbnya. Di ujung pengembaraannya Beliau mengandalkan kekuatan doa.

Lalu ketika dia melihat bulan terbit dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Tetapi ketika bulan itu terbenam dia berkata, “Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat”. (Surat Al-An’am, Ayat 77).

Atas bimbingan-Nya Ibrahim AS selalu mendedisikasikan seluruh hidup untuk Tuhan Semesta Alam. Seluruh ibadahku, sujudku, dan matiku, ku persembahkan pada-Nya. Seluruh keluarganya responsif terhadap perintah-Nya.

Cepat respon atau tanggap pada perintah-Nya meski harus mengorbankan diri dan keluarganya. Keluarga Ibrahim AS mengutamakan Alloh SWT lebih dari segala-galanya. Keimanannya melahirkan totalitas ketaqwaan tertinggi yang akan membawa kemuliaan hidup.

Istiqamah adalah meniti jalan lurus yaitu agama yang lurus tanpa menyimpang ke kanan atau ke kiri. Istiqamah mencakup melakukan seluruh ketaatan, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi dan meninggalkan seluruh yang dilarang.

Keistiqomahan terhadap perintah-Nya pada seluruh keluarganya, mereka buktikan dalam tindakan. Terbukti saat mimpi untuk mengorbankan putranya. Kepasrahan anak dan bapak diganti pengurbanan yang agung diganti penyembelehan yang agung jua. Sosok bapak para nabi abu ambiya mencontohkan prioritas ketaatan pada perintah-Nya mengalahkan dunia seisinya.

Demikian juga Siti Hajar, istri nabi Ibrahim As kepasrahannya menjalankan perintah-Nya digantikan kemuliaan Masjidil Haram. Makkah Al Mukaromah merupakan tanah mulia yang dapat dirasakan sampai saat ini. Kemuliaannya dirindukan oleh orang-orang yang bertaqwa dari berbagai penjuru dunia.

Gambaran keluarga Ibrahim, bukti sejarah ada didepan mata dan terasakan sampai saat ini. Tuhan-Nya akan memanggilnya bagi yang terpanggil. Yang terpanggil dikhususkan orang-orang terpilih dan merindu untuk berjumpa walau dengan pengorbanan fisik dan hartanya.

Siapa yang mampu berkunjung ke tanah suci? Kesempatanan emas yang harus segera ditunaikan dengan menyisihkan tabungan keluarga dan bekal taqwa yang utama. Niatlah, dari sekarang mumpung masih muda dan masih bisa berusaha. Sisihkan, tabungan haji dari sekarang tidak usah menunggu kaya.

Cukup bekal taqwa diri kita mampu menunaikannya dan jangan ditunda untuk menabung haji bersama keluarga. Niat dikokohkan, tabungan haji tidak boleh diambil sedikitpun tanpa alasan apapun. Kecukupannya, pasti ada jalan lain ke Mekah Al Mukaromah.

Thawaf menuju satu titik. Membesarkan, memuji, mentauhidkan, mengagungkan pada Tuhan Semesta Alam. Datang menemui panggilan yang Maha Mulia. Segala puja dan puji untuk mengagungkan-Mu. Ku yakini: kenikmatan bersumber darimu, Kau pemilik kerajaan. Hal itu, ruh arti doa thowaf: Labaika Allohuma Labaik…….

Siapapun yang menemui panggilan-Nya akan bergerak menunaikan kesempurnaan imannya. Yang terpanggil tidak membedakan warna kulit, strata, ataupun keturunan siapapun. Yang terpanggil adalah orang yang bertaqwa, ia yakin berjumpa dengan Tuhan-Nya. Mereka rindu memenuhi panggilan-Nya.

Jangan pernah ragu mendedikasikan hidup pada-Nya. Alloh akan ganti dengan yang lebih baik. Tuhan yang tak pilih kasih, Alloh SWT akan mengangkat derajat orang bertaqwa ke derajat yang lebih tinggi. Ganjaran yang diterima dari-Nya tidak sebanding dengan apa yang dikorbankan.

Didiklah putra-putrimu barometer utamanya akherat. Cari sekolah yang mampu mengenalkan Tuhan-Nya. Sehingga, saat dewasa nanti orientasi hidupnya ibadah terbaik. Saat memilih pekerjaan, mereka mencari lingkungan yang mampu mengantarkan dan membawa mengabdi pada-Nya.

Belajar dari keluarga nabi Ibrahim sebagai figur bapak tauhid. Totalitas Nabiyulloh AS mendedikasikan hidup pada-Nya. Mampu merubah sesuatu yang mustahil menjadi niscaya.

Jalani setiap ujian dalam kehidupan dengan keihlasan hati dan perbuatan. Sungguh ujian hidup bukan pilihan. Tapi, percayalah ujian kehidupan adalah bentuk pembelajaran yang akan mendewasakan untuk selalu bergantung pada-Nya.

Dengan tawakal, segala lara akan sirna. Semua orang, pasti melewati ujian kehidupan itu. Ujian bak roda kehidupan, kadang di atas dan kadang di bawah. Tidak selama yang di atas penuh dengan kenikmatan. Yang di bawah tidak selamanya penuh dengan hina.

Kadang yang di bawah terasa indah dipandang dari atas. Kadang yang di atas terasa cantik terlihat dari bawah. Hal itulah, hidup itu terbaik hanya dipandang dari satu sudut pandang saja.

Menjalani hidup itu, hanya wang sinanawang artinya ukuran hidup itu hanya membandingkan dengan seseorang. Padahal, apa yang kita lihat dari seseorang tidak seindah yang mereka merasakan. Bersyukurlah dengan karunia yang ada.

Seseorang sudah ada ukuran kebahagian masing-masing dan ujian tersendiri. Jalanilah ujian kehidupan dengan besar hati dan rido pada-Nya. Insya Alloh setiap usaha mengatasi ujian itu, sungguh akan memuliakan kita. Alloh SWT akan menggantikan derajat yang tinggi jika kita sabar dan ridlo pada-Nya. Bukankah, Sang Kekasih selalu menguji kekasihnya, seperti Ibrahim AS.

Jangan ragu, untuk menjadikan mulia pada diri kita dengan bertaqwa pada-Nya. Taqwa sesungguhnya mentaati perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Satu cara menggapai mulia tidak lain hanyalah bertaqwa pada Tuhan Semesta Alam Raya.

Referensi:
https://almanhaj.or.id/3351-iman-dan-istiqamah.html

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *