Menempatkan Malu Yang Terbaik
MaryatiArifudin, 21 Juli 2020

Berbuatlah sesuka hatimu, balasannya akan kembali padamu. Cintailah apa yang kau cintai, suatu saat kau akan berpisah dengannya. Nasehat agung membawa perilaku yang mulia.

Sungguh malu itu adalah karakter yang wajib ditumbuhkan pada zaman ini. Satu kata penuh makna harus tumbuh dalam jiwa. Karakter mulia yang menjadi pondasi bersikap dalam tatanan kehidupan yang tak boleh diabaikan. Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak Islam adalah malu.

Sesuai hadits riwayat Ath Thabrani menyatakan: Wahai Muhammad! Hiduplah sesukamu, karena sesungguhnya kamu akan mati. Cintailah siapa yang kamu suka, karena sesungguhnya engkau akan berpisah dengannya. Dan berbuatlah sesukamu, karena sesungguhnya engkau akan diberi balasan karenanya.

Malu adalah satu kata yang mencakup perbuatan menjauhi segala apa yang dibenci. Formula khusus diramu dengan mendefinisikan kata malu yang tepat. Mengaplikasikan malu dalam bersikap sesuai syariat. Sampaikan ini pada generasi sejak belia, sehingga rasa malu masuk dalam jiwa saat dewasa.

Ku belajar dari sang anak yang memberi pelajaran berharga penempatan malu yang belum pas. Kadang ilmu itu muncul dari peristiwa sederhana. Si Oel keponakaanku, kadang berolah. Saat pasca pandemi di kampus SMK berlangsung, masyarakat membuat prakondisi pembelajaran. Kami sepakati dengan warga kampus SMK, jam wajib belajar jam 08.00 sampai 12.00 WIB.

Si Oel ndak mau ikut jam wajib belajar. Padahal, hatinya sejak lama pingin masuk sekolah. Oel empat tahun umurnya, hanya menengok memperhatikan teman-teman seusianya yang asik belajar. Gurunya meminta, “Oel masuk kelas, ia langsung lari menjauhi kelas”. Ku paksalah, Oel untuk pulang kerumah sambil ku gendong ia menangis sekuat-kuatnya. Ku ambil Oel dari halaman kelas agar suasana belajar tidak terganggu olah tingkahnya.

Kadang kami tidak memahami olah si anak. Begitu menangis tak pernah bertanya mengapa menangis, mengapa tidak mau sekolah, dll. Kadang kita mengeluarkan jurus lama, ambil rotan tuk menakut-nakuti agar si anak diam. Makin liat rotan, makin berteriaklah tangisnya. Sambil menangis sang anak makin sulit menyampaikan alasan pelanggarannya. Ndak selesai nih, menyelesaikan masalah pagi tadi.

Akhirnya, habis maghrib barulah kami mengetahui jawabannya. Si Oel tidak mau sekolah karena malu dan takut. Saat di tanya, Si Oel takut dengan siapa? Ia ndak mampu menjawabnya. Lanjutlah kami bertanya, ” kenapa Oel malu?”. “Oel tidak bisa membaca dan menulis”, jawab Oel singkat dan padat.

Jawaban usia anak umur empat tahun secara fitrah telah mengenal rasa itu. Kebiasaan malu sejak kecil telah tertanam dalam akalnya. Saatnya, kita belajar membangun komunikasi dengan putra-putri kita. Duduk sama rendah berdiri sama tinggi, agar terbangun komunikasi yang efektif. Yang tua tidak selamanya benar dan bijak dalam mengambil keputusan. Berilah kesempatan si anak untuk menyampaikan alasannya agar kepribadiannya tumbuh sempurna.

Tinggal memoles sikap malu yang salah tadi. Sikap malu Oel tinggal diluruskan dikit, sesuaikan dengan bahasa kalbunya. Oel ku ajak cakap-cakap ringan setelah amarahnya redam. Untung Si Oel tak punya rasa dendam, habis marah mudah tersenyum. Saat itu, ku luruskan kata malu tadi. Ku berkata,” Oel, sekolah itu tempat belajar. Tempat melatih Oel agar bisa membaca dan menulis. Nanti, saat sekolah Oel akan diajari menulis”.

Oel kurang yakin akan jawabanku. Ia balik bertanya,” Oel tidak bisa menulis, menulis itu sulit”. Ku sampaikan dengan untaian kata baru. Coba perhatikan kepala Oel, Oel memperhatikan kepalaku. Ia tersenyum lebar sambil melihat wajahku.

“Oel coba gambar kepalanya umi ini”, perintahku. “Aku tak bisa gambar mulutnya”, kata Oel. “Ku monyongkan mulutku, ini namanya huruf O”, kataku. Oel tertawa riang gembira, saat itu segera ku munculkan pesan penting padanya. “Besok berangkat ke sekolah pagi-pagi nak yaa”, ku bisikkan ditelinganya. Ia mengangguk sambil tersenyum. Rasa malu yang kurang tepat dirasakan Oel, dirubah menjadi semangat belajar untuk menyambut pagi hari.

Hari ini, ku belajar bersama Oel. Oel usia empat tahun punya rasa malu itu. Kadang sebagai orang tua kita mengabaikan rasa malu itu. Sungguh, berkurangnya rasa malu bertanda turunnya keimanan kita. Berhati-hatilah dalam bersikap dan selalu wawasdiri setiap apa yang telah kita lakukan. Sungguh, malu adalah satu kata yang mencakup perbuatan menjauhi segala apa yang dibenci-Nya. Jadikan malu sebagai akhlak setiap insan yang hidup di dunia fana.

Referensi:
https://almanhaj.or.id/12190-malu-adalah-akhlak-islam-2.html

Bersama kepala dinas pendidikan dari jam 14.00 sd 18.00. Agar bisa berlatih menulis. Pekanbaru

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *