3L2K1I

Oleh: Moh. Anis Romzi

Latihan Lebih Lama dengan penuh Konsisten, Kualitas dan Ikhlas.
Apakah ini sebuah rumus? Jawabnya iya. Ini adalah rumus kehidupan manusia. Semua orang boleh mempunyai rumusnya sendiri. Itu adalah hak siapa saja. Rumus ini mempermudah pemahaman untuk menghasilkan tindakan. Aksi dari sebuah pemahaman dalam ranah gerakan karya. Tentu dengan tujuan kemanfaatan pola ini dibuat. Agar kita mudah mewujudkan dalam setiap aktivitas kehidupan.

Saya melihat pertandingan sepak bola kelas dunia. Itu dilaksanakan setiap pekan sekali. Ya satu pekan hanya sekali. Itupun hanya sesaat. Pertandingan yang disajikan selama 2 x 45 menit yang menyita perhatian ribuan penonton. Bahkan jutaan penonton, walau lewat televisi. Sorak sorai kemenangan plus tangis kekalahan campur aduk menjadi satu. Ya hanya 90 menit lebih sedikit tetapi mampu menarik mata dunia.

Namun dibalik megahnya sebuah pertandingan tersimpan banyak sekali cerita. Untuk bertanding selama 90 menit tersebut perlu waktu yang panjang untuk mempersiapkan. Latihan yang panjang telah dilalui. Tidak hanya dalam hitungan jam, tetapi hari, bulan bahkan tahun. Ini dapat dipastikan bahwa waktu latihan yang dibutuhkan lebih lama dan lebih banyak daripada pertandingan itu sendiri.

Hasil ditentukan proses yang dilakukan sebelumnya. Tidak serta merta kesuksesan itu muncul dengan sendirinya. Jika dalam sebuah proses latihan dilakukan dengan benar dan baik, kemungkinan kebaikan di ujungnya dapat diraih. Jika kebaikan itu adalah latihan, maka ia harus menjadi kebiasaan. Kebiasaan baik sejak awal menghasilkan kebaikan di akhir. Tetapi dengan catatan harus ada pengendalian pada prosesnya.

Latihan yang banyak, dan lama dengan konsisten tidak serta merta menggambarkan keberhasilan 100%. Akan tetapi latihan yang terpola dengan cara tersebut lebih mendekati keberhasilan. Ini adalah rasionalitas alami. Jika penerapan yang terpola saja belum dapat menjadi kesuksesan, apalagi yang tidak terpola. Ketaatan mengikuti pola lebih mudah untuk memprediksi keberhasilan. Sisanya hanya menunggu keberuntungan. Setepat-tepatnya pola masih di bawah keberuntungan. Akan tetapi ikhtiar yang benar tidak akan mengkhianati hasil.

Banyak tidak harus tiap hari, tetapi berulang. Pengulangan inilah wujud dari konsisten. Pengulangan adalah tanda kesungguhan. Dalam pengulangan pula ada harapan untuk menjadi lebih baik. Jika tidak ada pengulangan untuk melakukan hal baik, sebaliknya akan terjadi pengulangan keburukan. Ini karena keduanya berpasangan.

Kebiasaan melahirkan kualitas. Dengan catatan adalah apabila kita dapat belajar dari kesalahan dan memperbaikinya secara berkelanjutan. Dalam KBBI V kualitas memilki makna tingkat baik atau buruknya sesuatu. Ia juga bermakna derajat atau taraf kecakapan atau kepandaian. Ini dapat ditarik simpulan bahwa untuk menjadi berkualitas adalah dibiasakan untuk melakukan perbaikan. Tidak ada lagi pilihan.

Kualitas dibentuk dari perencanaan, pengorganisasian, aksi, kontrol dan revisi sebagai sebuah siklus. Sebagai sebuah siklus ia terus berputar. Perbaikan tidak boleh hanya sekali, tetapi berkesinambungan. Penggambaran menuju sebuah kualitas diri adalah peribahasa ‘Belakang parang pun akan tajam bila diasah berulang-ulang’. Perbaikan diri adalah bentuk pengasahan. Pengelolaan yang tepat dalam pengasahan akan menghasilkan kebaikan seperti yang direncanakan.

Ikhlas sebagai refleksi akhir 3L2K1I. Ia sebagai penutup sebuah hasil. Tetapi ini bukan akhir. Untuk menghasilkan sebuah nilai positif ikhlas adalah sandaran tertinggi. Sebagai sebuah rumus ikhlas adalah tanda ketulusan dalam tindakan. Setelah pola yang ditentukan diterapkan, hasil akhir bukanlah segalanya. Proses yang benar dari sebuah pola itulah keindahan. Ikhlas melengkapi segala upaya dari penerapan pola. Selamat mencoba.
Jaya Makmur, Katingan, Kalimantan Tengah. 21/7/20

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *