Kendali ada Pada Kita
Oleh: Moh. Anis Romzi

I must create a system or be enslaved by others(William Blake)
Beberapa kali memperhatikan aktivitas di media sosial. Banyak sekali informasi lalu lalang dengan bebasnya. Semakin banyak informasi sering pula melahirkan kebingungan. Saatnya kematangan literasi saat ini diuji. Kemampuan mencerna informasi menjadi sesuatu yang sangat penting untuk dimiliki.

Sering saya terbawa perasaan saat membaca postingan kawan-kawan di media sosial. Mungkin saja karena kemampuan literasi yang ala kadarnya. Teman di dunia maya memperbarui status, eh merasa tersindir. Maunya semua orang ada dalam kendali saya. Rasanya itu mustahil. Jika demikian maka dibalik saja logikanya. Kita yang pegang kendali atas diri kita sendiri.

Dalam dunia nyata hampir berlaku sama. Lazim ketika melihat perilaku yang berubah ada rasa yang berbeda. Ada katanya kita terbawa suasana lingkungan sosial di mana kita berada. Lingkungan rumah, keluarga yang akan mewarnai. Di tempat kerja, rekan kerja yang akan memberi warna. Namun semua adalah unsur ekstrinsik. Saatnya kita memperkuat unsur instrinsik yang ada dalam diri kita. Kedewasaan dan kematangan berpikir adalah kunci penguatan instrinsik diri. Ini harus dilakukan dengan belajar terus menerus.

Ketika kita memperhatikan lingkungan sosial kita seperti yang kita inginkan. Itu hampir mustahil. Kita sulit memaksa orang-orang seperti yang kita mau. Tapi kita dapat mengarahkan diri kita pada tujuan yang kita inginkan. Untuk memiliki kendali diri yang mapan, tidak ada kata lain selain memiliki tujuan yang jelas dalam kehidupan. Tujuan inilah yang akan mengantar kita memegang kendali. Tujuan harus ideal dan konsisten.

Saatnya kita harus bisa bekerjasama dengan siapa saja. Tentu ini dalam hal kebaikan. Kita yang memegang kendali atas diri kita. Pun begitu kemandirian diri harus dipersiapkan. Sebab adakalanya kita bersama, sebaliknya kita pun akan berpisah dengan orang-orang yang bersama dengan kita. Saat bersama berkarya, saat sendiri pun juga harus tetap berkarya.

Jika anda merasa menjadi orang pintar, hindari tiga hal berikut:(Helmi Yahya: 3 kesalahan orang pintar)

  1. Tidak percaya kepada orang lain
  2. Sombong. Karena kesombongan menyebabkan kebencian. Termasuk orang yang sombong pun benci anda.
  3. Berhitung itu penting. Tetapi jangan terlalu lama. Segera ambil keputusan
    Penting untuk melihat ke dalam diri kita. Merasa pintar adalah kesalahan fatal. Ketika terkena penyakit ini maka akan sulit bagi kita menerima kritik. Ini dapat membuat kita stuck. Akhirnya hanya bisa menjadikan kenangan sebagai kebanggaan. Sulit untuk berpikir menuju masa depan.
    Hargai semua orang tanpa harus ingin mendapat penghargaan yang sama. Beban anda akan ringan. Apasaja yang orang katakan dengarkan. Kita melihat saja dengan tanpa merendahkan. Bukankah itu pelajaran hidup. Biar banyak cibiran atas apa yang kita lakukan, kematangan diri akan menentukan pada tindakan yang kita lakukan. Menghormati orang lain harus, namun diri juga perlu dihargai.
    Percaya kepada siapa saja. Ciri khas orang sukses. Mereka berempati kepada siapa saja. Keberhasilan seorang leader sejati adalah bagaimana bersama orang banyak mencapai keberhasilan. Berjalan bersama tentu memperhatikan tempo dan ritme yang lain. Pemimpin mampu mengendalikan diri di mana saja ia bertempat. Adakalanya ia di depan, tengah dan belakang. Ia wajib memastikan semua merasa aman dan nyaman dalam kebersamaan. Inilah nantinya yang akan menjadi seni dalam mengelola sebuah badan organisasi.
    Tujuan tertinggi dari aktifitas kehidupan adalah pengabdian kepada Sang Pemberi kehidupan. Tidak akan pernah bangkrut sesiapa yang bersandar kepada-Nya. Maka dari itu seorang pemimpin wajib memiliki kendali diri yang kokoh. Ketika ia memahami tujuan tertinggi dalam kehidupan adalah pengabdian, semuanya akan terasa ringan.
    Jaya Makmur, Katingan, Kalimantan Tengah. 19/7/2020
0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *