DIYATIMKAN

Oleh: Komalasari

“Ustadzah bisakah anak saya kumpul satu kamar dengan temannya?”
“Anak saya Niar, sekamar sama Ratu bisa ya Ustadzah? Biar ada teman dari satu sekolahnya kasihan, apalagi kondisi orang tua gak bias masuk ke kamar untuk menemani diawal masuk pondok.”
“Saya titip anak saya ya Ustadzah, aduh merasa gimana gitu…”

Di atas adalah secuil ungkapan seorang ibu yang melepaskan buah hatinya ke pondok, untuk pertama kalinya. Banyak rasa yang muncul di dada, bukan saja dari kedua orang tuanya tetapi juga dari adik, kakak, nenek, kakek bahkan paman dan bibi.

Hal yang sangat wajar jika ada rasa berat melepas ananda, bertahun-tahun si anak selalu dalam dekapan. Orang tua sangat hafal, kapan si anak ketakutan, tertawa gembira, marah, manja, cemburu dan sebagainya. Semua kondisi itu adalah lembaran-lemmbaran yang tak mudah untuk dilipat lalu disimpan begitu saja. Molekul-molekul cinta Allah takdirkan bersemi di padang kasih sayang murni tanpa batas. Ikatan kasih itu adalah salah satu pemberat perpisahan.

Ketika waktunya sudah sampai, tiba-tiba genggaman itu harus dilepaskan dalam kondisi terpaksa maupun suka rela. Biasanya adegan drama haru mewarnai layar tahun ajaran baru. Demikianlah sisi lain kisah orang tua yang mempercayakan buah hatinya untuk dididik secara formal di pondok pesantren.

Jika ingat ibu Aminah menyerahkan Muhammad kecil kepada ibu Halima’tul sa’diyah, bisakah kita meraba bagaimana perasaannya? Namun, menekan segala keinginan yang akan mengganggu terwujudnya cita-cita nampaknya harus dilakukan. Itulah pengorbanan, dan Allah tidak akan mensia-siakan pengorbanan seseorang jika diniatkan karena-Nya.

Muhammad kecil dijauhkan dari segala rasa aman, nyaman dan serba instan. Namun, harus melalui proses sedemikian rupa untuk memuluskan wujudnya sebuah keinginan. Tidakkah demikian yang dialami oleh anak-anak kita saat memilih pondok sebagai jalan meraih keberkahan masa depannya?

Menitipkan anak di pondok pesantren bukan saja artinya menyerahkan bimbingan, pendidikan, pengawasan kepada ustad dan ustadzah di sana. Namun, sesungguhnya kita sedang belajar mengembalikan titipan untuk siap diproses menjadi hamba yang pantas di hadapan-Nya.

Menata niat, memperbanyak doa, menebalkan keikhlasan, ridha dan percaya pada pihak pengelola, sesungguhnya semua ini modal terbesar yang harus kita miliki.
Ketika hal di atas sudah kita lakukan yakinlah, bukan sesuatu yang perlu dirisaukan saat buah hati menangis karena beradaptasi. Dihukum karena tidak taat aturan, marah karena mempertahakan diri, sakit karena tidak memperhatikan hak tubuh, lelah karena belajar menata waktu, dan lain sebagainya. Itulah irama yang ada, dan akan indah jika hal itu tidak dicampuri intervensi dengan alasan ‘sayang’.

Pada akhirnya Muhammad kecil berhasil tumbuh sesuai ketentuan dan kehendak Rabnya. Bukan semata-mata karena Allah sudah menetapkan beliau akan menjadi rasul. Namun, proses alamiah itu adalah satu pembelajaran bagi orang-orang yang mau berfikir. Itulah madrasah keyatiman. Lulusannya adalah menjadi pribadi yang tangguh, dan mampu bergantung hanya kepada Dzul Jalali Wal Ikram.

Madrasah keyatiman sangatlah dahsyat, kita akan memahaminya manakala akrab dengan siroh. Banar adanya jika yatim itu sama halnya dengan tidak ada tempat bergantung, bersandar, menjadi beking. Demikian juga tidak salah jika melihat kondisi yatim, merasa prihatin dan perlu belas kasih.

Namun, jika empati kita berikan dengan tepat sesuai ketentuan-Nya maka yang dulu kuntum, akan menjadi mekar berseri. Lain halnya jika yang kita berikan dasarnya adalah sayang, kuntum yang mekar itu akan nampak rapuh.
Akhirnya ustadzahpun membalas wa si Ibu, “maaf Ibu, saran saya ikhlaskanlah anak kita diyatimkan dan semoga kita masih ingat proses Rasul saat Allah yatimkan.”

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *