Baju Kepalsuan
Oleh: Ade Zaenudin

Kawan…
Dalam doa senantiasa kuselipkan Asma-Nya, kupuji Nama-Nya, bahkan sembilan puluh sembilan Nama Baiknya nyaris tak terlewat, semua begitu agung diucap, semua begitu indah ditata lidah. Namun, kemanakah hati dan pikiranku kawan? keagungan dunia selalu menyilapkan segalanya, Kebesaran-Nya senantiasa tertutupi kabut nafsu, awan keduniawian.

Kawan…
Tatkala salat kuhadapkan wajahku kehadapan-Nya, kutata semua baca nyaris sempurna, kuhempas semua gerak nyaris tak bercela, kujaga hati penuh konsentrasi. Namun kenapa semua bayang kehidupan semu selalu saja hadir mengganggu, mengajakku bersenandung dalam irama tipu, menyilaukan kesejatian, bahkan hanya karena seonggok makanan, kutinggalkan Kau dalam kekhusyuan.

Kawan…
Sejenak kubuka Al Qur’an, huruf per huruf kubaca fasih ikuti aturan, ayat per ayat kulahap tak terlewatkan, semua perintah-Nya kupaham, begitupun dengan semua larangan. Namun kenapa setelah kututup dan kusimpan, tetap saja larangan itu selalu saja menjadi pilihan manis yang tak terelakkan, selalu saja perintah-Nya kukesampingkan.

Kawan…
Dalam taubat selalu kukatakan nista itu tak kan kuulang, dalam sujud nama-Nya selalu kutinggikan, dalam rukuk dzat-Nya selalu kuagungkan, dalam iftitah asma-Nya selalu kubesarkan, dalam tahiyat selalu kusanjungkan salam penghormatan. Ooh kawan… Rupanya itu semua adalah baju kepalsuan, penghalang datangnya keberkahan, penghadang jalanku menuju Sang Maha Rahman.

Ooh Tuhan…
Betapa ruginya hamba, menjadi penghuni surga ternyata jauh kurasa, namun kuyakin tak bakal kuat walau sekedar mampir di neraka. Dalam nista tetap kupanjatkan doa, semoga Kau selamatkan hamba.
Aamiin Allohumma Aamiin.

Ade Zen, 19.07.2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *