Menumbuhkan Potensi Tak Berbatas Waktu
MaryatiArifudin, 18 Juli 2020

Eloknya dunia ini penuh warna. Sehingga terasa indah pemandangan dunia ini. Variasi warna-warna timbul bukan dengan sendirinya pasti ada yang mencipta. Demikian jua, dengan kehidupan di dunia ini penuh warna. Hidup itu saling mewarnai satu dengan yang lainnya.

Dari mana asal nilai perbaikan diri itu muncul? Mungkin berasal dari tulisan kita sendiri atau bersumber dari tulisan orang lain. Maka tebarkanlah satu nilai kebaikan tiap saat, tuk menguatkan ikatan nilai itu.

Penulis buku La Tahyan, selalu teringat pesan buku yang disampaikan ditujukan untuk Beliau sendiri. Jika rasa itu muncul, ia hadirkan buku itu dihatinya. Jangan bersedih! Jalani hidup dengan menyikapi yang terbaik.

Memang sih, masalah keimanan itu kadang turun dan naik. Bagaimana menyikapinya, agar iman tidak terjerumus ke kelembah yang nista. Gunakan potensi pendengaran, penglihatan dan hati untuk menyikapinya.

Dan sungguh, akan Kami isi neraka jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.” (Qs 7: 179)

Semua insan dengan potensi penglihatannya, mampu melihat kejadian nyata. Baik melalui kisah nyata atau bahkan kejadian nyata di lingkungan sekitar. Sungguh, kejadian itu menjadi pengingat bahwa hidup di dunia hanya sementara. Hidup di dunia perlu pertanggungjawaban nyata si pelakunya dihadapan Tuhannya. Semua insan yang akan dimintai pertanggung jawaban.

Tidakkah? Kita mendengar suatu kaum yang diratakan dengan bumi akibat kesombongan. Kaum itu meminta disegerakan azabnya. Kaum itu, akhirnya binasa dan tanda-tanda itu nyata. Saat ini, tanda-tanda keberadaan kaum Luth As, Shaleh As, Musa As, dll ditemukan oleh para arkeolog. Tidakkah kita mampu mendengar kenapa peristiwa itu muncul.

Dia (Shaleh) berkata, “Wahai kaumku! Mengapa kamu meminta disegerakan keburukan sebelum (kamu meminta) kebaikan? Mengapa kamu tidak memohon ampunan kepada Allah, agar kamu mendapat rahmat?” ( Qs 27 : 46).

Belumkah datang kepada mereka berita penting tentang orang-orang yang sebelum mereka, (yaitu) kaum Nuh, ‘Aad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan dan negeri-negeri yang telah musnah? Telah datang kepada mereka Rasul-rasul dengan membawa keterangan yang nyata, maka Allah tidaklah sekali-kali Menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang Menganiaya diri mereka sendiri.” (QS 9 : 70).

Pintu hidayah bisa lewat mana saja. Namun, untuk menjaga rahmat itu tidak lepas dari kuncinya, berusahalah menguatkannya. Raihlah, keimanan diri melalui potensi pendengaran. Mendengar sejarah atau membaca kejadian terdahulu. Kejadian atau peristiwa menjadi pengingat bagaimana azab diturunkan. Hal itulah pentingnya potensi telinga agar mampu memahami perintah-Nya.

Dengan mendengar peristiwa umat yang dibinasakan akan mampu menambah iman seseorang. Umat yang dibinasakan banyak tersurat dalam kitab suci Al Qur’an. Peristiwa ini dapat kita dengarkan tausyiah secara mudah melalui media sosial. Atau bahkan dapat melalui tulisan dari hasil uji keterbacaan.

Ku ambil tulisan ini, dari tugas akhir karya tulis seseorang. Ambil satu kunci mengembangkan potensi pendengaran untuk menyampaikan tulisan guna penguat keimanan diri. Tulisan untuk penguat diri sendiri saat melangkah seperti yang di lakukan penulis La Tahyan.

Renungan lanjutan akan ku torehkan tuk pengingat diri melalui pendengaran dan penglihatan. Bagaimana potensi itu mampu dikemas menjadi sebuah tulisan yang menguatkan asa kehidupan. Akankah bisa mewujudkan karya sederhana dengan tekad dan nekat diri.

Referensi:
 https://m.hidayatullah.com/kajian/tazkiyatun-nafs/read/2014/03/18/18425/allah-kirim-hujan-batu-pada-kaum-nabi-luth.html
 https://ayulweb.wordpress.com/2018/05/31/177/

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *