Kolaborasi Komat Kamit

Oleh: Pramuriati

Menghadapi evaluasi, otak perlu diisi. Butuh pula konsentrasi. Jika lembar jawab tak jua terisi, haruskah berkolaborasi?

Semua siswa telah masuk ruang. Mengikuti pengawas yang sudah lebih dahulu datang. Masing masing duduk dengan tenang. Meski tak diragukan, ada sebagian dari mereka yang bimbang. Bahan bacaan semalam masih mengambang. Bisa saja tertiup angin lalu hilang.

Lembar soal telah diterima, lengkap dengan lembar jawabnya. Diperiksanya lembar lembar yang tergeletak penuh aksara. Ekspresi wajahnya datar tanpa rona. Soal pertama telah dibaca. Ia tersenyum dan menulis penuh kepastian. Lanjut nomor dua, hingga 25 lancar, tinggal nyilang aja kok, batinnya.

Menuju soal isian. Nomor 26, baca soal, tulis. Nomor 27, baca soal, matanya menerawang, lalu menulis. Nomor 28, baca soal, matanya menerawang, memainkan bolpoin, tak juga menulis. Nomor 29, baca soal makin buyar. Hingga nomor 40 hanya beberapa yang berhasil dijawab.

Waktu terus bergerak. Demikian juga otaknya. Tak juga ada memori yang muncul. Semakin diingat semakin lupa.

Akhirnya ia mengganti strategi. Dari mengingat beralih mengamati. Mengamati teman-temannya. Berharap ada yang menoleh ke arahnya. Sialnya, malah pandangan pengawas yang beradu dengannya. Segera menunduk. Belum putus asa, terus dicoba. Yap. Hatinya bersorak. Teman barisan sebelah menoleh ke arahnya. Segera ia memberikan kode dengan jarinya meminta jawaban nomor tertentu. Gayung bersambut. Sang teman mengucapkan perlahan. Kesempatan tak disia-siakan. Dengan seksama ia perhatikan gerak bibir sang teman. Ia tersenyum. Setidaknya lembar jawabnya tlah terisi penuh.

#

Tes telah usai. Ganti dengan tugas guru untuk mengoreksi. Harus dilakukan dengan konsentrasi. Juga menguras energy. Lembar demi lembar dibaca. Sesekali pena merahnya menari. Sret. Mencoret jawaban yang tak sesuai.

Sampai di lembar kesekian, pandangannya terhenti. Ada jawaban yang dirasa aneh ’31. Bulu Kucing’. Sang guru tidak langsung memainkan senjata merahnya, namun melihat ke lembar soal. Dibacanya soal yang tertulis. ‘31. Gunung yang dianggap suci di Jepang adalah …’

Dahi sang guru berkerut. Pandangannya menerawang. Mulutnya membulat.

Ada yang bisa bantu, apa hubungan gunung di Jepang dengan bulu kucing?

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *