Kemiskinan vs Kekayaan

Oleh: Husin Ludiono

“Dulu Kami makan sambil duduk di lantai. Lantai itu terbuat dari tanah karena tidak mampu menyemennya. Kalau mau makan, barulah dihampar selembar tikar. Tikar bikinan ibu. Posisi duduk anak kecil seperti saya, sangat minggir: kadang hanya separo pantat saja yang di atas tikar.”

Cerita di atas adalah sepenggal kisah nyata: masa kecil dari orang yang pernah menjadi pejabat negeri ini. Beliau adalah Dahlan Iskan, yang pernah menjadi CEO surat kabar Jawa Pos (1982-2018), 2 tahun sebagai Direktur PLN, 3 tahun sebagai Menteri BUMN (Badan Usaha Milik Negara).  Namun, siapa sangka sebelum ia menduduki jabatan strategis dan pada tahun 2011 kekayaan pribadinya tercatat sebesar Rp 48 Miliar, Dahlan Iskan adalah orang yang terbilang serba kekurangan. Pernah dahulu waktu sekolah ia hanya mempunyai 1 celana, 1 sarung, 1 baju. Kalau anak-anak sekolah hari ini kebanyakan ke sekolah diantar orangtua naik sepeda motor atau bersama teman naik angkot. Sedangkan Dahlan Iskan kecil sudah jadi makanan sehari-hari pergi ke sekolah tanpa alas kaki alias nyeker lebih dari lima kilometer. Kisah yang luar biasa, bukan?

Bak cerita di negeri dongeng, perubahan drastis yang dialami Pak Dahlan Iskan tentu bukanlah hal yang instan, 5 menit langsung jadi, tentu bukan itu. Namun, kemiskinannya dia maknai sebagai sebuah dorongan kuat untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Pengalaman di masa kecil yang serba kekurangan, ia jadikan sebagai pelecut diri guna menapaki proses hidup lebih serius dan sungguh-sungguh. Kenangan pahit Ibundanya yang wafat menjadi roket pendorong untuk bercita-cita agar di kemudian hari tidak terjadi lagi ketidakmampuan yang membawa duka.

Agama Islam ataupun negara tidak melarang umat dan rakyatnya untuk menjadi kaya, siapapun berhak menentukan nasibnya seperti apa kelak di masa datang. Bahkan jikalau kekayaan itu bisa mendatangkan manfaat bagi banyak orang maka kekayaan yang seperti itu wajib dipertahankan. Sedangkan bila kemiskinan hanyalah membawa pada jalan keburukan: karena kurang harta jadi menipu, karena kurang harta jadi merampok, karena kurang harta jadi korupsi, maka kemiskinan seperti itu harus layak ditinggalkan-harus diubah- tentu dengan cara yang baik dan benar sesuai ajaran agama.

Sebagaimana kisah seorang salah satu sahabat Nabi Saw, Abdurahman bin ‘Auf radiallahuanhu ketika kaum muslimin sampai di tanah hijrah (Madinah) dari mekkah tanpa membawa harta benda, aset, properti mereka tinggalkan, datang ke Madinah nyaris hanya dengan apa yang mereka pakai dan mampu dibawa saja. Ketika di Madinah, Rasulullah SAW mempersaudarakan muslimin dari mekkah (muhajirin) dan Anshar. Abdurahman bin Auf dipersaudarakan dengan Sa’ad bin Rabi Al-Anshari. Sa’ad ini termasuk orang kaya di yastrib (Madinah), ia berniat membantu Abdurahman bin Auf dengan cara memberi separuh harta miliknya untuk Abdurahman bin Auf. Namun, Abdurahman bin Auf menolak pemberian itu, ia hanya berkata “Tunjukkanlah padaku di mana letak pasar di kota ini!”. Abdurahman kemudian berniaga di pasar, belum lama ia menjalankan bisnisnya, ia berhasil mengumpulkan uang cukup banyak. Bisnisnya semakin maju, di kemudian hari ia termasuk orang paling kaya.

Namun, lagi-lagi kekayaan di tangan orang beriman bukanlah hal yang perlu dikunci rapat-rapat, sehingga sampai ada yang menganggapnya sebagai orang yang pelit. Hal itu tidak terjadi pada diri sahabat mulia ini, karena Abdurahman bin Auf tidak segan untuk mendermakan hartanya, ia pernah menyumbangkan dengan sembunyi-sembunyi atau terang-terangan sebanyak 40.000 Dirham (Setara Rp 1.4 Milyar), 40.000 Dinar (Setara Rp 48 Milyar), 200 uqiyah emas, 500 ekor kuda, dan 1.500 ekor unta. Masya Allah, begitu dermawannya sahabat mulia ini.

Harta atau kekayaan dalam pandangan orang beriman adalah sebagai barang yang harus bermanfaat baik bagi dirinya maupun orang lain. Harta bukan alat untuk mencitrakan dirinya baik dan dermawan. Harta bukan dijadikan alat bayar untuk kepentingan nafsu. Harta bukan dijadikan sebagai alat pamer di media sosial atau lingkungan sekitar. Tetapi, kekayaan atau harta ditangan orang yang beriman merupakan suatu momen berharga, karena itu adalah modal dalam menerapkan salah satu perintah Allah Swt. Perintah berinfaq, bersedekah, menolong orang, dll. Salah satu ayat berupa perintah yang berkaitan dengan harta ada dalam Q.S Al-Hadiid:7: “Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka, orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya mendapatkan pahala yang besar.”  Kemudian dalil tentang anjuran berinfaq sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu bahwa Nabi Saw pernah bersabda: “Tidaklah para hamba berada di pagi hari kecuali di dalamnya terdapat dua malaikat yang turun. Salah satunya berdo’a, ‘Ya Allah, berikanlah kepada orang yang berinfak ganti (dari apa yang ia infakkan)’. Sedang yang lain berkata, ‘Ya Allah, berikanlah kepada orang yang menahan (hartanya) kebinasaan (hartanya)”.

Harta memang bisa menjadi alat ukur seseorang itu kaya atau miskin. Jika, seseorang memiliki harta yang banyak, maka, bisa disebut orang kaya. Jika, kurang harta, disebut sebagai orang miskin. Namun, kekayaan dan kemiskinan adalah pilihan. Seperti, hari ini Anda ingin makan atau tidak, itukan pilihan, betul? Seperti Anda hari ini ingin kerja atau ingin rebahan, itu pilihan Anda, bukan?

Jadi, siapapun dari kalangan manapun, baik orang desa maupun orang kota, bisa dan berpotensi meraih kekayaan sebesar-besarnya. Sebagaimana quotes Eyang Habibie “Keberhasilan bukanlah milik orang pintar. Namun keberhasilan itu adalah milik mereka yang senantiasa berusaha.

Selama kita mau berusaha dan berharap pada-Nya, Insya Allah Tuhan akan menolong. Lihatlah bagaimana jalan hidup Dahlan Iskan dari zero to hero (dari nol, kini jadi miliarder), dari bukan siapa-siapa menjadi menolong siapa-siapa. Itu semua berkat usaha dan doa. Ilmu, Ikhtiar, tawakal, dan Sabar.

Namun, kekayaan bukanlah tujuan akhir. Kekayaan belum menjadi apa-apa di mata orang beriman, kecuali apabila kekayaan dapat menjadi alat untuk menolong orang-orang yang memerlukan bantuan. Kekayaan yang tidak dipakai untuk beramal saleh, hanya akan membawa bencana di kehidupan akhirat, mungkin juga di dunia. Kekayaan adalah sebagian modal untuk mempercepat pembangunan infrastruktur kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Wallahu’alamu.

Cianjur, 18  Juli 2020.

Referensi:

  1. Dua Tangis Sejuta Damprat, Aris Darmawan.
  2. Wikipedia: Dahlan Iskan.
  3. Kompas.com: Kekayaan Dahlan Iskan Lebih dari Rp 48 Miliar.
  4. Kenangan.com: Dahlan Iskan.
  5. Republika.co.id: Abdurahman bin Auf.
  6. Islam Pos: 12 Fakta tentang Abdurahman bin Auf.
  7. Blog.syarq.com: Pandangan Islam terhadap harta dan ekonomi.
  8. Almanhaj.or.id: Berinfak di Jalan Allah.

Sumber Artikel: https://husinludiono.wordpress.com/2020/07/18/kemiskinan-vs-kekayaan/

0Shares

By Admin

2 thoughts on “Kemiskinan vs Kekayaan”
  1. Super. Sepakat
    Abdurahman bin Auf menolak pemberian itu, ia hanya berkata “Tunjukkanlah padaku di mana letak pasar di kota ini!”. Abdurahman kemudian berniaga di pasar, belum lama ia menjalankan bisnisnya, ia berhasil mengumpulkan uang cukup banyak. Bisnisnya semakin maju, di kemudian hari ia termasuk orang paling kaya. Kunci orang mukmin tangan fiatas lebih baik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *