Belajar Bebas dari Gelisah
Oleh: Moh. Anis Romzi

Wali- wali Allah adalah mereka yang tidak pernah gelisah dan bersedih. Ini karena rasa takut sang wali pada Tuhannya. Kegelisahan membuat mereka semakin mendekat kepada-Nya. Bagi para wali Allah semua adalah semu, kecuali Dia. Inilah obat gelisah yang mujarab. Para wali merasa hidup mereka selalu diawasi dan didampingi rabb mereka. Tidak ada kegelisahan dan kesedihan bagi para wali Allah.

Orang-orang yang takut kepada Allah adalah ulama. Manusia awam perlu meneladani perilaku salihiin melawan gelisah dan ketakutan. Para ulama salih inilah yang dapat membimbing kita lepas dari kegelisahan. Proses pembimbingan ini pulalah yang dilakukan nabi kepada para sahabatnya. Nab Muhammadi adalah sejatinya pembimbing manusia, para ulama adalah penerusnya.

Gelisah adalah ujian untuk naik ‘kelas’. Ini bagian dari pembelajaran kehidupan. Siapa saja yang mampu lolos dari hadangan kegelisahan hidup ia akan menjadi tenang. Ketenangan inilah tanda naik kelas seseorang dalam kehidupan. Untuk bisa lepas dari gelisah diperlukan seorang penuntun. Para penuntun inilah yang disebut saalihiin. Mereka yang telah selesai terbebas dari kegelisahan.

Kecintaan pada dunia yang berlebihan sering membuat manusia merasa gelisah. Manusia rela melakukan apa saja demi dunia yang dicintainya. Kecintaan pada sesuatu telah memperbudak dirinya. Inilah yang menyebabkan dunia mengendalikan dirinya. Padahal seyogyanya manusialah pengendali dunia. Ini sesuai fitrah yang diembankan dari Tuhan. Bukankah Ia menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi? Bukan budaknya.

Kekhawatiran dari rasa takut dan lapar. Manusiawi bila diliputi rasa tersebut. Banyak dari kita berjuang habis-habisan untuk terhindar dari kelaparan dan ketakutan. Rasa takut akan kelaparan yang berlebihan cenderung membuat manusia mengejar dan menimbun harta benda. Bahkan menghalalkan segala cara. Manusia sering berdalih bekerja mencari harta untuk anak cucunya. Senyatanya rasa takut inilah yang menimbulkan kerakusan.

Pujian dan cacian dari makhluk terkadang membuat kita lalai. Acap kali secara sadar maupun tidak penilaian makhluk (manusia) membawa perilaku kita dalam kehidupan. Satu misal kita bekerja keras di depan atasan, sedangkan saat sang atasan tidak ada kita bekerja semaunya. Ini lumrah terjadi, karena ia hanya menyandarkan pengawasan kepada manusia. Kesadaran diri akan pengawas Yang Maha Melihat sering abai. Kita cemas dinilai buruk oleh atasan, tetapi biasa saja melanggar aturan Yang Memberi kita kehidupan.

Ketakutan menghadapi masa depan. Masa ini adalah masa di luar kendali kita. Keumuman dari manusia sering bersandar pada manusia yang lain. Ketika sandaran ini rapuh, maka hilanglah kita. Masa depan belum terjadi. Tetapi kita sering khawatir kalau-kalau tidak seperti yang kita harapkan. Masa depan hampir pasti mengandung dua hal harapan dan kecemasan. Satu yang pasti antara dua hal itu adalah Dia Sangat Maha pemberi kehidupan.

Ketakwaan kepada-Nya adalah segala solusi permasalahan. Gelisah salah satunya. Quran Surah Al-Bawah ayat 274:” Orang-orang yang menginfaqkan harta nya malam dan siang hari ( secara ) sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” Sedekah adalah salah satu obat gelisah. Itu buah praktik dari ketakwaan.

Kembali kepada-Nya adalah satu-satunya solusi. Ia Sang Maha Pencukup. Ketika kita bersandar kepada-Nya tidak akan pernah merugi. Dengan belajar kepada ulama gelisah itu akan sirna. Mereka para pembimbing menuju ke Jalan-Nya. Ikuti para ulama salih karena mereka lah pewaris para nabi.
Jaya Makmur, Katingan, Kalimantan Tengah. 17/7/2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *