Bersama Pagi di Kasongan
Oleh : Moh. Anis Romzi

Terdengar sayup suara azan subuh dari masjid Baitul Yaqin. Salah satu masjid besar di kota Kasongan. Suara panggilannya menyadarkanku dari lelapnya tidur. Alhamdulillah ahyanaa ba’da ma amatanaa wa ilayhi al-nusyuur. Doa pagi yang diajarkan di madrasah kampung kupanjatkan. Dalam duduk sebentar, syukurku tak berhenti mengalir. Kehidupan baru muncul kembali.

Aku bangunkan putraku untuk berangkat berjamaah. Pagi masih dingin,tetapi menyegarkan. Setelah malamnya hujan cukup lebat. Kami bersama berangkat menuju Baytul Yaqiin. Masjid ikonik ibukota Kabupaten Katingan. Masih ada waktu lima menit menuju iqomah. Segera kami berdua menuju panggilan kemenangan dari-Nya. Ini harus bersemangat karena Ia adalah mula dari segala.

Kasongan adalah kota kecil hasil pemekaran kabupaten dari Kotawaringin Timur. Ibukota kabupaten Katingan itu berjarak 80 km dari ibukota Propinsi Kalimantan Tengah Palangkaraya. Sedangkan jarak dengan induk kabupaten Kotawaringin Timur sekitar 140 km. Kota yang strategis sebagai penghubung keduanya.

Hari ini Jum’at pertama bulan Juli 2020. Lalu lalang kendaraan mulai ramai. Aku berdiri di teras penginapan. Kabut putih masih menyelimuti pepohonan yang rindang di seberang jalan penginapan. Walaupun ibukota Kabupaten suasana masih sangat rindang dengan pepohonan alami. Pepohonan sisa-sisa hutan belantara Kalimantan Tengah. Hutan hujan yang digadang-gadang menjadi paru-paru dunia. Pagi ini pagi yang indah dan teduh.

Pagi yang tidak biasa. Di Kasongan ibukota Kabupaten Katingan. Kabupaten muda di Kalimantan Tengah. Biasanya saya hanya menikmati pagi di kampung halaman, hari itu sedang ada perjalanan dinas untuk menyelesaikan laporan. Kasongan mungkin tidak cukup populer di Indonesia. Bahkan Google masih belum cukup mengenal. Ketika di ketik Kasongan yang muncul adalah desa wisata di Grobogan Jawa Tengah. Tulisan inipun berniat untuk mengangkat Kasongan.

Saya berdiri di teras penginapan yang berhadapan dengan jalan trans Kalimantan. Saya lihat daun-daun masih basah. Sisa hujan tadi malam mungkin. Trans Kalimantan adalah jalan utama penghubung antar kabupaten. Jalan itu dinamai dengan pahlawan nasional dari Kalimantan Tengah Tjilik Riwut. Jalan pemerintah yang dibangun pada masa orde baru. Berikut pula jembatan sungai Katingan di Kasongan, adalah jembatan pertama yang dibangun pemerintah penghubung antara palangkaraya dan Sampit (Kotawaringin Timur).

Untaian kabut putih masih menyelimuti. Juli menuju musim kemarau. Berbagai himbauan terpampang untuk menghindari pembakaran lahan dan hutan. Tahun lalu 2019 kebakaran hutan dan lahan cukup besar. Tahun ini harus diturunkan, bunyi pesan dalam poster yang bergambar bupati dan wakilnya. Pesan penting yang harus tersampaikan kepada seluruh warga Katingan. Semua untuk kebaikan bersama agar udara bersih tetap terjaga untuk semua. Agar embun putih tetap menyegarkan.

Kasongan adalah kota pahlawan Tjilik Riwut. Pahlawan nasional dari Kalimantan Tengah. Tepat di tengah lapangan depan kantor bupati berdiri patung megah sang pahlawan. Ia adalah kebanggan Katingan sekaligus Kalimantan Tengah. Patung itu berdiri menghadap jalan Trans Kalimantan. Tjilik Riwut juga dikenal sebagai gubernur pertama Kalimantan Tengah.

Monumen durian juga ada di Kasongan. Selain sebagai kota kelahiran Tjilik Riwut, Kasongan juga sangat terkenal dengan buah durian. Khususnya di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan durian Kasongan laris manis sebagai oleh-oleh. Namun sayang, durian Kasongan hanya berbuah pada musim tertentu. Selayaknya durian sebagai komuditi andalan buah ini layak dikembangkan dengan sentuhan penelitian. Penelitian untuk membangun produk unggulan Kabupaten Katingan.

Jaya Makmur, Katingan, Kalimantan Tengah. 16/07/2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *