Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, seperti cinta bebatuan kepada lumut sebelum membuatnya menjadi tanah.

(terinspirasi puisi Sapardi Djoko Damono “Aku ingin”)

Dari balik rimbunan kayu dan ranting yang menjuntai lebat di atas rumah pohon ini, aku dan dua sahabatku sedang mengamati beberapa makhluk yang sedari pagi tak kunjung menepi, sampai mentari yang kini beringsut turun ke peraduannya. Jaring-jaring terpasang rapi sesuai marka yang telah digariskannya walaupun marka terkesan imajiner dalam pandangan saya yang awam seluk beluk air berwarna biru itu. Sesekali mereka bergerak menuju jaring yang tampak sudah tenggelam, diangkatnya dan terbelalak kornea saya melihat ribuan hewan bersirip itu bergelojotan kehilangan udara tertangkap mereka. Tangkapan ikan dalam jaring-jaring yang terpasang dengan baik ternyata sangat mudah dalam pandangan saya.

Dua sahabat terbaik yang menemani saya di atas ini adalah para penganguran yang malas dan hanya ingin hasil tanpa usaha. Entah pikiran apa yang merasuki mereka, tak ada yang dihasilkan tanpa proses, padahal menikmati proses itu luar biasa. Ibarat sebuah jala, tak kan mungkin menjebak ikan jika hanya tergantung tak berdaya di serambi nelayan.

Dua sahabat saya sudah jengah dengan tausiyah yang setiap pagi saya udarakan di atas rumah pohon di tepi pantai ini. Mereka lupa bahwa segala yang ada di dunia ini pasti membutuhkan prosesnya.

Orang kaya berproses dari tak punya (kalau gak dapat warisan lo ya), ilmuwan dan dokter juga perlu proses agar mereka menjadi profesional, seorang guru tidak akan bisa menjadi pendidik tanpa poses belajar yang tekun dan sungguh-sungguh, begitu pula para pengusaha tidak akan menjadi sukses tanpa proses manajemen yang luar biasa, semua yang ada di bumi dan seisinya memerlukan proses.

Bahkan kita tahu manusia diciptakan pertama kalipun melalui proses dan peristiwa, Ibu Hawa diciptakan untuk menemani sang Adam yang sendirian menikmati surga. Semua diciptakan dengan proses dan tujuan. Kita sebagai anak cucunya yang percaya bahwa ada beberapa hal yang harus dimulai dengan langkah tertatih-tatih dalam menelusuri jalan berliku, tak sedikit mereka yang terseok-seok dalam mencapai tujuan akhirnya.

Seperti kata para senior dalam kepenulisan, tulis apa yang kamu pikirkan jangan ditunda, begitulah proses, ternyata menikmati proses menulis itu sangat luar biasa. ketika tulisan kita mendapat pujian bahkan kritikan, itu adalah bonus dari usaha dan proses yang sangat nikmat untuk dilumat bersama mimpi-mimpi kita. Semoga terwujud segera. Seperti sekarang ini saya menulis ya menulis aja. Hihihi.

Hidup itu tak semulus lantai istana, hidup juga tak selalu berliku seperti bidang miring di Gunung Arjuna. Namun, yang perlu kita tahu adalah hidup itu ibadah, hidup itu perjuangan menjalankan ibadah, ibadah terlama yang kita lakukan saat ini adalah menjalani proses mengarungi bahtera menuju keluarga sakinah mawaddah warahmah. Bagi kalian yang belum sempat menikmati ibadah terlama tentunya tunggu dan nikmati prosesnya.

Dalam perjalanan ibadah ini tentunya banyak ujian dan rintangan yang datang silih berganti bak sinetron, karena saya yakin setiap manusia punya cerita unik tersendiri dalam menjalankan perahu cinta mereka. Seperti saya yang mencintai penggenap iman saya dengan sangat sederhana, saya ingin mencintainya dengan sangat sederhana seperi apa yang dilakukan batu kepada lumut yang menjadikannya tanah. Kami para wanita yang keras seperti batu ini bisa luluh dan mudah dibentuk seperti tanah ketika lumut bekerja dengan baik dalam proses pelapukannya. Wahai para pria untuk menaklukkan batuan yang keras tak perlu juga menjadi karang, cukuplah menjadi lumut yang berproses dengan lembutnya. hihihi selamat mencoba.

Tulisan ini hanya opini, bukan pentigraf

NB. Update pentigraf nanti sorean ajah

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *