Hari ke Tiga

Oleh: Triznie Kurniawan

Bangkalan, 15 Juli 2020

Subuh ini ketika adzan mulai menggema di kawasan pesisir, saya dan keluarga kecil Saya sudah riuh melakukan kegiatan pagi. Menyiapkan kebutuhan yang harus kami bawa dan lainnya. Tatkala angin subuh mulai menerobos masuk melalui celah jendela kayu yang baru saja terbuka, terpaan sang bayu yang masih murni dan belum bercampur dengan napas orang-orang fasik perlahan membuat Saya sedikit terbuai. Betapa Tuhan masih sangat menyayangi kita hambanya, masih diberikan kesempatan menikmati dinginnya pagi.

Setelah membungkus nasi, menggoreng beberapa kerat Tempe, memasukkan pesanan teman-teman ke dalam tas jinjing dengan hati-hati, saya mencari kedua titipan Allah yang luar biasa yang sedang khususnya berdoa, mereka tampak rukun dan itu membuat Saya merasakan hati dan jantung Saya berdetak normal. Mereka mencium tangan dan memeluk saya dengan mata yang berkaca-kaca kakak Berkata “Ibuk Hati-hati ya” bisiknya.

Suami sudah menyiapkan roda dua untuk mengantar Saya ke pertigaan seperti biasa tempat Saya menunggu angkutan kota. Bis mini warna hijau tampak melaju dengan kencang dari arah selatan Dan seketika itu pula berhenti, tak banyak kata segera kugayuh tangan kekar dan kucium punggung tangannya, “Assalamualaikum” suaranya mendahului Saya. Segera Saya menaiki kendaraan dan melaju dengan lancar.

Jarak tempuh yang harus Saya lalui untuk berdinas lumayan jauh sekitar 60 km naik angkutan dan harus turun ke selatan menuju pesisir sekitar 15 km tanpa angkutan Umum. Dari pasar Blega ke Kecamatan Sreseh biasanya hanya Ada kendaraan pribadi atau ojek saja. Jalan yang lumayan terjal dan melewati persawahan dan kebun jati Sama sekali tak menyurutkan semangat Saya Untuk sampai di tempat tugas dan berbakti pada negara. Sudah menjadi Pilihan dan kewajiban bagi kami yang ingin mencerdaskan kehidupan bangsa dengan cara yang tak biasa di tengah pandemi.

Ketika Saya menulis ini, saya duduk di samping pengemudi dengan masker Dan jaket yang tebal. Tentu saja Saya masih harus melakukan Perjalanan sesuai protokol kesehatan. Karena kita tahu bahwa dia belum pulang ke rumahnya (korona).

Sudah separuh Perjalanan Saya hampir satu jam lamanya, kini Saya memasuki hutan jati dan perbukitan kapur, tidak sepi namun sudah banyak kendaraan lain yang juga melintasi pulau garam. Bis yang saya tumpangi terus membelah hutan dengan cepatnya. Jalan yang berkelok sudah terlewati artinya sebentar lagi Saya harus turun dan melanjutkan perjalanan Saya.

Semoga cerita perjalanan Saya menjadi bacaan yang bermanfaat. Setidaknya bagi sahabat yang belum pernah menginjakkan kaki di Madura.

06:18 WIB.

Sumber: https://trizniekurniawan.wordpress.com/2020/07/15/hari-ke-tiga/

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *