Apakah Anda Sedang Mengambil Sampah?
Oleh: Moh. Anis Romzi

Sampah dibenak kita mungkin adalah barang yang tidak berguna. Persepsi umum apabila dikatakan sampah maka akan bermakna mengganggu. Bahkan mungkin akan memahaminya sebagai sesuatu yang menjijikkan.

Mengambil makna bergantung kepada si pelaku. Bukan orang lain. Akan berbeda apabila kita ingin memahamkan orang lain tentang sampah maka harus ada standar pemahaman yang sama.

Apakah anda sedang mengambil sampah? Pertanyaan itu akan muncul apabila kita melihat seseorang secara fisik melakukan aktivitas memungut sampah. Nalar kita akan terhubung secara otomatis karena indera penglihatan kita bekerja. Kebenaran di pikiran kita sampah adalah benda tak berguna.Namun bisa jadi secara hikmah memungut sampah tidaklah terbatas pada indera penglihatan.

Adalah sebuah cerita dari halaman facebook. Cerita itu saya tidak tahu siapa yang menulis. Tetapi ini adalah gambaran bahwa indera kita terkadang salah menilai. Adalah seorang tua setiap hari berjamaah di masjid kota. Setiap selesai salat sembari keluar dari halaman masjid ia memungut setiap daun yang berserakan. Kemudian sang kakek memasukkan ke bak sampah. Setiap hari ia melakukannya. Para pengurus masjid merasa tidak nyaman melihat itu.

Satu hari seperti biasa sang kakek keluar dari masjid. Ia tidak mendapatkan satu daun yang berserakan. Pengurus masjid telah membersihkan sebelumnya. Sang kakek menoleh kanan kiri, tetapi tidak ada sampah daun yang dijumpainya. Ia terduduk di bawah pohon. Matanya berkaca-kaca. Pengurus masjid memperhatikan kakek itu. Ia merasa iba, ada apa dengan kakek. Apakah ia sang kakek sakit? Pikirnya.” Ada apa kek? Apakah kakek sedang sakit?”Tanya pengurus masjid itu.

Sang kakek menggeleng tanda ia menyangkal sangka pak pengurus. Ia masih menengok kanan dan kiri seperti ada yang dicari.” Kemana daun-daun yang biasa berserakan di sini nak? Aku merasa ada yang hilang.”

“Kami sudah menyuruh petugas kebersihan menyapunya kek. Sebagai pengurus kami merasa tidak enak membebani jamaah untuk membersihkan halaman masjid. Kami berharap seluruh jamaah masjid ini nyaman dengan ibadahnya. Kebersihan masjid dan lingkungannya tanggung jawab kami kek.”

Kakek itu menangis. Air matanya tidak terbendung. Sang pengurus masjid menjadi semakin bingung. Adakah yang salah dengan ucapannya.

“Anakku, apakah kamu melihat aku mengambil sampah setiap selesai jamaah salat zuhur di sini?”

“Ya kek. Kami iba kalau kakek setiap hari mengambil sampah kakek jadi tidak tenang salatnya. Apakah ada yang salah?”

“Sama sekali tidak nak. Apa yang kamu lakukan benar adanya. Tapi apakah engkau hanya melihat daun- daun itu sebagai sampah. Apakah mereka benda tidak berguna menurutmu?”

“Ya kek. Daun-daun itu adalah reruntuhan tanaman yang tidak berguna lagi. Dan mereka harus segera dibersihkan. Kebersihan masjid ini tanggung jawab kami. Kakek tidak perlu membersihkannya. Biar kami yang menyelesaikan. Kakek beribadah yang tenang ya?” Pengurus masjid itu yakin sekali dengan penjelasannya pada sang kakek.

“Anakku, aki tidak melihat daun-daun itu sebagai sampah. Aku melihat bahwa itu ladang pahala yang sangat besar. Aku menangis bukan karena daun itu. Tapi aku kehilangan pahala yang bisa aku lakukan setiap hari. Anakku di daun-daun itu aku sandarkan salawat kepada nabiku. Aku rindu padanya. Aku sandarkan rinduku pada daun-daun itu. Yang aku tahu setiap salawat yang terbaca akan diganti sepuluh kebaikan. Lantas kalau daun itu sudah bersih aku kehilangan.”

Selalu ada kebaikan pada apa saja. Tidak ada yang sia-sia Tuhan menciptakannya. Prasangka kita terhadap yang kita anggap tidak berguna ternyata berbeda di mata orang lain. Pelajaran penting untuk kita tidak memaksa apa yang kita pahami kepada orang lain.
Banyak orang telah berhasil menjadikan karya dari benda yang dianggap sampah.
Jaya Makmur, Katingan, Kalimantan Tengah. 11/07/2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *