Menulis itu Belajar-Belajar
Oleh : Moh. Anis Romzi

Ann Hadley via Cahyadi Takariawan dalam menulis: Sama dengan mengajar(Lockdown2020.id) penulis buku Everybody Writes menyatakan bahwa menulis itu sama dengan mengajar. Hanya sarananya saja yang berbeda. Saya langsung cling, nyambung. Seperti tersengat listrik tegangan rendah, kaget. Ya memang karena saya berprofesi sebagai pendidik.

Mengajar adalah pekerjaan saya sehari-hari. Bahkan karena sangat terbiasa sejak 2005 sudah mulai belajar mengajar. Namun saya selalu merasa ada yang kurang setelah selesai mengajar. Hampir setiap hari bergelut dengan peserta didik. Sering kali saya merasa berdosa bila belum mampu memahamkan peserta didik. Apalagi kalau capaian di bawah Standar Ketuntasan Belajar Minimal (SKBM). Ada juga yang menyebutnya dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).
Sebagai pekerjaan harian, mengajar sering kali melahirkan permasalahan setelahnya.

Aktivitas pekerjaan harian mengajar biasa saya tulis ulang di jurnal kegiatan harian. Apa saja pengalaman dalam mengajar saya tulis. Dari hasil tulisan itu menjadi bahan renungan dan evaluasi mingguan. Saya sering berdiskusi dengan teman sejawat mengenai permasalahan yang timbul setelah selesai mengajar. Kami menamakan diri sebagai Komunitas Pembelajar Profesional (KKP). Dari hasil tulisan jurnal harian itu secara tidak sengaja saya telah belajar menulis. Ya, dari kegiatan harian telah lahir 3 buku solo.

Selama menulis aktivitas mengajar dalam jurnal secara tidak sadar telah menghasilkan sekitar 5 buah buku tulis habis. Tulisan itu adalah tulisan tangan di buku agenda. Tidak ada yang istimewa. Saya menyadari, tampaknya karena usia ketajaman ingatan semakin berkurang. Menulis adalah solusi mengikat pengalaman menjadi prasasti. Itu menurut saya.

Saya memaknai bahwa mengajar sejatinya tetap masih belajar. Saya merasa selalu belum sempurna. Saya berkeyakinan bahwa pekerjaan mengajar saya adalah belajar. Sering dalam diskusi antar pendidik bahwa kegiatan kita di sekolah ini bukan KBM ( Kegiatan Belajar Mengajar) tetapi KBB (Kegiatan Belajar Belajar). Ini dimaksudkan agar para pendidik tidak pernah berhenti belajar. Kami berkomitmen untuk meningkatkan diri secara kontinu.

Dalam aktivitas menulis adalah belajar. Menulis aktivitas harian merupakan dokumentasi pengalaman yang sewaktu-waktu dapat dipanggil lagi. Di saat usia menginjak 40 ingatan tidaklah sekuat sebelumnya. Maka menulis adalah senjata ampuh untuk dokumentasi. Apalagi bila dapat menjadi buku. Ini dapat menghasilkan angka kredit. Itu bagi yang punya kepentingan untuk naik pangkat dan golongan.

Memaknai menulis adalah belajar, dan mengajar pun adalah belajar. Keduanya adalah gabungan aktivitas yang berbeda dengan tujuan yang sama. Kalau mengajar memaafkan peserta didik sedangkan menulis memahamkan pembaca. Tujuan inilah yang harus dijaga arahnya. Pedoman operasional pembelajaran adalah perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan perbaikan. Saya menerapkan hal yang sama dalam menulis.

Menulis bagi seorang guru tampaknya adalah pekerjaan harian. Agak sulit dipercaya kalau misalnya ada seorang pendidik menyatakan tidak bisa menulis. Agus Hermawan (2006) menyatakan bahwa seorang pegawai Tata Usaha saja merasa amat banyak yang harus ditulis, apalagi seorang pendidik. Setiap hari para pendidik bertemu dengan peserta didik yang heterogen. Saya pastikan akan ada pengalaman yang unik untuk ditulis. Menulis sambil bekerja mengajar masih tetap dapat dilakukan.

Saatnya para pendidik menulis untuk pendidikan Indonesia. Permasalahan pendidikan di Indonesia layak ditulis dan dicarikan solusi pemecahannya. Ada wadah karya tulis bagi pendidikan yaitu Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Andai saja seorang pendidik membuat satu saja PTK dalam satu semester, niscaya tradisi literasi para pendidik Indonesia akan sangat subur. Asalkan PTK yang dihasilkan orisinal dari sang pendidik. Menulis adalah aktivitas belajar bagi siapa saja.
Jaya Makmur, Katingan, Kalimantan Tengah. 10/07/2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *