Membaca Mengantuk, Menulis tidak Bisa Tidur
Oleh : Moh. Anis Romzi

Setiap kali saya membaca buku, rasanya mata ini berat. Apakah anda pernah? Kalau saya sering. Mudah-mudahan kita sama. Ini supaya anda tertarik membaca seterusnya tulisan ini. He he…

Mata sering lebih tertarik pada aktifitas di media sosial. Ragam aktifitas kawan dunia maya selalu menarik untuk diperhatikan. Namun itu tidak selalu baik, jika mata hanya digunakan untuk memelototi kegiatan orang lain. Terlalu sayang rasanya. Buku adalah sarana untuk mendapatkan pengetahuan. Apa bedanya buku dengan media sosial? Buku ditulis dengan kesungguhan hati. Juga telah melalui proses penyuntingan.

Namun sering kali ketika membaca buku, mata sulit diajak kompromi. Rasa kantuk ujug-ujug datang ketika membuka lembaran demi lembaran. Mungkin tidak menarik bentuk fontnya, atau tampilan tata letak tulisan. Apalagi jika isinya tidak menarik hati kita. Ini akan membawa masalah pada mata kita. Terlepas dari hal-hal tersebut, kebiasaan membaca buku harus diupayakan. Ini merupakan langkah awal membangun budaya literasi.

Kalau sudah mata berat, godaan untuk kembali ke media sosial mendera. Buku yang sudah direncanakan akan selesai dibaca terbengkalai lagi. Ini harus diusir rasa malas untuk membaca. Berhenti membaca berarti berhenti mendapat ilmu.

Ketika membaca mulai menjadi mengantuk tidak perlu dipaksa. Kita perlu berhenti sebentar. Lakukan aktifitas yang lain untuk mengusir kantuk. Bukan dengan menurutinya. Meregangkan badan bisa menjadi salah satunya. Dalam melakukan aktifitas pendukung membaca ini tidak perlu terlalu lama. Cukup sesaat saja.

Lain halnya dengan tulis menulis. Setiap selesai menulis sebuah tema, mata ini rasanya sulit untuk diajak istirahat. Walaupun badan lelah. Terasa masih ada yang kurang. Terasa ada kata yang hilang, kalimat tidak efekti, terkadang paragraf yang tidak padu.

Menulis tidak bisa mengantuk. Karena ia melibatkan seluruh panca indera dan pikiran. Bahkan berdasarkan pengalaman saya bahwa setelah selesai menulis sesuai target harian, justru tidak bisa tidur. Karena rasa tidak puas dengan hasil tulisan sendiri inilah kiranya yang membuat tidak jadi mengantuk. Apa iya? Ya iya sajalah.

Membaca sambil menulis tidak dianjurkan. Ini akan mendorong pada plagiarisme pada hasil tulisan kita. Ketika membaca dan menulis dilakukan bersama kita akan sulit mengeluarkan hasil pemikiran sendiri. Jika memang harus terpaksa tidak apa-apa. Kita dapat menggunakan teknik mengutip sebuah tulisan dari orang lain. Inilah objektifitas penulisan.

Menulislah dengan apa yang ada di pikiran kita dahulu. Jika memang memerlukan rujukan, kita dapat mencarinya dari tulisan orang lain. Buku lebih dianjurkan karena hal-hal di atas.

Jika ada terbiasa menulis rasa kantuk sulit menghampiri anda. Bahkan hambatan saat membaca karena kantuk akan serta- merta hilang. Namun perlu diingat bahwa menjaga kesehatan diri adalah sangat penting. Jangan sampai menulis sebagai aktifitas yang menyehatkan menjadi terbalik. Menulis menjadi melahirkan penyakit baru. Jangan sampai. Tidak lucu jadinya bila ada sebuah tulisan dengan judul, karena kelelahan dalam menulis seorang penulis tidak sadarkan diri. Nah loh. Kendali ada pada diri anda sendiri bukan orang atau benda lain.

Menulislah dengan hati dan rasa. Karena ia adalah sumber inspirasi dari dalam diri. Hati adalah tempat memutuskan dari hasil pengolahan pikiran. Sedangkan pikiran adalah hasil proses pengamatan dan pengalaman panca indera kita. Hati tempat untuk melakukan olah rasa. Bukan olah raga, ingat! Apabila sudah terbiasa dengan melakukan olah rasa tulisan akan menjadi ‘enak’.

Saatnya melawan kantuk saat membaca dengan menulis. Apabila mata terasa lelah saat membaca anda boleh beralih ke aktifitas menulis. Namun jangan dilakukan bersamaan ya? Jika tulisan anda ingin dibaca oleh orang lain tentunya harus memiliki rasa yang ‘enak’. Rasa tulisan yang enak berasal dari kemenarikan tema, sistematika kepenulisan, tata letak yang menarik. Dan penggunaan kalimat efektif. Hindari penulisan dengan satu kalimat yang panjang. Sentuhlah rasa pembaca. Walaupun tidak semua bisa. Tapi cobalah!
Jaya Makmur, Katingan, Kalimantan Tengah. 09/07/2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *