LDR

Oleh: Triznie Kurniawan

Siapa sih yang tidak mau hidup normal? Hidup normal layaknya keluarga-keluarga lainnya. Suami istri dan anak-anak bertatap muka setiap hari, tak perlu lagi menenun rindu kala senin pagi menghampiri dan menyelesaikan tenunan rindu pada akhir pekan.  Sudah tak dapat dipungkiri lagi, Nadia dan penggenap imannya patut mendapat lencana sebagai pemenang predikat LDR an terbaik versi majalah mereka sendiri. Bagaimana tidak? Sudah sedasa warsa mereka menjalani kehidupan abnormal namun tetap dijalani dengan normal.

Pagi itu Nadia sudah bersiap-siap menuju tempatnya berdinas setelah anak pertamanya berangkat ke sekolah naik sepeda kesayangannya. Si adik yang masih sekolah Taman Kanak-kanak pun sudah siap dengan seragam kuningnya. Sebenarnya hari ini Nadia sangat kecewa, semalam dia mendapat pesan dari suaminya bahwa seminggu ini harus ikut workshop perbankan di luar Kota., padahal minggu ini adalah minggu yang dinanti-nanti selama setahun. Minggu yang spesial dan sudah sangat dia rencanakan bersama suaminya untuk bersama. Mensyukuri kebersamaan mereka sejak sebelas tahun lalu.

Nadia gusar, dadanya sesak berapi-api, tangannya mengepal, kedua netranya berkabut dan mulai menggenang, pikiran-pikiran negative mulai berdatangan tanpa permisi. Nadia mengeluarkan sepeda motor kesayangan “blue black” miliknya. Dia tekan starter dengan penuh emosi, sembari memanaskan mesin yang sudah mulai terdengar tak nyaman di telinganya dia menyeka kaca spion dengan tangan mungilnya. “Dert..dert..” gawai dalam kantong abu-abu itu bergetar. Secepat kilat dia rogoh dan diusapnya aplikasi warna hijau yang paling sering terpakai itu. “Maaf dek, malam ini aku diharuskan menginap dengan seorang wanita, sebenarnya aku sudah menolak tetapi ini sudah aturan kantor, aku janji tidak akan terjadi sesuatu yang membuatmu kecewa” pesan itu berhasil membuat netra yang menggenang kini mengalir deras. Setelah berusaha bernapas dan menata hatinya, Nadia melirik kaca spion untuk membenahi wajahnya, belum sempat dia mengusap kedua matanya, bayangan seorang pria dengan sebuah kotak besar yang hanya tampak kaki jenjangnya, begitu Nadia menoleh “Kejutaaaaaan….” Suara pria yang dia tangisi terdengar sangat merdu dari balik kotak itu. Menyebalkan. “Wanita itu ya kamu” bisiknya.

Pentigraf ini hanya fiksi belaka walaupun terinspirasi dari kejadian nyata.

Sumber: https://trizniekurniawan.wordpress.com/2020/07/11/ldr-pentigraf-6/

0Shares

By Admin

One thought on “LDR”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *