Kesulitan vs Kemudahan

Oleh: Husin Ludiono

Kesulitan dan kemudahan itu, jika dilihat dari eksistensinya, bagaikan sekeping uang logam. Pada kedua sisinya terdapat gambar yang berbeda, namun tidak dapat dipisahkan. Begitulah dengan kesulitan dan kemudahan, selalu ada di setiap fragmen kehidupan semua orang.

Saat menulis artikel ini, jujur saja saya pun mengalami kesulitan bagaimana mengurai dua kata tersebut. Namun, saya coba paksakan diri mengetuk dua jempol saya di layar ponsel pada keyboard, dengan maksud untuk menuntaskan tulisan ini. Selain itu, juga didasari keyakinan pada FirmanNya dalam surat Al-Insyirah ayat 6 yang artinya “Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. Alhamdulillah, artikel inipun menjadi mudah diselesaikan.

Kesulitan memang tak dapat dielakkan oleh siapapun, baik orang tua-anak muda, orang kaya-orang miskin, orang biasa-pejabat, rakyat jelata raja-raja, laki atau perempuan pastinya pernah mengalami masa sulit. Pernah menjalani hidup dengan tidak mudah, malah cenderung berliku, naik turun banyak rintangan dan gangguan, tangis, lelah dan mungkin saja nyaris mengikis habis harapan, seperti kisah nyata beberapa orang yang akan saya tuturkan di depan, bagaimana mereka akhirnya mendapatkan kemudahan dan mampu mengatasi kesulitannya.

Kesulitan Belajar
Apapun profesinya, pekerjaannya pasti pernah mengenyam proses pembelajaran, baik itu pendidikan usia dini, dasar, menengah maupun tinggi. Baik itu sifatnya formal, non formal ataupun informal. Karena belajar merupakan kewajiban atas dasar perintah agama maupun undang-undang. Kita lancar membaca dan menulis karena belajar, pedagang pasar mampu menghitung dan bertransaksi karena belajar. Seorang ustad bisa berceramah karena belajar. Seorang atlit menjadi mahir karena belajar. Namun kemampuan yang ada pada diri mereka tersebut, proses mewujudkannya tidak semudah membalikan telapak tangan.

Di dalam proses pembelajaran, pun ada kesulitan yang harus dihadapi. Kenyataan ini diungkapkan oleh seorang ulama besar pendiri mazhab ternama yaitu Imam Syafii, dalam suatu kesempatan beliau mengatakan bahwa “Barangsiapa yang tidak mampu menahan lelahnya belajar, maka ia harus mampu menahan perihnya kebodohan.” Lihatlah perkataan sang Imam tersebut bahwa terdapat korelasi (hubungan) antara kesabaran menahan lelahnya belajar dengan perihnya kebodohan. Kelelahan dan kesulitan dalam memahami pelajaran pasti dirasakan, oleh karenanya jika tidak mengerti terhadap suatu masalah hendaklah bertanya kepada guru, atau orang yang kapabel. Saat ini tidaklah sulit mendapatkan jawaban di zaman internet ini, tinggal searching maka akan tampil jawaban dengan uraian yang lengkap di mesin pencari (browser).

Alhamdulillah, kita masih diberi panca indra yang lengkap dan sehat untuk dapat mengikuti proses pembelajaran. Namun, lain halnya dengan Helen Keller kecil seorang warga Amerika yang hidup pada tahun 1880-1968. Sebelum ia dewasa dan sukses menjadi seorang Penulis ternama dengan buku yang berjudul “The Story of My Life”, “The World I Live In”, “Light In My Darkness” dll. Ia juga menjadi Aktifis Politik, Dosen dan sejumlah pencapaian lainnya. Helen Keller kecil harus menerima kenyataan pahit dalam hidupnya, di usianya 1 tahun 7 bulan ia mengidap penyakit yang menyebabkannya buta dan tuli (tuna netra dan tuna rungu). Ia tentu adalah manusia biasa, kenyataannya itu tentu mengguncang jiwanya, membuatnya sering marah, kesulitan berkomunikasi, kesulitan belajar, kesulitan yang sangat hebat. Namun orangtuanya tidak tinggal diam, mereka upayakan berbagai cara agar anaknya dapat beradaptasi sebagaimana manusia lainnya. Diantaranya dengan mendatangkan seorang guru untuk mengajari helen kecil. Bayangkan betapa sulitnya menghadapi situasi tersebut baik dari sisi murid dan gurunya.

Anne Sulivan adalah seorang Pendidik yang hebat, hidup antara tahun 1886-1936. Berkat kesabarannya dalam mendidik Helen berbuah manis. Kesulitan berubah menjadi kemudahan. Ia akhirnya berhasil mengajari helen kecil berkomunikasi dan mengenal huruf braille. Mengajarinya mengenal benda dan namanya dengan cara-cara yang tak biasa, sampai mengajari pengetahuan yang membawa seorang Helen Keller menjadi orang yang pandai dan sukses dalam kehidupannya dan menjadi inspirasi dunia.

Apa hikmah yang dapat dipetik dari Helen Keller dan Anne Sulivan? Adalah mereka mampu menghadapi kesulitan dalam belajar dan lebih dari itu. Keterbatasannya tidak membuat patah arang menyerah dan pasrah. Kesulitan yang hebat itu tidak membuatnya berhenti untuk berkarya. Malah siapa sangka seorang tuna netra dan tuna rungu berhasil menjadi orang yang lebih sukses dibanding orang yang lengkap panca indera beserta fungsinya. Kesulitan memang selalu ada namun kesulitan bukanlah hambatan, selama diri mau berusaha dibarengi dengan doa pada Yang Maha Kuasa, Insya Allah akan sampai pada yang diharapkan.

Sumber: https://husinludiono.wordpress.com/2020/07/10/kesulitan-vs-kemudahan/

Bahan Bacaan:
https://www.google.com/amp/s/islamsantun.org/nasehat-imam-syafii-kepada-para-penuntut-ilmu/amp/
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Helen_Keller

0Shares

By Admin

One thought on “Kesulitan vs Kemudahan”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *