Balada Mencari Sinyal Saat Ulangan Daring
Oleh : Moh. Anis Romzi

Pagi itu selasa 09 Juni 2020. Ini adalah saat PAT (Penilaian Akhir Tahun) anak. Penilaian yang dilakukan secara daring menuntut ketersedian koneksi internet maksimal. Namun sayangnya pagi itu sejak malam hari terjadi gangguan sinyal internet. Alat bantu antena penguat sinyal tidak cukup membantu. Sementara PAT tidak bisa ditunda.

Saat jaringan telkomsel down seluruh Kalimantan Tengah. Kabar itu muncul satu hari setelahnya. Ulangan tidak bisa ditunda. Seluruh wilayah desa sudah dijelajahi sinyal internet tidak kunjung muncul. Sejak pagi hari dua luasan desa telah dijelajahi masih sang sinyal enggan muncul di layar gawai android. Saya dengan anak berkeliling dari satu titik tempat ke yang lain. Hampir setiap 100 meter kami berhenti. Ini kami lakukan hampir 3 jam lebih.

Saat sinyal tidak kunjung muncul, malang ban sepeda motor bocor pula. Jarak pemukiman penduduk dengan ujung desa sekitar 4 km. Tidak ada orang lalu lalang. Terpaksa motor dipaksa berjalan dengan ban kempes. Anak saya terpaksa harus jalan kaki sambil menunggu di persawahan. Ternyata banyak pula para peserta didik jenjang SLTA melakukan hal yang sama. Mereka duduk berkelompok di dangau tepian sawah.

Walaupun terengah dengan sedikit perjuangan sampai juga di pemukiman penduduk. Karena waktu penilaian terus berjalan, upaya mencari sinyal tetap dilanjutkan. Setelah menaruh sepeda motor di bengkel, saya meminjam sepeda motor pelanggan bengkel yang sudah diperbaiki. Motor yang sudah diperbaiki tetapi belum diambil. Ulangan anak harus berhasil hari ini, pikirku.

Perjalanan dilanjutkan ke luar desa. Alhamdulillah bertemu dengan salah satu peserta didik. “Bal, hp kamu ada sinyal internetnya?” tanyaku.
“Ada pak. Memang kenapa pak?” tanyanya.
“Ini si Better hendak ujian online. Apakah boleh ikut numpang sinyalnya?”
“Boleh pak. Silakan. Apakah punya bapak tidak bisa?”
“HP bapak pakai telkomsel. Tadi sudah keliling kampung masih tidak dapat juga. Memang kamu memakai kartu apa?”
“Kartu Indosat pak. Maka biasanya telkomsel sinyalnya paling kuat.”

Saat itu pukul 10.15 WIB. Saat hendak login mata pelajaran IPS ternyata waktu ujian sudah habis. Instruksi dari aplikasi belajar meminta untuk menghubungi guru mata pelajaran. Si Better anak saya, terlihat berkaca-kaca. “ waktunya sudah habis abah”
Tidak tega rasanya melihat anak gagal mengikuti ulangan hari itu. Rencana yang sudah dipersiapkan terasa sia-sia. Upaya mencari sinyal yang dilakukan sejak pagi hari tidak membuahkan hasil. Tampak sesal menyelimuti wajahnya.

“Kamu hubungi gurumu dulu. Siapa tahu ada jalan keluar. Sekarang senyampang masih belum begitu lama berlalu waktunya. Kamu sampaikan kondisi sebenarnya yang terjadi. Memang kondisi sinyal di desa kita tidak menentu. Mudah-mudahan bapak/ibu gurumu bisa mengerti” Saya mencoba mencarikan jalan keluar.

Dengan sedikit cemas Better mencoba mengirim pesan via aplikasi Whatsapp. Dengan ragu ia mengetik pesan kepada gurunya.” Assalamualaikum ibu, saya Better. Saya belum bisa mengikuti ujian IPS karena tidak bisa login hari ini. Waktunya sudah habis. Di desa saya sinyal internet nya ada gangguan. Apakah saya masih bisa mengikuti ulangan?”Tulisnya.

“Bagi siswa yang belum mengikuti Ulangan. Remidi akan dilaksanakan kamis mulai dari jam 07.00 Wib.” Bunyi pesan wa dari sang guru. Better sudah bisa mulai tersenyum. Walaupun dengan modal meminjam wifi dari orang lain, hari itu masih sempat mengklarifikasi kepada gurunya.

Hari itu memang penuh perjuangan dalam mencari sinyal. Di daerah pedalaman seperti kami kondisi yang demikian sangat sering terjadi. Kalaupun bukan gangguan sinyal sering sekali jaringan PLN tidak menyala di siang hari. Namun semua mesti disyukuri. Kita mengeluh tidak menyelesaikan masalah. Mencari sinyal saat ujian daring sering menciptakan balada bagi anak desa.
Jaya Makmur, Katingan, Kalimantan Tengah. 09/07/2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *