Acc Boss

Oleh: Triznie Kurniawan

Tekad dan kekuatan doa adalah segalanya, Nothing Impossible tak ada yang tak mungkin. Bermodal tekad yang kuat akhirnya kami bertiga dapat melanjutkan sekolah sampai pendidikan tinggi. Awalnya banyak kerabat yang kurang senang melihat mereka bertiga getol dalam bersekolah, mengingat lingkungan yang masih sangat kolot dengan peradaban persawahan dan peternakan. Namun, kini Nadia dan dua saudaranya dapat menunjukkan, bahwa kami anak-anak yang dulu pernah kalian bully, anak-anak yang dulu pernah kalian cemooh, anak-anak yang dulu sering kalian tuduh mencuri, kini mendapatkan sesuatu yang sampai detik ini belum bisa didapatkan oleh kalian. Wahai manusia berharta dan bertahta, roda itu berputar, bumi pun berotasi untuk menghasilkan siang dan malam yang bisa kalian nikmati. Begitupula kehidupan, semua yang ada pada diri akan terus berotasi, tak akan ada yang abadi. Yakinlah bahwa langit akan kembali cerah setelah berlalunya badai.

Kerupuk bergambar udang warna ungu yang bertuliskan “ACC BOSS” merupakan jajanan ngetren pada tahun 90an di desaku. Terlihat menggelayut di tepi sebuah warung di pinggir jalanan sepanjang aku pulang sekolah bersama adik tersayangku. Kurogoh kantong kain dalam rok hijau yang aku kenakan, ku keluarkan tangan kosongku dan kuperlihatkan pada adik kecilku. Dia menunduk tanda kecewa padaku, belum juga aku menjelaskan padanya, tangannya sudah menggaet jajanan warna ungu itu. Adik yang ikut sekolah denganku walau usianya belum cukup, dia menungguiku belajar di luar kelas ketika aku sekolah. Sesak dadaku ingin berteriak padanya (tentu dia tak paham apa yang sudah dilakukannya), namun ibu penjual dengan suara khasnya itu sudah mendapati kami berdua memegang dagangannya. “Tidak kami tidak mencuri” suaraku serak seraya melindungi punggung adikku dari benda keras yang terus saja menimpaku.

Beberapa tahun lalu kami bertiga menikmati libur sekolah panjang bersama ke sebuah tempat rekreasi. Senang rasanya dapat bercengkerama dan mengingat kenangan masa kecil yang sangat luar biasa. Di sudut taman itu tampak seorang wanita tua dengan daster compang-camping membawa baskom berisi beberapa receh koin. Tak tega aku melihat ibu itu kepanasan, bulir-bulir keringat mengucur deras dari balik rambut kumalnya. “Sembah nuwun nak, mugi Gusti Allah maringi rejeki sing barokah” tuturnya ketika kami menceburkan beberapa lembar ribuan. Entahlah apa hanya perasaanku saja, suara itu seperti sangat familiar dalam ingatan.

Pentigraf ini hanya fiksi belaka walau terlahir dari modifikasi kisah nyata.

Sumber: https://trizniekurniawan.wordpress.com/2020/07/10/acc-boss-pentigraf/

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *