Merawat Learning Tradition
(Mengenal MAPK, Anak Emas Munawir Sadzaly)

Oleh: Abdul Mutolib Al-Jabaly

Hadirnya buku Santri Kaliwates karya Antalogi alumni MAPK Jember pada awalnya saya kira hanya akan membangkitkan memori ‘kangen-kangenan’ alumni MAPK Jember. Kebetulan saya sempat mengintip proses ide penulisan buku ini melalui akun FB editornya mas Arif Maftuhin.

Namun ternyata buku ini memiliki efek kejut dan menghadirkan resonansi positif khususnya di dunia permadrasahan. Tidak lama setelah terbit, para policy maker madrasah di tingkat pusat langsung tergugah dan terpacu untuk memoncerkan lagi Madrasah Aliyah Program Khsusus (MAPK) yang saat ini telah dihidupkan lagi atau direvitalisasi. Sejak tahun 2017.

Kebetulan akhir tahun ajaran ini MAPK Jilid II meluluskan tamatan pertamanya. Menurut data yang dilansir oleh Ketua Paguyuban MAPK Nasional, tahun ini ada 355 alumni MAPK baru dari 10 MAPK jilid II tersebut.

Gaung resonansi dari buku dengan judul lengkap “Santri kaliwates, Dari MAPK untuk Indonesa” ini tanpak jelas dalam acara webinar nasional yang betajuk “Menggali Emas Alumni Madrasah” yang dieselenggarakan oleh Direktorak KSKK Kementerian Agama beberapa waktu yang lalu. Meskipun seminar itu tentang madrasah tapi isinya adalah perbincangan tentang kehebatan alumni MAPK. Seminar tersebut telah memantik Bapak Direktur KSKK Dr. Umar bertekad untuk mengembalikan MAPK jilid II seperti MAPK Jilid I bahkan lebih dari itu. Jika alumni MAPK Jilid I itu ibarat emas maka maka alumni MAPK jilid II harus lebih dari emas tapi intan permata.

Tidak berhenti disitu efek domino dari buku ini juga muncul di Rapat Nasional Para Pembina MAPK 17 Juni 2020 kemarin. Bapak direktur KSKK dan Bapak kasubdit kurikulum dan evaluasi juga menyampaikan tekadnya mencari terobosan-terobosan untuk kemajuan MAPK seperti bantuan biaya pendidikan dan beasiswa studi lanjut.

Saya selaku alumni MAPK Solo ikut bergembira dan bertierima kasih kepada teman-teman MAPK Jember dan berharap penulisan buku ini diikuti oleh alumni MAPK lain untuk mengenalkan pada umat kiprah alumni MAPK yang memang sangat pantas untuk diketahui oleh umat. MAPK telah banyak melahirkan banyak doktor, sebagian telah menduduki jabatan strategis seperti rektor dan dan esselon II di kementerian. Alumni MAPK Solo sendiri telah memiliki banyak doctor baik lulusan dalam negeri maupun luar negeri. Yang kiprahnya dikenal secara nasional antara lain Habiburrahman Elsyirazi atau kang Abik penulis Novel Ayat-ayat Cinta, pengamat politik Burhanudin Muhtadi dan konsultan keuangan mikro Syari’ah Bagus Teguh.

Kembali ke buku Santri Kaliwates. Buku ini
Saya tidak pernah membayangkan MAPK Solo ditakdirkan menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup saya. Paling tidak hingga saat tulisan ini dibuat. Sejak awal berdiri tahun 1990 hingga saat ini, saya masih nyadong berkah dan nunut kemuliaan hidup di pesantren negeri setengan salafiyah dan setengah modern ini. Praktis saat ini saya adalah alumni MAPK solo yang paling lama, untuk tidak mengatakan paling setia, membersamai almamater tercinta ini.

Inilah sedikit modal yang mendorong saya ikut ambil bagian menulis di kumpulan tulisan alumni ini. Mudah-mudahan dapat memberi prespektif lain dari buku ini. Adapun bagian menginspirasi sudah sangat cukup diwakili oleh orang-orang hebat di sini yang tidak diragukan lagi kiprahnya baik secara nasional maupun internasional.
Sejak saya mulai memiliki kesadaran untuk merajut masa depan, yaitu kelas 2 Mts, yang ada dipikiran saya adalah melanjutkan pendidikan di pondok pesantren. Tentu hal itu merupakan pengaruh lingkungan sosial dan guru-guru, baik di langgar desa, madrasah ibtidaiyah dan madrasah tsanawiyah yang mewarnai layer kehidupan saya. Ponpes Nurul Jadid di Kecamatan Paiton Kabupaten Probolinggo adalah dambaan saya waktu itu atau Pesantren Salafiyah Besuk Pasuruan sebagai alternatifnya.

Namun takdir telah merubah labuhan harapan itu. MAPK Solo telah dipilihkan untukku oleh Zat Yang Maha detail perencanaanNya. Singkat ceritanya Kementerian Agama (dulu bernama Departemen Agama) membuka pilot project madrasah unggulan yang dirancang untuk menyuplai kelangkaan ulama yang mampu membaca kitab kuning dan memiliki wawasan keilmuan umum atau diistilahkan ulama plus waktu itu.

Pada saat kelulusan MTs, bapak kepala memanggil saya dan orang tua saya. Beliau memberitahukan bahwa Departemen Agama membuka madrasah aliyah unggulan dengan biaya gratis. Beliau pun mendorong saya mendaftarkan diri ke program ini yang pada waktu itu untuk wilayah Jawa Timur di buka di Jember.

Dengan harapan besar dan tentu kecemas besar, saya mendaftarkan diri dan mengikuti seleksi tingkat provinsi di asrama Haji Sukolilo Surabaya. Harapan besar begitu membahana di pikiran saya agar menjadi bagian dari generasi Islam yang digembleng secara khusus tetapi nirbiaya. Namun kecemasan tidak kalah membahananya karena untuk mewujujudkan harapan tersebut harus bersaing dengan 360-an kompetitor dari MTs seantero Jawa Timur.

Saat pengumuman yang ditunggu-tunggu tiba, kebingungan justru menyelimuti pikiranku karena tertulis dalam surat pengumuman daftar nama peserta seleksi MAN PK yang diterima di MAN PK Bondoloyo Surakarata. Ya, betul Bondoloyo tertulisnya bukan Bonoloyo.

Alhamdulillah kebingungan segera berubah menjadi kebahagiaan setelah berkonsultasi kepada bapak kepala dan mendapat keterangan bahwa di Solo Jawa Tengan di buka MANPK baru dan memerluksan suplai calon siswa dari Jawa Timur yang lebih dahulu membuka MANPK. Seketika saya memperbanyak syukur dan meyakini bahwa ini cara Allah menjadikan salah satu hambaNya yang beruntung mengenyam pendidikan MAPK.

Masa-masa di MAPK lah yang paling banyak mewarnai dan menshibghah ulang kehidupan saya. Juga mengistal ulang shoft ware pola pikir dan pola tindak saya. Terus terang saya orang udik yang sebelum masuk MAPK dalam keseharian lebih banyak berjibaku dengan urusan membantu pekerjaan orang tua; mengarit, mencari kayu bakar, bercocok tanam dan memanen hasil pertanian. Tentu bermain menjadi aktivitas yang tak terlewatkan.

Adapun urusan belajar terabaikan. Belajar itu hanya di kelas dan setelah keluar dari kelas tidak ada lagi belajar. Satu-satunya yang bisa diceritakan dengan cukup bangga adalah belajar mengaji di surau. Gitu kok bisa masuk MAPK ya? Hadza sirrun min asrarillah ( Itu salah satu rahasia Allah) dan hikmah Allah dalam kebidupan.

Di MAPK semua itu berubah. Diawali dengan perasaan gegar budaya (culture shock) dan culture lag, tidak butuh waktu lama adrenaline budaya belajar telah terbentuk pada diri saya. Tiada hari tanpa belajar kecuali hari libur untuk aktivitas olah raga atau jalan-jalan kecil. Awalnya hanya bermaksud menyesuaikan diri dengan ritme teman-teman yang tanpaknya sudah memiliki tradisi belajar (learning tradition) dan literasi yang kuat. Agar tidak kelihat berbeda saya sering terpaksa membawa buku ketika keluar asrama meski tidak saya baca, dan itu pun buku pinjaman dari teman.

Namun dari keterpaksaan ini berbuah manis karena akhirnya saya larut dalam nikmatnya lingkungan belajar yang luar biasa dengan kesamaan asa dan kehendak untuk menjadi orang besar. Kadang tebesit kekhawatiran di benak saya kalau ekspektasi itu terlalu besar mengingat kondisi ekonomi orang tua yang pas-pasan.
Budaya pembelajaran di kelas banyak yang awalnya mengagetkan. Dengan bimbingan para asatidz yang awesome, pembelajaran berjalan aktif dan interaktif. Ruang dialog selalu hadir. Setiap guru membuka kesempatan dialog, lebih dari separo kelas yang mengacungkan jari.

Momen yang paling mengesankan bagi saya ada dua. Pertama saat guru bercerita tentang sebuah buku atau kitab, seketika suara “tashwir ustadz” membahana. Maksud ungkapan tersebut para siswa meminta izin untuk mencopy buku yang dipamerkan oleh guru. Kedua saat saya dan teman-teman mengejar ustadz saat jam pelajaran berakhir untuk melanjutkan diskusi yang belum terpusakan di kelas. Jika itu jam terakhir maka diskusi ekstra itu bisa berlangsung cukup lama.

Ada satu hal yang dulu pernah membuat saya betul-betul shock, tapi sekarang menjadi kenikmatan yang luar biasa. Ini semacam blessing in disguise. Satu hal tersebut adalah keragaman pemahaman agama. Di MAPK keragaman pemahan agama tidak hanya diajarkan melalui kajian kitab perbandingan madzhab seperti Bidayatul Mujtahid, tetapi juga kita saksikan dari para asaatidz yang memiliki latar belalang jam’iyah dan gerakan dakwah berbeda dan juga dari kita sendiri para santri dengan latar belakang sosial keagamaanya juga beragam. Namun justru inilah pelajaran hidup yang menjadi bekal penting untuk mengarungi kehidupan multi kuktural sehingga tidak mudah terjebak pada konflik internal umat beragama karena perbedaan pemahaman dalam hal-hal yang sifatnya furuiyyah.

Sebagai alumni tertua yang ditakdirkan mengabdi di almamater hingga saat ini, saya adalah pelaku sejarah yang menyaksikan bahwa MAPK Solo tidak pernah mati, tidak pula mati suri meskipun lebih dari 10 tahun lepas dari “inang”nya. Desain kurikulum, sistem rekrutmen, sistem pembelajaran dan kualitas guru tidak jauh berbeda, bahkan dalam beberapa aspek mengalami peningkatan.

Tetapi yang belum kembali dari MAPK sekarang hatta setelah revitalisasi adalah ritme dan irama kegairahan yang sempat terdistorsi oleh kebijakan politik yang tidak menguntungkan. Tidak dipungkiri hal itu sedikit banyak menurunkan kepercayaan masyarakat dan kepercayaan diri MAPK itu sendiri. Oleh karena itu mengorkestrasikannya kembali mutlak diperlukan.
Tentu peranan paling penting ada pada Kementerian Agama selaku regulator dan penentu kebijakan strategis dan didukung oleh berbagai pihak terkait termasuk para alumni.

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *