Membersihkan Motor: Analogi Pembersihan Diri
Oleh: Moh. Anis Romzi

Seminggu sekali saat hari libur kerja saya mencuci motor. Ini adalah kebiasaan pada hari libur kerja. Bahwa melakukan pembersihan benda mati dapat menjadi pembelajaran untuk pembersihan diri.

Setiap selesai membersihkan selalu terlihat masih ada yang kotor. Pastinya yang lain juga melakukan hal yang sama. Tentu dengan benda yang berbeda. Setelah menjalani aktivitas setiap benda menyisakan residu. Termasuk kita manusia. Baik itu berupa aktivitas fisik maupun batin.

Perumpamaan membersihkan motor seperti membersihkan diri. Semakin berupaya dibersihkan semakin tampak kotor yang masih tersisa. Bahkan terkadang sampai lupa waktu karena terlalu lama. Ternyata melakukan pembersihan itu perlu berulang. Tidak cukup hanya sekali.

Jika membersihkan peralatan fisik cukup dengan air dan sabun. Berbeda dengan pembersihan diri dan jiwa. Di dalam diri ada jiwa. Jiwa yang bersih melahirkan ketenangan. Dengan hati yang tenang inilah Allah akan memanggil kita ke surga-Nya. Kebersihan jiwa dilakukan dengan melakukan kebaikan karena-Nya. Kesempatan hidup adalah bekal mengumpulkan kebaikan, jangan sampai menyesal.

Pembersihan diri dengan salat. Salat adalah ibadah wajib bagi setiap muslim baligh. Dalam kondisi apapun salat tidak bisa ditawar. Salat sebagai ibadah sarana untuk pembersihan diri. Perumpamaan salat seperti sebuah sungai yang kita mandi lima kali sehari, masih adakah kotoran yang tertinggal?

Menyibukkan dengan pembersihan diri membuat kita lupa menilai kekotoran orang lain. Semakin dalam kita mengoreksi kebersihan diri, semakin larut dalam kesibukan diri. Hal positif dari menyibukkan diri kepada kebersihan membuat kia lupa pada memeriksa aib yang lain. Ini akan secara langsung pula menutup aib yang lain. Barang siapa menutup aib saudaranya Allah akan menutup aibnya di hari kiamat.

Salah satu hal yang sama antara pembersihan benda fisik dan jiwa adalah keduanya mesti berulang-ulang. Mustahil rasanya jika sekali melakukan pembersihan akan langsung bersih. Setiap kita layak untuk meniatkan diri untuk selalu mengulang melakukan kebaikan. Ini dilakukan agar keburukan tidak memiliki ruang masuk dalam diri. Sebuah kata bijak dari rekan kerja berikut sesuai untuk diterapkan. ”Sibukkanlah dirimu dalam kebaikan, jika tidak kau akan disibukkan dalam keburukan”(Umi Salamah,S.Pd)

Jiwa yang bersih menimbulkan ketenangan jiwa. Untuk memulai pembersihan jiwa dimulai dengan pembersihan fisik. Islam menyariatkan berwudu bagi yang berhadas kecil dan mandi bagi yang berhadas besar. Semuanya dilakukan sebelum melaksanakan salat sebagai pembersih jiwa. Lebih dari itu syariat istinja juga wajib ditunaikan untuk mengangkat najis. Semua hal ibadah pembersih fisik dilakukan untuk menuju ibadah pembersihan jiwa.

Salat sebagai sarana pembersihan diri harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Allah janjikan keberuntungan yang sangat besar bagi yang melakukannya. Sebuah catatan penting bahwa melakukan kebaikan ibadah harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Kesungguhan adalah tanda cinta dan pengorbanan. Tanpa kesungguhan kebaikan ibadah bisa menjadi sia-sia. Maka berhati-hatilah!

Analogi pembersihan benda untuk pembersihan jiwa adalah pembelajaran. Islam menghendaki bersih jiwa dan raga. Ingat Allah menyukai orang yang bertobat lagi membersihkan diri. Salah satu cara membersihkan jiwa selain salat adalah doa. Doa yang sering dilakukan untuk itu adalah istigfar. Ini adalah dia permohonan ampun atas segala kesalahan yang telah kita lakukan. Semakin sering kita melafazkan istigfar akan semakin baik. Lagi ini dilakukan untuk tidak memberi peluang kata-kata kotor terucap dari lisan kita.

Mari bersihkan jiwa dan raga kita sesering mungkin. Selain bernilai ibadah juga berdampak pada kesehatan keduanya. Dengan catatan semua hanya disandarkan kepada Allah Swt.
Katingan, Kalimantan Tengah, 09/07/2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *