Koran Pagi

Oleh: Triznie Kurniawan

Ketika ayam belum berhenti berkokok fajar itu, Nadia sudah melipat-lipat beberapa kerudung dan gamis ke dalam tas ranselnya. Suami yang baru satu bulan menikahinya masih belum turun dari tempat ibadahnya. wanita muda itu bersungut-sungut ingin segera naik kapal feri ke seberang sana. Sebelum suami menegurnya dia sudah menyiapkan segala keperluan di perjalanan menuju kampung halaman. Entah mengapa rindu ibu terdengar menderu sejak beberapa minggu lalu, tepatnya setelah ia mengikuti tes masuk Calon Pegawai Negeri Sipil di Pulau Seberang ini.

Nadia memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya, setelah berdiskusi panjang dengan imamnya sejak seminggu lalu. Dengan berbagai argumen yang meyakinkan, Nadia berhasil membuat pria yang menjadi pendamping hidupnya itu menganggukkan kepalanya setelah sidang paripurna sepanjang malam. “Tidak mungkin saya yang tak berpunya apa ini bisa lolos Mas” Mukaddimah semalam dibukanya di hadapan suaminya. Banyak pertimbangan yang membuat suami Nadia enggan berbalik ke Kota dingin itu. Di sini dia bisa bekerja di Kota terbesar kedua setelah Jakarta dan menemani istrinya. Entah mengapa Nadia tidak terlalu optimis dengan nasib baiknya karena kabar angin berdesir seolah tak mendukungnya, kabar tak mengenakkan, jika mau lolos ya harus punya sekian puluh juta.

Tujuh dari delapan sahabatnya merantau ke luar kota, bahkan ke luar pulau untuk mengadukan nasib mereka, begitupun dengan Nadia. Penat sudah Nadia menunggu hasil pengumuman yang tak kunjung tiba, tahun 2008 itu internet belum secanggih dan secepat sekarang. kalaupun ada pemberitahuan Nadia hanya bisa membaca di koran langganan ayah mertuanya setiap pagi. Sepeda motor sudah dipanasi oleh suaminya, tas ransel sudah bertengger di punggung Nadia. dengan penuh takdim dan hormat Nadia mencium tangan seorang wanita yang sudah melahirkan suaminya ini, sebelum Nadia mengangkat kepalanya tiba-tiba keponakan suaminya berteriak “Mbak, mbak, mbak, nama sampeyan ada di urutan nomor dua” seraya melambaikan koran pagi yang sudah di tangannya.

Bangkalan, 30 Desember 2008

#Hanyapentigrafbiasa

Sumber: https://trizniekurniawan.wordpress.com/2020/07/09/koran-pagi-pentigraf/

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *