Parit Sempit

Oleh: Triznie Kurniawan

Tak ada yang spesial dalam kehidupan Nanda, gadis berkerudung yang sering duduk di tepi sawah berparas sendu itu. Setiap hari dia dan dua saudaranya membantu neneknya menyirami tanaman, pada sepetak sawah dekat rumahnya. Siang itu udara begitu panas, matahari terasa sangat terik seolah dekat dengan ubun-ubun. Tiga gadis bersaudara itu berniat ke sawah karena tadi pagi nenek berpesan agar melihat cabai yang sudah mulai memerah. Tak banyak kilah , sepulang sekolah, mereka bergegas mengambil topi bambu dan mengayunkan langkah ke arah selatan rumahnya.

Setibanya di tempat tujuan, bertiga langsung melaksanakan tugas masing-masing. Si Mbak mengambil gembor (alat untuk menyiram tanaman yang bentuknya seperti teko terbuat dari seng dan mulutnya banyak lubang tempat keluarnya air). Adik kebagian mencabuti rumput yang tumbuh subur di sela tanaman cabai si mbok, semua rumput dicabut dari akarnya dan dimasukkan parit oleh adik. Nanda yang bertugas memetik cabai yang sudah memerah untuk di masukkan ke wadah. Entah dari mana datangnya tiba-tiba ada suara angin yang terdengar sangat gaduh. Tiga bersaudara itu serentak saling pandang tanpa kata, dan kompak mengernyit tanda keheranan. Semakin lama suara aneh itu terdengar semakin dekat, dalam hitungan detik mereka bertiga sudah berhamburan keluar dari semak-semak tanaman cabai seraya menjerit “Tolong, tolong, tolong”.

Tanpa menghiraukan sekitarnya mereka bertiga berbebar sekuat dan secepat tenaga, meniti pematang sawah yang lumayan sempit siang itu. Betul perkiraan Nanda, bahwa suara itu berasal dari dalam parit. Parit yang biasa digunakan mengambil air untuk menyiram. Adik Nanda yang memang agak bongsor tertinggal di belakang dekat parit, dan “Brukk” suara adik Nanda jatuh terperosok. Dalam sekejap saja gadis bongsor itu lenyap tak kelihatan gerak tangannya yang beberapa detik lalu masih melambai. “Ular itu tampaknya sudah lama kelaparan dan mengincar kalian” ucap sesepuh desa setelah pemakaman jenazah adik Nanda.

#hanyapentigrafbiasa

Sumber: https://trizniekurniawan.wordpress.com/2020/07/08/parit-sempit/

0Shares

By Admin

2 thoughts on “Parit Sempit”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *