Menolak untuk Terperosok

Oleh: Magnolia

Silih berganti permasalahan hidup menghampiri bahkan ada yang mengelilingi seorang insani. Hal problematika menyangkut diri; keluarga; dan lingkungan. 

Apabila diamati maka permasalahan kehidupan yang ada berputar di situ-situ aja, hanya pelakon yang berganti. Semua terpapar di sekeliling lingkungan hidup kita.

Bosan, mendengar atau mengalami, seakan permasalahan tidak pernah selesai atau tidak kunjung berhenti.

Kesal, mengetahui atau mengalami, permasalahannya itu lagi dan balik ke itu lagi.

Marah, terkesiap atau hilang akal, mendapati suatu kejadian tidak lazim. 

Menangis, … menghadapi permasalahan yang meruntuhkan hati dan perasaan.

Reaksi seseorang terhadap persoalan yang dihadapi orang lain, umumnya: “woy, kalau lu ga punya masalah berarti lu sudah mati karena setiap orang hidup pasti akan ada masalah.”

Wait a minute, yakin kita mau menerima jawaban ini? 

Siapkah kamu atau aku menghadapi masalah hidup bertubi-tubi karena konsekuensi sebagai manusia hidup! See, ada yang salah dengan jawaban ini. Not absolutely wrong, karena jawaban tersebut dapat difungsikan untuk menata hati yang sedang kacau di awal, untuk kemudian kembali berfikir jernih.

Mengapa? Berpikir jernih akan menggiring kita untuk menemukan jawaban, kenapa permasalahan juga problematika tidak kunjung selesai. Bisa terjadi, akibat dari kesalahan dalam berbuat dan bertindak. 

Mencermati dan mengingat kembali kajian saat kecil-kecil dahulu masih mengaji di kampung atau di masjid komplek. 

Hukum asal suatu perbuatan dalam Islam adalah sesuai seruan Allah Ta’Ala sebagai pembuat hukum, disebut Hukum Syara’. Dalam syariatnya, terdiri dari: fardu (wajib); haram (terlarang/tidak halal); mandub (dikerjakan mendapatkan pahala); makruh (dianjurkan untuk ditinggalkan) dan mubah (boleh dilakukan, boleh tidak). 

Setelah memahami hukum asal perbuatan, automatis perbuatan dan tindakan orang-orang yang mengaku Islam maka harus disandarkan pada hukum syariat. Sehingga kewajiban seorang muslim adalah mengetahui dan mempelajari hukum suatu perbuatan/tindakan/kegiatan yang akan dilakukannya. Apabila tidak melanggar maka dapat dikerjakannya, demikian sebaliknya.

Kewajiban mencari hukum (Islam) dan mempelajarinya {syariat) adalah wajib sebelum perbuatan itu dilakukan oleh seorang muslim, agar terhindar dari perbuatan maksiat kepada Allah Ta’Ala. 

Kenapa? Karena kelak setiap amal perbuatan manusia akan dihisab, dimintakan pertanggungjawaban oleh Sang Pencipta Semesta Alam Raya ini. Di antaranya, yaitu firman Allah Subhanahu wa ta’ala: 

“Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua. Tentang apa yang telah mereka kerjakan” (QS. Al-Hijr [15] : 92-93).

Begitu juga, mengetahui bagaimana dengan asal hukum suatu benda? Karena benda merupakan alat yang dipergunakan manusia untuk melakukan suatu perbuatan. Maka, mengutip pernyataan Syaikh ‘Atha Abu ar-Rasytah bahwa, “Syara’ hanya memberi sifat pada benda dengan halal dan haram saja.”

Dengan demikian hukum asal suatu benda adalah ibahah (boleh digunakan) selama tidak ada dalil (hukum) yang mengharamkannya. Halal berarti boleh digunakan dan dimanfaatkan, sedangkan haram adalah sebaliknya.

Terperosoknya seorang muslim dalam permasalahan, dominan disebabkan oleh gagalnya pemahaman dan tidak diterapkannya hukum syara’ yang berkenaan dan dibutuhkan  dalam kehidupan dan aktivitas harian.  Berlepas diri dari ketentuan Sang Penciptanya, hidup secara sekuler dan hedonis. Berasumsi bahwa kehidupan dunia terpisah dari kehidupan akhirat. 

Muslim lainnya mengalami permasalah serupa disebabkan: tidak mengambil iktibar dari pengalaman seseorang; tidak dapat memetik hikmah dari begitu banyak kisah dan pengalaman hidup seseorang; tidak menggunakan kaidah berfikir yang benar; tempramental; lingkungan buruk, dan lain sebagainya … juga menjadi faktor penting seseorang terkena masalah secara berulang.

Dasar urgensi seorang muslim mempelajari agamanya, sesuai hukumnya fardhu ‘ain.

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam: “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim” (HR. Ibnu Majah).

Ilmu yang dimaksudkan di sini adalah ilmu pemahaman Islam. Sebaliknya pengetahuan lain adalah fardhu kifayah.

Dapat disimpulkan adalah berdosa bagi yang meninggalkannya, terpenting menerapkan dan mengamalkannya dalam kehidupan keseharian sebagai peribadi; berkeluarga; bermasyarakat; juga bernegara.

Sebelum menutup hayatnya, pada khutbah terakhirnya Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda, begitu banyak point-point penting terakhir sebagai amanah Beliau kepada kita yang mengaku umatnya yang telah bersyahadat. 

Pada saat itu turunlah wahyu yang terakhir kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam:

“… Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagimu agamamu, dan telah Aku cukupkan nilmat-Ku atas kamu dan telah  Aku ridhai Islam menjadi agama bagimu …” (QS. Al-Maidah [5]: 3)

.

Wallahu ‘alam bish shawab

Referensi:

https://umma.id/post/pengertian-amr-hukum-asal-benda-dan-hukum-asal-perbuatan-manusia-1312322?lang=id

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *