Pagi ini mentari menelisik masuk melalui celah bilik bambu milik Mbok Darmi, menyerbak memenuhi ruangan yang sederhana namun rapi dan terlihat bersih. Rumah mungil di tengah hutan itu adalah milik Mbok Darmi dan suaminya Pak Darman. Lansia yang tinggal di hutan jauh dari ingar bingar perkotaan. Kehidupan damai mereka temukan di dalam sana, tanpa listrik tanpa barang elektronik satupun. Namun keduanya hidup rukun dan bahagia, walaupun tak menikmati kemewahan seperti yang disuguhkan artis youtube yang semakin merajalela akhir-akhir ini. Berdua menikmati hidup bersama alam raya tanpa penghalang.

Kayu-kayu besar yang mengepung gubuk bambu di tengah hutan itu, tampak gagah namun tetap anggun dengan cabang menjuntai serta daun lebatnya. Setiap pagi buta Mbok Darmi memunguti dedaunan kering dan mengumpulkannya pada pojok an di sudut rumahnya. Pak Darman pun setiap hari pergi ke sungai atau sesekali ke hutan untuk sekedar mencari bahan makanan. Begitu damai dan romantis kehidupan si Mbok dan si Mbah pada akhir usianya. Si Mbok selalu menyambut kedatangan suaminya itu dengan senyum merekah dan tak pernah sepatah kata pun keluhan pernah keluar dari bibirnya. Apapun yang si Mbah bawa akan selalu disyukuri dan disulap menjadi sajian sederhana nan menggugah selera.

Sampai akhirnya suatu malam, terdengar deru kendaraan dan bunyi sirine yang tiba-tiba parkir tepat di depan gubuk mereka. Beberapa langkah manusia itu, kini memasuki gubuk yang berisi dua sejoli yang sedang menikmati secangkir kopi hasil hutan tadi pagi. Si Mbah memberi isyarat kepada si Mbok untuk tetap diam dan duduk di atas amben (tempat tidur terbuat dari bambu). Mbok Darmi tampak sangat paham apa maksud Mbah, doa-doa tak putus-putus mereka dengungkan dalam hati. Tangan dan kaki mereka yang renta sama sekali tak gemetar, hati mereka tenang dan kalimat ketauhidan tetap membara dalam dada. “Angkat tangan, jangan melawan dan cepat ikut dengan kami” Prajurit bermata sipit itu memberi aba-aba sembari menghunuskan senapan tepat di kening kedua renta. Penjajah memang tak pernah punya rasa welas asih, tawanan yang sudah dua dekade menikmati hidupnya dalam kedamaian itu kini menjadi korban kebengisan perampok kekayaan negara. Merdeka!

#hanyapentigrafbiasa

Sumber : https://trizniekurniawan.wordpress.com/2020/07/09/menjejak-sejarah-bersama/

0Shares

By Admin

One thought on “Jejak”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *