PERANAN LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN DALAM RUMAH TANGGA DAN MASYARAKAT LUAS

Oleh: Cut Ana Juita

Adanya laki-laki dan perempuan dalam kehidupan alam semesta merupakan sunnatullah. Laki-laki dan perempuan saling bergandengan tangan dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab baik dalam keluarga dan masyarakat. Setiap laki-laki dan perempuan akan dimintakan pertanggung jawaban oleh Allah SWT kelak di akhirat terkait tugas dan tanggung jawab yang diemban selaku khalifah di muka bumi ini.

  1. Peranan Laki-laki
    Dalam kehidupan berumah tangga, laki-laki adalah pemimpin dalam keluarga. Sebagai seorang pemimpin suami mempunyai peran dalam memimpin, menjaga dan melindungi anggota keluarga yang dipimpinnya yaitu istrinya dan anak-anaknya. seperti difirmankan oleh Allah dalam surah An-nisa’ ayat 34 yang Artinya, “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka ( laki-laki ) atas sebahagian yang lain (perempuan) dan karena mereka telah menafkahkan sebahagian dari harta mereka.”
    Sesuai dengan fitrahnya, kaum laki-laki dianugerahi oleh Allah SWT beberapa kelebihan:
    • Segi Jasmaniah :
    a. Punya kekuatan badan untuk mengangkat beban-beban yang berat dan untuk mengharungi perjalanan yang jauh
    b. Kaum laki-laki dapat bekerja dan beribadah setiap saat berbeda dengan kaum perempuan karena kaum laki-laki tidak ada masa haidh, hamil dan melahirkan serta menyusui.
    • Segi Rohaniah :
    a. Tidak mudah terpengaruh oleh perasaan/ sentimen, bahkan lebih berupaya untuk menguasai diri, menyeimbangkan pikiran dan perasaan sehingga dapat mengambil keputusan yang berimbang dan tepat.
    b. Boleh menjadi imam shalat bagi laki-laki dan perempuan
    Selain memiliki peranan mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya. Seorang laki-laki juga merupakan anggota masyarakat yang mempunyai peran sebagai abdi masyarakat dan saling berinteraksi satu sama lain.
    Seorang laki-laki selain sebagai pemimpin dalam kelurga juga terkadang menjadi pemimpin dalam membimbing dan membina masyarakat baik dalam hubungan antar manusia maupun hubungan dengan sang pencipta. Di dalam masyarakat, laki-laki bisa menjadi seorang kepala desa, kepala negara dan sebagainya.
  2. Peranan Perempuan
    Perempuan adalah makhluk yang secara fisik lemah namun Allah SWT mengkaruniai fitrah yang sangat mulia kepada kaum perempuan yaitu haidh, hamil, melahirkan dan menyusui dari semua itu tidak dimiliki oleh kaum laki-laki.
    Seorang perempuan sangat sabar dalam menjalani tugas dan tanggung jawab sebagai seorang istri dan ibu bagi anak-anaknya. Tersebut dalam satu hadist, tatkala seorang sahabat menanyakan kepada Rasulullah SAW siapa orang yang paling dimuliakan oleh Allah. Lalu Rasulullah menjawab “Ibumu. ”Kemudian siapa lagi?” Dijawab, “Ibumu.” Kemudian siapa lagi? “Ibumu.” Sesudah itu siapa lagi? “Bapakmu.”
    Jadi sampai tiga kali Rasulullah menekankan supaya mendahulukan penghormatan kepada ibu alias perempuan.
    Begitu utamanya perempuan dibanding dengan laki-laki. Namun demikian seorang perempuan (istri) dalam keluarga tetap dibawah kepemimpinan laki laki (suami).
    Seorang perempuan identik dengan rumah. Walaupun demikian tidak tertutup kemungkinan perempuan juga boleh bekerja atau menuntut ilmu di luar rumah seizin dari suaminya. Mengingat tugas seorang perempuan sebagai seorang ibu perlu wawasan dalam mendidik dan membina anggota keluarganya, maka dibutuhkan pendidkan bagi kaum perempuan guna melahirkan generasi yang cemerlang.
    Walaupun seorang perempun tidak wajib dalam mencari nafkah, namun tidak ada salahnya juga kalo ia mencari nafkah demi membantu suami dan keluarganya.
    Sebagaimana telah disinggung diatas, perempuan tidak dilarang bekerja diluar rumahnya, di perusahaan-perusahaan atau di instansi-instansi pemerintahan. Dia boleh memilih pekerjaan yang sesuai dengan kapasitas ilmu, kemampuan fisik dan mentalnya, dengan catatan bahwa ia tidak boleh mengabaikan tanggung jawabnya sebagai istri atau ibu rumah tangga.
    Saat sedang bekerja, norma-norma dalam pergaulan harus diperhatikan seperti batas pergaulan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya demi kenyamanan dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab masing-masing di tempat kerja.
    Begitulah peran laki-laki dan perempuan dalam keluarga dan masyarakat. Satu sama lain saling membantu, terkecuali pada hal-hal tertentu sesuai dengan fitrahnya.
0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *