JULID

Oleh: Rara Nuringdyah

Naon eta Julid?
Julid adalah istilah yang dipopulerkan oleh artis maju mundur syantik banyak bunga-bunga yang berjudul Syahrini. Kata ini konon berasal dari bahasa Sunda, Binjulid, yang artinya kekanak-kanakan dalam menyikapi sesuatu. Julid sendiri sering diartikan Judes Lidah.

Julid ini mah beda dengan yang namanya masukan. Juga beda jauh dengan namanya teguran. Masukan biasanya disampaikan secara baik-baik tanpa ada tendensi apapun demi kebaikan kita. Teguran biasanya disampaikan jika kita sudah melanggar garis batas tertentu yang disepakati. Sedangkan julid? Tidak ada aturannya. Bablas aja eta lidah melambai bagaikan nyiur di pantai, berbisik-bisik, Raja Klanaaaa. #nyanyik
Hari gini, dengan khalayak yang seringkali kita tak mengenal, muncullah istilah Netizen.

Lalu muncullah pula ungkapan Netizen maha benar dengan segala firmannya. Hal ini seolah-olah menjadi tiket gratis bagi orang-orang yang tidak memakai saringan tahu dalam berkata-kata untuk mengucurkan serangkai kalimat tajam setajam syyyiiilllettt (inget yaaa harus menjiai saat ngomong ini).

Tapi, acapkali orang tidak sadar jika sudah melakukan kejulidan.
Yang terjadi nih biasanya, rasa tidak suka mengaburkan rasionalisme, dan ingin mengungkapkan begitu saja. Biasanya begini ini dasarnya baper atau bawa perasaan.

Menjadi kaum sosial di zaman sekarang memang harus tangguh dan cerdas.
Tangguh karena netizen sudah mulai tidak terjaga lagi kesopanan dalam berkata. Mengapa ya? Menurut pandangan saya pribadi (boleh agak subyektif yaaaa), karena merasa ini dumay atau dunia maya yang tidak memerlukan bertatap muka secara secara langsung dengan sang calon korban julidan. Jadi ya tingkat keberaniannya dalam mengungkapkan komentar pedas yang sepedas ayam Richeese level 5 seperti losssss begitu saja tanpa ada ewuh pakewuh. Biasaaa. Kan nggak kelihatan?

Cerdas karena kita harus pinter-pinter melihat keadaan dan menyikapi dengan kondisi yang ada. Nggak perlu kepancing emosik jiwa kalau ada netizen yang nggak terima dengan apa yang kita lakukan. Selama kita yakin yang kita lakukan nggak salah dan sesuai prosedur ya untuk apa takut dijulidin. Biarkan saja.

Contoh dari saya, seumur-umur saya disiplin saja lalu dijulidin katanya terlalu keras dan tidak toleran. Giliran mencoba memberi toleransi, dilonggarin dikit disiplinnya, malah dibilang nggak tegas. Jadi maunya apaaaaa? Gemes kan?
Tidak hanya saya yang butiran debu ini. Tokoh-tokoh bernama besar saja kena imbas. Tidak hanya mbak Syahrini yang membahana, Mamah Dedeh saja juga jadi korban kejulidan. Padahal Mamah selalu siap menampung curhatan Netizen yang Budiman. Curhat ya, Mah?
Ya sudah… ya sudah…
Intinya, kita di zaman hidup bersama netizen ini harus cerdas jiwa raga. Cerdas jiwa raga berujung ke rasional. Tidak boleh baper kalau menerima kejulidan. Sabar ya, Kak. #kedip

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *