PANDEMI DAN REBAHAN

Oleh: Rara Nuringdyah

“Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan,” (QS. Al-Insyirah: 5-6).

Pada saat ini kita semua berada dalam kondisi terbatas untuk berkarya.
Ya.
Betul.
Keterbatasan luar biasa.

Pingin ngerjain ini, ada aturan ini. Pingin ngerjain itu, kepentok aturan itu. Belum lagi segala regulasi yang beragam yang harus kita patuhi untuk melakukan sesuatu.
Terutama bagi kami, pekerja seni, hal ini cukup memukul mundur kami.

Bukan hanya satu dua yang sudah mulai jual alat. Bukan hanya satu dua yang akhirnya beralih bisnis kuliner atau jualan lainnya. Bukan hanya satu dua yang akhirnya nekad menerjang batasan-batasan tersebut.

Tapi juga banyak dari kami yang tetap berkarya dengan beradaptasi ke cara yang lain. Masih ada yang tetap mengajar secara online dengan memakai teknologi yang tersedia yang berjudul zoom. Masih tetap ada yang melakukan pertunjukan live di instagram. Bahkan lalu kompetisi diadakan secara online.

Berbulan kami dicengkeram dalam beraktivitas non bermusik tanpa tahu sampai kapan itu semua akan berakhir.

Kami hanya berusaha berproses dengan segala apa yang kami punya demi idealisme dan finansial. Yang penting bergerak. Tidak berdiam. Karena bagi kami, tidak gerak = tidak ada uang masuk. Lek gak duwe duwik atene mangan opo?
Ini hanya contoh dalam berproses kami.

Yang layak dijadikan pemikiran adalah, apakah kondisi sekarang ini membiarkan anda berubah menjadi kaum rebahan yang tidak produktif didasari dengan pembenaran di rumah saja?

Dalam keterbatasan kita masih bisa berkarya, kita masih bisa berproses, masih bisa bergerak. Apakah anda mau terjebak dengan keadaan tidak bisa ngapa-ngapain. Anda tidak bisa atau anda yang tidak mau? Itu keputusan anda sendiri.

Kalau kita benar-benar mau, mau hambatan sebesar apapun kita pasti akan berusaha keras untuk melampauinya.
Ingat, Tuhan menciptakan kita, manusia, dengan akal untuk beribadah.
Tuhan tidak menciptakan manusia untuk rebahan semata.

Ada ayat yang selalu saya ingat yang pernah diucapkan teman baik saya dulu berulang ulang saat saya masih berada di awal-awal masa berproses saya yang saya pegang teguh sampai sekarang.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah diri mereka sendiri,” (QS. Ar-Ra’d:11).

Anda sendiri yang memutuskan untuk menjadi seperti apa anda nantinya. Anda sendiri yang bekerja berproses menjalaninya. Tapi kalau anda memutuskan berada dalam kenyamanan rebahan itu juga terserah anda. Hak anda kok untuk memilih. Anda menyerahkan cita-cita anda pada Pandemi atau tidak?

#senyummanis

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *